Aku Suka, Dia Tidak: Sebuah Titik Berangkat Apresiasi Film

Empat sutradara duduk di satu sudut kafe tak jauh dari sebuah bioskop. Mereka baru selesai menonton film Darren Aronofsky, Black Swan. Di saat mereka mulai menjelaskan kenapa mereka suka/tidak suka film itu, kita menguping percakapan mereka.

Sutradara 1: Beda sekali besutan Aronofsky ini. Jauh berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Realis dan kelam. Di film-film sebelumnya selalu ada secercah harapan, sebuah tujuan akhir yang seakan digapai oleh karakter-karakternya, seperti di The Fountain dan Requiem for A Dream.

Sutradara 2: Dari karya-karyanya justru The Wrestler yang berbeda. Mungkin satu-satunya film Aronofsky yang tanpa tedeng-aling. Tanpa ada yang muluk-muluk tentang harapan dsb. Black Swan, saya kira masih masuk dalam kelompok film sebelumnya seperti Pi, Requiem for A Dream dan The Fountain. Tapi aku suka sekali film ini. Aronofsky, menurut aku, berhasil menangkap mood sebuah dunia yang tercerabut itu.

Sutradara 3: Sama sekali tak suka film ini. Di genre drama suspense seperti ini, saya kira Aronofsky tidak berhasil membuat sebuah terobosan yang dahsyat. Apa hebatnya kalau dibanding dengan Psycho atau besutan Roman Polanski… film apa itu…Rosemary’s Baby. Atau lebih spesifik soal split-personality, dibanding dengan film Sybil. Kalau mau bicara ending yang bikin histeris, The Crying Game baru dahysat. Film ini endingnya ya biasalah. Hollywood. Yang jahat menang. Tapi yang baik tidak juga kalah karena mengalah.

Sutradara 4: Saya kira, kita bisa menyukai sebuah film tanpa harus menjustifikasinya secara keseluruhan. Terlebih kalau kita berbicara tentang film genre. Pasti ada sesuatu yang bisa kita petik dari sebuah film. Baik yang menyenangkan ataupun yang membuat kita kesal. Jadi tergantung apa yang ingin kita ambil dari film itu.

Empat sutradara. Masing-masing telah memberikan alasan masing-masing tentang sebuah film yang mereka baru tonton. Apakah komentar Sutradara 4 menjadi sebuah acuan bagi kita untuk mengapresiasi sebuah film? Kalau demikian, Sutradara 4 tidak beda dengan Sutrada 1 dan 2. Karena baik Sutradara 1 dan 2, masing-masing mengambil sesuatu dari besutan Aronofski untuk menjadi pijakan kesukaan mereka, yakni teknik pengarahan atau aspek-aspek tertentu dari karyanya. Sutradara 3 agak berbeda, ia membandingkan Black Swan dengan film-film lain untuk mendapat sebuah tolok ukur tafsiran. Sutradara 3 boleh kita sebut sebagai seorang penafsir yang lebih objektif. Karena ia menarik diri dari pengaruh karya Aronofski dan dari sebuah posisi berjarak menilai karyanya. Bila kita menolak metode Sutradara 1, 2 dan 4 sebagai sebuah pendekatan relatifis, bisakah kita pergunakan metode Sutradara 3 sebagai sebuah strategi untuk mengapresiasi sebuah film? Saya kira, pasti banyak yang beranggapan bahwa tentu saja bisa, terutama kalau kita berbicara tentang sebuah film bergenre. Namun tulisan kecil ini akan mencoba menjelaskan kenapa metode ini mustahil bisa dipergunakan dalam sebuah apresiasi yang sejati untuk sebuah karya film. Bila kita tidak bisa mengapresiasi sebuah film dari keping-kepingnya (karena cara demikian seperti yang disebut oleh Alain Badiou sebagai sebuah penilaian diacritic, terjerat dalam kerangka karya itu sendiri) dan juga tidak bisa mengkonstitusikan sebuah tafsiran lewat studi banding di kategorinya ataupun dengan memilah-milah setiap aspek film, kemanakah kita harus membidik untuk mendapatkan sebuah supraposisi?

Film disebut Alain Badiou sebagai sebuah seni yang tidak murni. Film baginya terkonstitusi lewat subtraksi dari berbagai seni lainnya: musik, bahasa dan imaji. Oleh karena itu, gerakan dalam sebuah film berfungsi untuk membersihkan impuritas dalam dirinya, yakni lewat penyuntingan, pengambilan gambar berulang dan pemaduan suara. Pembersihan ini, atau subtraksi ini, membuka ruang bagi sebuah Ide untuk melintasinya. Keberhasilan sebuah film bagi Badiou adalah ketika pembersihan itu berhasil menguak sebuah Ide yang begitu memikat sehingga sebagai penonton kita hanyut dalam sebuah alam nostalgia. Oleh karena itu, Badiou menyebut film sebagai sebuah medium yang selalu sudah berlalu. Nostalgia itu tidak berada dalam tubuh film, tidak juga dalam setiap frame, tapi dari sebuah subtraksi gerakan palsu, yang mengantar kita ke sebuah tempat jauh dari tempat menonton.

