Author Archives: Richard Oh

About Richard Oh

Educating yourself not to leave traces is a moment-by-moment war against yourself, solely to prove that you could, if you choose, become a sage ... E.M. CIORAN

Ada Apa Dengan Cinta: sebuah sketsa prosedur kebenaran cinta Alain Badiou

Wednesday, July 1, 2009

Dalam eksplorasi filsafatnya, Badiou menelisik empat prosedur kebenaran: Sains, Seni, Politik dan Cinta. Kenapa Badiou memilih kategori-kategori ini? Karena baginya inilah subjek-subjek paling banal dalam kehidupan manusia, di mana sistem pemikiran kemajemukan teori himpunannya bisa menata ulang pemikiran lama. Dia merasa para pemikir sejak era klasik Junani hingga postmodern selalu menafsirkan finitas sebagai sebuah kondisi nyata tak terelakkan dengan matinya Satu Absolut di cakrawala, atau mereka menafsirkan Satu Ideal sebagai sebuah loncatan, atau seperti Lacan sebuah batasan yang tak terakses namun bisa dimanfaatkan untuk mengdefinisi finitas. Dia merasa yang pertama melululantakan filsafat menjadi serpihan pemikiran di pinggir-pinggir, yang terakhir tidak sungguh-sungguh menelaah infinitas. Semua usahanya untuk mengembalikan filsafat ke sebuah jalur yang sistematis dan klasik dilakukan supaya infinitas bukan sebuah Satu Absolut yang diidolakan, tetapi sebuah banalitas kehidupan. Dia merasa hanya dengan demikian, manusia bisa terbebas dari finitas untuk mengeksplorasi kemajemukan murni. Untuk bisa mencapai tujuannya ini, Badiou memerlukan angka, karena hanya melalui angka, being bisa melintas dan menggapai infinitas.

Dengan latar seperti ini, Badiou memilih Cinta sebagai salah satu prosedur kebenarannya. Cinta paling rawan penafsiran. Ia dipandang kalau bukan dari sudut hasrat, maka dari struktur moralitas. Cinta bagi Badiou adalah sebuah logika murni. Ia mengutip dari penyair Alberto Caeiro – salah satu heteronym penulis Portugal, Fernando Pessoa; nama samaran lainnya Alvaro de Campos, Ricardo Reis — bahwa Bercinta adalah Berpikir. Dan dia juga ingin membuktikan bahwa Cinta adalah sebuah elemen utama yang mengaktifkan prosedur generik lainnya.

Prosedur kebenaran Cinta Badiou adalah sebuah pembongkaran ulang pemikiran Jacques Lacan. Bagi Badiou, penjelasan Lacan bahwa untuk setiap x, Φ/x, merujuk kembali ke pemikiran keterbatasan finitas. Konsep Lacan adalah sebagai berikut: lelaki dan perempuan tidak bisa menyatu karena lelaki pada dasarnya adalah unsur untuk semua (for all, Φ), sedangkan perempuan, karena, ia merupakan lubang dari keseluruhan, adalah tidak semua (not all, -Φ). Perempuan dalam hal ini, sekaligus manusia serba kekurangan (destitute) dan serba ada (universal). Ditafsir demikian maka perempuan di satu sisi adalah finite, di sisi lain infinite. Kekurangan perempuan (sebagai lubang untuk keseluruhan) mengakibatkan sebuah faille, atau keretakan dalam realitas. Keretakan ini, menurut Lacan, kemudian terkompensasi oleh simbol falus lelaki, Φ. Pemikiran ini, menurut Badiou, tidak sempurna karena Lacan menyodorkan konsep infinite (yaitu crack dalam realitas) sebagai sebuah perbatasan yang tidak bisa diakses, inaccessible. Lacan berkesimpulan secara keliru bahwa bilangan Dua adalah satu-satunya bilangan yang tidak bisa diseberangi oleh 1. Dia menyalahtafsirkan bilangan 1 sebagai bilangan fondasi yang tak utuh karena ia beranjak dari bilangan kosong, sedangkan bilangan seterusnya seperti 3 bisa diperoleh dengan menambahkan satu: 2+1. Kekeliruan penafsiran Lacan tentang Aksiom Fondasi terletak pada pemahaman bilangan 0, yang oleh Badiou dipertegas sebagai sebuah bilangan tanpa elemen yang terkandung di setiap bilangan ordinal lainnya, dan oleh Lacan sebagai sebuah elemen yang memulaikan serangkai angka dengan tambahan satu, yakni dari nol ditambah satu maka jadi satu. Konsep infinitas Lacan terkesan sebuah dalih mempergunakan keberadaan infinitas untuk menjelaskan finitas. Karena sebenarnya kekeliruan Lacan bisa dikoreksi dengan mudah bila kita menambahkan 1 dengan 1 untuk memperoleh 2. Bilangan Dua Lacan dengan demikian bukanlah bilangan ordinal infinite yang seperti ditafsirnya, tetapi ia sebuah bilangan penuh finitas.