Impuritas yang ditafsir oleh Badiou dipertegas oleh Jacques Ranciere sebagai sebuah kebuntuan antara yang terlihat dan yang terkatakan. Baik yang terlihat maupun yang terkatakan bagi Ranciere masing-masing punya keterbatasan. Sebuah imaji yang kuat bisa begitu mendominasi sehingga ia membungkam semua kata yang mencoba mengungkapnya. Sebaliknya narasi terkait satu dengan lain membelenggunya dalam sebuah logika spatio-temporal yang tidak memungkinnya bebas bersentuhan dengan kesejatian yang terlihat.

Setiap kali seorang aktor mengucapkan sesuatu, kata-katanya tidak serta merta menyatu dengan apa yang ada di ruang terlihat, tetapi selalu mengejar pemaparan yang terlihat. Walau demikian, Ranciere menyatakan bahwa film paling dekat dengan sebuah novel. Kenapa ia mengatakan ini? Dari sudut yang agak berbeda, namun intinya hampir sama seperti Badiou dan teori subtraksinya, Ranciere memositkan bahwa makna dalam sebuah film terkuak justru lewat sebuah operasi imanen dalam kebuntuan-kebuntuan ini. Bila sebuah novel lewat bahasa bisa mengungkapkan apa yang tak terlihat menjadi terlihat, maka film menguak sebuah makna lewat sebuah titik kebuntuan dalam ketakterkatakan dari yang terlihat dan yang terkatakan. Intinya, dengan membidik sebuah kamera pada sebuah objek dan lewat sebuah operasi imanen beranjak dari situasi itu memaksakan sebuah makna terkuak dari kebisuan. Atau lewat sebuah dialog yang terucap menghadirkan alteritas dari yang terlihat.

Lewat paparan di atas, kita bisa lantas menyimpulkan bahwa sebuah film terkonstitusi bukan lewat sebuah struktur narasi ataupun kolase visual, tapi lewat sebuah operasi yang beranjak dari sebuah kebuntuan antara bahasa dan imaji. Atau istilah Badiou, lewat sebuah gerakan palsu, sebuah subtraksi. Di lokus kebuntuan inilah sebuah posibilitas tercipta. Walaupun setiap karya film dalam bentuk jadinya bisa dikategorikan atau berelasi dengan karya-karya lain dalam sebuah keluarga arche, ia tidak bisa ‘dipisahkan’ dari dirinya sendiri. Ia hanya ‘terpisahkan’ dari dirinya lewat subtraksi penonton yang bisa menguakkan operasi-operasi imanen di dalamnya. Oleh karena itu, sebuah film lebih tepat disebut sebagai sebuah perbedaan beresonasi daripada sebuah keutuhan per unit.

Keterkaitannya dengan film-film lain hanya sebatas referensi, sama sekali tak berhubungan dengan konstruk dirinya. Dirinya seperti sebuah pernyataan verbal dalam formasi diskursif Michel Foucault. ‘Ia sendirinya bukan sebuah unit, tapi sebuah fungsi yang melintasi domain berbagai struktur dan unitas-unitas yang mungkin, dan yang menguakkan mereka, dengan muatan konkret, dalam waktu dan ruang.’

Badiou menyebut bahwa ada tiga metode menilai sebuah film. Satu, menilai film secara suka dan tidak suka, seperti menafsir cuaca. Ini dianggapnya sebuah penilaian tidak jelas (indistinct judgement). Dua, lewat metode penilaian diacritic (penilaian kritis memilah setiap aspek film dari narasi, penokohan hingga musik) Tiga, penilaian aksiomatis. Yang pertama baginya sebuah penilaian relatifis, karena tidak melekatkan sang pencipta pada lencananya (emblem). Sedangkan penilaian diacritic tidak membawa sebuah nilai berarti karena berkisar dalam jeratan sirkular film (teknik, tema narasi, penokohan dll), bukan kesejatiannya. Pilihan ketiga, sebagai penawarannya, adalah sebuah komiten yang tidak peduli pada penilaian tapi lebih pada efek-efek dari dampak pikiran sebuah film. Baginya formalitas film itu sendiri hanya direferensi bila ia mengupas modus Ide yang melintas dalam film sampai ke sentuhannya dan asalinya dalam impuritas. “Konsekwensinya”, aku Badiou, “adalah kemungkinan untuk memikirkan puisi-pikiran yang melintas sebuah Ide – bukan sebagai sebuah pencacahan namun sebuah pemahaman melalui kehilangan.” Dengan demikian sebuah film, menurutnya, bisa diselamatkan dari ‘kelupaan dalam kepuasan”.

Percakapan keempat sutradara di atas adalah sebuah titik berangkat menuju sebuah apresiasi film. Dari rongga kesenjangan percakapan mereka, setiap subtraksi menampilkan sebuah lokus dan setiap seruan sebuah topologi. Ketidakserupaan (dissemblance) dan kesenjangan (discrepancy) selalu terbesit dalam sebuah pergelutan seni. Mereka disebut oleh Lacan sebagai ‘penanda-penanda ganjil’ dalam tubuh jouissance. Keberadaan jejak-jejak ini memungkinkan sebuah perhitungan satu per satu bisa dilakukan kembali di persimpangan kebuntuan yang tak terhingga.

Tulisan ini dimuat di majalah film Moviegoers edisi April 2011

One thought on “Aku Suka, Dia Tidak: Sebuah Titik Berangkat Apresiasi Film

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>