Penolakan Pada Tafsiran Umum Tentang Cinta
Alain Badiou menolak:

1. Bahwa Cinta merupakan peleburan Dua menjadi Satu. Karena kesenjangan dalam koneksi seksual antara lelaki dan perempuan.
2. Bahwa Cinta adalah penyembahan yang Sama pada altar liyan (yang lain). Karena kesadaran terhadap liyan (yang lain) tidak memungkinkan penguakan Dua.
3. Bahwa Cinta adalah sebuah kompensasi yang mengisi kekurangan (lack atau faille atau crack), sehingga Cinta sering ditafsir sebagai efek samping Nafsu.

Kesenjangan

Menafsir ulang pemikiran Lacan tentang kesenjangan koneksi seksual antara lelaki dan perempuan, Badiou menawarkan sebuah pendekatan baru yang menyatakan bahwa Cinta adalah sebuah produksi bilangan Dua. Bilangan ini bukan sebuah penjumlahan 1+1=2, tetapi adalah dua pertanda dalam Arena Cinta: dalam Arena Cinta ada dua posisi pengalaman. Karena bilangan 1 dalam Arena Cinta tidak bisa ditambahkan dengan 1 yang lain, maka Badiou menyatakan bahwa dalam Arena Cinta tiada posisi ketiga. Kecuali kalau kita ingin berspekulasi adanya malaikat, dalam hal ini sang malaikat hanya bisa hadir untuk mengumumkan kejadian Cinta itu. Jikalau tidak ada posisi ketiga, maka bagaimana kita bisa membahas tentang Cinta? Badiou menjawab karena adanya kejadian itu dan bermulanya sebuah prosedur kebenaran, yang kemudian secara retrogresi kita bisa telusuri kembali kejadian itu.

Dalam penjelasan Badiou terbesit teorem Aksiom Set Kosong dan Aksiom Set Infinite. Sang lelaki, yang seperti dijelaskan oleh Lacan, sebagai untuk-semua (for all) adalah bilangan finite, yang bisa, melalui proses pengambilan selangkah lagi, disuksesi ke ordinal berikut dengan sebuah rumus S, S(W), yakni 0, (0), (0, (0)), dan (0, (0), (0,(0))), sedangkan sang perempuan sebagai angka infinite, atau limit ordinal, ω, yang melintas dari finite ke infinite melalui sebuah rumus minimalitas: yakni bila -p maka ada elemen terkecil yang p. Fungsi minimalitas ini dipinjam Badiou dari konsep atomistic Aristotle, yang menyatakan bahwa negasi universal mengimplikasikan sebuah afirmasi pada yang particular. Sebagai contoh: tidak semua manusia mortal, mengimplikasikan bahwa ada beberapa manusia yang immortal. Sang malaikat bisa diasumsikan sebagai singleton dari singleton (0), maka being dari bilangan ini, ((0)), merupakan sebuah set yang sama sekali berbeda dengan set sebelumnya, karena langkah awalnya adalah void, yang tidak punya elemen dan bilangan 1 mematerialisasikan void. Dengan demikian, sang malaikat sama sekali tidak punya elemen, ia tidak punya kapasitas untuk berefleksi, maka ia hanya hadir sebagai sebuah pengumuman bermulanya sebuah kejadian Cinta.

Hal lain yang tercipta karena dua posisi pengalaman dalam Arena Cinta ini adalah ketidakmungkinan bagi kedua individu untuk saling memahami. Badiou tidak setuju dengan penjelasan para phenomenologist yang menyatakan bahwa Cinta adalah kesadaran akan liyan sebagai liyan. Dengan menempatkan liyan sebagai objek kesadaran tentunya memosisikan para phenomenologist pada salah satu pilihan ini: melemahkan liyan supaya ia bisa dijadikan diri, atau melemahkan diri untuk menjadi liyan. Yang pertama sadisme, yang terakhir masochisme. Konsekwen ini tidak terhindarkan, karena premiss utamanya berangkat dari kesadaran dalam subjek. Badiou merasa kedua pilihan ini tidak memungkinkan terciptanya sebuah multiplisitas murni.

Konsep filsafat Badiou menegaskan bahwa subjek itu senantiasa adalah multiple daripada multiples, berdasarkan teori himpunan yang menyatakan bahwa setiap bilangan ordinal terbentuk dari satu komponen unsur lain, yakni nol. Bilangan finite semuanya bermula dari 0, atau void, yang tidak punya elemen. Ia kemudian dimaterialisasi menjadi singleton (0), satu. Ordinal finite ini, karena punya elemen maksimal maka ia bisa dimaksimalkan ke bilangan berikut di mana kalau ada satu term yang mendominan. Berbeda dengan bilangan finite, bilangan infinite tidak punya elemen maksimal maka antara dua bilangan infinite terdapat satu gap: bilangan finite bisa menyeberang ke limit ordinal, ω, yang merupakan pertanda pertama infinitas, melalui berbagai fungsi: yakni prinsip minimalitas atau logika pengulangan (recurrence reasoning): bila ada ordinal bukan-P, maka, karena bukan -P adalah terkecil yang memilik properti bukan-P, semua yang lebih kecil darinya memiliki properti P dan melalui prinsip penggabungan (union): L=∪L, atau w1 ∈ w2 ∈ L. Semua ini bisa terjadi karena prinsip utama teori himpunan adalah kepemilikan (belonging) dan inklusi (inclusion).

Dengan pemikiran seperti ini, maka kebenaran adalah sexuated, atau berkelamin. Apa yang dialami oleh lelaki dan perempuan selalu berbeda. Karena setiap ordinal terdiri dari satu komponen elemen yang berbeda dengannya. Bila pengalaman lelaki adalah: kita berdua dan tidak ada satu, maka pengalaman perempuan: kita berdua atau tidak sama sekali.

Menghadapi posisi yang boleh dikatakan terhalang seperti ini, bagaimana dua manusia bisa bersama? Mereka bersama karena fungsi H(x), bahwa mereka bersama dalam satu set kemanusiaan. Bagaimana mereka bisa menjalankan kehidupan dalam Cinta? Melalui sebuah proses, yang tidak lain adalah seperangkat fungsi matematika, f(x), yaitu perjalanan sebagai materi kehidupan, maka f(x) fungsi menyubtraksi dari materi, melalui pengumpulan R(x), pengumpulan elemen terkecil yang kemudian rekonstitusi keutuhan ordinal berikut. Melalui fungsi-fungsi ini maka Dua menjalani kehidupan bersama. Bersatu dalam sebuah kejadian Cinta yang diawali oleh sebuah deklarasi cinta, sebuah event, dan melewati proses ini dengan keyakinan akan kebenaran Cinta di cakrawala. Langkah yang diambil mereka mendefinisikan posisi masing-masing, dan mengantisipasi kebenaran, merujukkan mereka ke pengetahuan tentang diri masing-masing.
Fungsi-fungsi ini mencakup:

1. Fungsi Pengembaraan (wandering), ketidakdugaan dan perjalanan tanpa rencana. Fungsi ini menampilkan presentasi Dua pada infinitas Dunia.
2. Fungsi Immobilitas menjaga supaya penamaan kejadian selalu terjaga sehingga ia tidak tenggelam oleh kejadian itu sendiri.
3. Fungsi Dorongan Imperatif: selalu berlanjut walaupun terpisah. Ketidakhadiran mengukuhkan sebuah kontinuitas.
4. Fungsi Naratif, yang, dengan pengumpulan catatan, menandai momen-momen pengembaraan.

Fungsi pertama dan keempat biasanya fungsi-fungsi yang dijalankan oleh perempuan.

Cinta dan Nafsu

Cinta pada awalnya bermula dari sebuah perjumpaan (encounter). Ia terwujud menjadi sebuah kejadian, event, melalui deklarasi, ketika salah satu dari pasangan membuat deklarasi: Aku Mencintai Kamu. Kedua individu dalam Arena Cinta pada awalnya tampil sebagai dua tubuh, kemudian melalui penamaan (naming atau Count-as-One), yakni deklarasi itu, dan oleh karena perbedaan jenis kelamin, menjadi pertanda (mark).

Karena tidak ada posisi ketiga, dan tidak punya bahasa untuk mengungkap hubungan mereka (karena mereka terperangkap dalam sebuah kejadian yang sama sekali tidak punya kaitan dengan apa yang ada), maka mereka hanya merupakan dua pertanda, yang tidak bisa dijumlahkan. Tidak mengherankan bahwa dalam sebuah hubungan, kita sering mendengarkan keluhan, “Ah, kamu tidak paham aku!”

Dua yang kita berikan kepada mereka hanyalah bilangan simbolik. Seperti orang luar memandang mereka sebagai pasangan, pengetahuan eksternal ini sama sekali tidak mengaruhi atau pun relevan dengan pengalaman dua pertanda di dalam Arena Cinta: karena dalam Arena Cinta hanya ada dua posisi, dan tidak ada posisi ketiga.

Cinta mengaktifkan dua tubuh itu dengan menandainya. Beda dengan nafsu yang selalu ingin menggapai Satu dalam bentuk sebuah objek, Cinta menandai Dua dengan melepaskan objek. Maka tanpa cinta, semua hubungan bagi Badiou sifatnya masturbasi. Badiou menegaskan kembali bahwa Cinta terwujud dari sebuah situasi multiple murni yang menjadikan dua pertanda subjek sejati dalam sebuah prosedur kebenaran.

Walaupun pasca kejadian Cinta, dua tubuh itu menjadi subjek yang ditandai, dalam perjalanan kebenaran Cinta mereka akan selalu terpisah oleh kesenjangan-kesenjangan yang disebut di atas. Namun melalui fungsi-fungsi kebenaran, mereka akan berjalan terus dengan sebuah keyakinan akan satu kebenaran di cakrawala. Dalam kesenjangan ini, mereka tertaut dalam sebuah fungsi kemanusiaan, yaitu H(x), terlepas dari itu, seperti yang digambarkan oleh Badiou, dengan mengutip dari Sodom dan Gemorrah, mereka akan mati di sisi masing-masing. Cinta, kata Badiou, adalah sebilah pisau. Mencintai dengan baik adalah memahami dengan buruk.

Sebuah makalah yang dipresentasi di sebuah kelas filsafat, Universitas Indonesia 2009.

Kesetaraan dan Keabadian: Dua Pandangan Multiplisitas Yang Saling Menganyami Namun Tidak Bisa Disamakan Antara Deleuze dan Badiou

Abstrak:

Baik Deleuze maupun Badiou memandang multiplisitas sebagai sebuah persoalan yang belum tertuntaskan sejak Parmenides. Penelusuran masing-masing filsuf mengantar filsafat mutakhir ke sebuah titik bercabang antara intensitas sebuah kehidupan nomadis dan aksioma formalis subjektif.

Persoalan Satu dan Banyak (One and Many) berawal dari sebuah diskursus antara Parmenides dan Socrates yang dicatat oleh Plato dalam sebuah dialog bertajuk Parmenides. Dialog pendek sekitar 36 halaman ini telah memusingkan banyak pemikir dan menjadi katalis berbagai tafsiran, namun Deleuze dan Badiou merasa persoalan ini belum dituntaskan.

Dalam dialog itu, Parmenides, yang saat itu mendekati umur 70 dan Socrates muda yang dianggapnya masih ‘kurang’ saksama dalam pejelajahan filsafat, ‘menceramahinya’ di depan Zeno dan Aristoteles. Ikthisar dialog ini adalah sebagai berikut: bila Satu ada, maka ia juga merupakan satu bagian dari banyak. Dan bila ia berada di antara banyak maka ia sekaligus Banyak dan Satu. Bila ia ada, maka ia tidak bisa berada; kalau ia ada maka ia tidak bisa sekaligus ada dan tiada, karena begitu ia ada ia akan terangkum dalam banyak. Sebaliknya, bila Satu tidak ada, maka banyak tidak bisa diperhitungkan, karena begitu banyak dihitung maka Satu akan selalu ada supaya banyak bisa berada. Pada akhir dialog yang memusingkan ini, Parmenides menyimpulkan: Maka, jikalau Satu tiada, yang lain tiada, dan tidak juga bisa dibayangkan keberadaannya, satu ataupun banyak.

Tidak juga, bila satu tiada, yang lain bisa berada, atau tampil serupa atau tidak serupa, atau sama atau beda, atau bersentuhan atau terpisah, dan seterusnya dengan segala karakteristik lain yang telah kita kupaskan sepertinya dimiliki oleh mereka.

Dengan demikian, secara ringkas, kita boleh menyimpulkan: Bila tiada satu, tiada apapun sama sekali.

Pada kesimpulan ini kita bisa tambahkan. Bahwa terasa, lepas dari ada atau tiadanya satu, baik satu dan yang lain, serupa ataupun tidak serupa, berada dan tidak berada, dan keberadaannya tampil dan tidak tampil, dalam segala hal dan gaya, berkaitan dengan mereka sendiri dan antar satu dengan yang lain. Senantiasa tak terabaikan.

Sebuah kesimpulan yang tidak memberikan pembenaran pasti pada salah satu posisi antara Satu dan Banyak. Para peneliti bertafsir bahwa seperti kecenderungannya dalam berfilsafat, Plato tidak ingin berpihak pada pendiriannya sendiri, namun ia memilih memositkan pemikirannya agar ia bisa diruntuh oleh pemikir-pemikir kemudian. Dua jalur penjelajahan dengan demikian dibuka oleh Plato untuk ditelusuri.

Hegel menafsirkan Keseluruhan (The Whole) sebagai sebuah kebenaran mutlak. Keseluruhan adalah sebuah penguakan-diri (self-unfolding), bukan sebuah kesatuan-eksternal bagi seorang subjek. Terbesit di dalam Keseluruhan adalah konsepnya sendiri. Memikirkan Keseluruhan berarti mengefektuasikan Keseluruhan itu sendiri. Dengan demikian, totalitas sebagai perwujudan diri, bagi Hegel, adalah sebuah penyatuan dengan yang Sejati (True).

Kant menggantikan prinsip kemestian rujukan sebuah objek pada subjek dalam pemikiran empirisme dengan sebuah gagasan keharmonisan antara subjek dan objek. Objek-objek fenomena bukanlah penampilan, dan juga bukan produk-produk dari kegiatan manusia. Hanya melalui metode transcendental, akal spekulatif, yang terdiri dari konsep-konsep a priori seperti pemahaman, imajinasi, dan logika, objek-objek fenomena bisa dilegislasikan dan disintesiskan menjadi ide dan pengetahuan. Dengan demikian, objek-objek fenomena bisa berkoresponden dengan Ide, dan Ide dengan objek-objek fenomena. Korespondensi ini tentunya tidak disebabkan oleh sebuah subjeksi mutlak tetapi sebuah penyatuan yang tak pasti (indeterminate), seperti sebuah pengandaian atau postulat, karena Akal tidak melegislasikan objek-objek fenomena yang bergerak dalam hukum alam yang mandiri. Bagi Kant, sebuah objek adalah hasil dari sebuah operasi sintesis kesadaran.

Bagaimana Deleuze dan Badiou menanggapi persoalan Satu dan Banyak? Apa rujukan-rujukan mereka yang sekaligus mengayami aliran pemikiran masing-masing dan membedakannya?

Deleuze mengambil dari Duns Scotus (seorang pendeta Katolik, filsuf pertengahan abad tinggi) konsep keberadaan tanpa ambigu (univocity of being) dan singularitas individu (haeccity), dari Hume, empirisme transcendental, dan dari Bergson, virtualitas, dan dari Nietzsche, Pengulangan Abadi (Eternal Return), Lewis Carroll, makna dan nonsens, dan dari matematika Albert Lautman, kemajemukan virtual, untuk membangun sebuah sistem pemikiran yang pada dasarnya menyubtraksi dari multiplisitas dan mengindekskan sebuah kehidupan singular yang imanen.

Dua anasir pemikiran Duns Scotus diapropriasi oleh Deleuze untuk membangun sistemnya: univocity of being (keberadaan tanpa ambigu) dan haeccity (properti singularitas entitas) sebagai fitur individuasi yang terbesit dalam setiap individu. Konsep Keberadaan Tanpa Ambigu (univocity of being) yang diperkenalkan oleh Duns Scotus memositkan bahwa keberadaan, sebagai sebuah pemikiran tanpa ambigu, adalah objek pertama intelek. Keberadaan sendiri adalah sebuah transcendental, begitu juga atribut-atribut keberadaan seperti satu, sejati dan baik, yang bergerak selaras (coextensive) dengan keberadaan, namun masing-masing menambahkan sesuatu padanya. Doktrin keberadaan tanpa ambigu (univocity of being) Duns Scotus mengimplikasikan bahwa tiada perbedaan antara esensi dan eksistensi. Duns Scotus juga menekankan bahwa kita mestinya tidak membuat perbedaan apakah sesuatu eksis dan apa ia sebenarnya, karena pada dasarnya kita tidak mengetahui sesuatu itu eksis, kecuali kita mempunyai satu konsep tentang apa yang kita tahu pasti eksis. Prinsip individuasi Duns Scotus, menandaskan bahwa haecceity (properti singularitas entitas), sebagai sebuah kesatuan individu unik yang bertolak belakang dengan sifat alam (common nature), adalah sebuah fitur yang terbesit dalam setiap individu.

Dua anasir pemikiran Duns Scotus ini sangat memengaruhi Deleuze. Dari situ, Deleuze mengembangkannya dengan memasukkan pemikiran-pemikiran lain menjadi sebuah pemikiran tentang sebuah kehidupan dalam huruf kecil, a life, yang tak terdefinisi, namun di antara-masa, di antara-saat di sebuah bidang transcendental, di mana sebuah singularitas terjadi dan bersentuhan dengan Imanensi.
Di buku terakhirnya Pure Immanence … Essays on a life (Imanensi Murni …sebuah esei tentang sebuah kehidupan) dalam sebuah esei Imanensi: sebuah kehidupan, Deleuze menyingkap pemikiran intinya dalam beberapa linea padat ini:

Sebuah kehidupan immanen yang menyertainya dengan kejadian-kejadian dan singularitas-singularitas yang hanya diaktualisasikan pada subjek-subjek dan objek-objek. Kehidupan tanpa definisi ini dengan sendirinya tidak mempunyai saat-saat, walaupun mereka begitu dekat satu sama yang lain, tetapi hanya di antara-masa, di antara-saat; ia tidak hanya terjadi atau terjadi sesudahnya tetapi menawarkan sebuah imensitas sebuah waktu kosong di mana kita bisa melihat kejadian mendatang dan telah terjadi, dalam kemutlakan kesadaran mendadak … Singularitas-singularitas dan kejadian-kejadian yang mengkonstitusi sebuah kehidupan eksis bersamaan dengan kebetulan-kebetulan kehidupan itu yang mengkoresponden dengannya, tetapi mereka tidak dikelompokan, juga tidak didipisahkan dengan cara yang sama. Mereka berkoneksi dengan satu dan lain melalui cara yang sama sekali berbeda dengan bagaimana individu-individu berkoneksi. Bahkan bisa dikatakan sebuah kehidupan singular bisa berdiri sendiri tanpa individualitas apapun, tanpa tambahan natural apapun yang mengindividualisasikannya … Yang tak terdefinisi dengan demikian adalah penanda bukan sebuah indeterminasi empirical tetapi sebuah determinasi oleh yang imanen atau sebuah determinasi transcendental. Hal tak terdefinisi ini merupakan determinasi seseorang itu hanya karena ia adalah determinasi dari yang singular. Yang Satu bukanlah transcenden yang berisi imanensi tetapi imanen yang terbesit di dalam sebuah bidang transcendental (a transcendental field). Satu selalu adalah sebuah index dari multiplisitas: sebuah kejadian, singularitas, sebuah kehidupan … (Immanence: a Life, hal 29-30)

Momen orgiastic yang seperti digambarkan oleh Deleuze dalam kalimat ini “Kehidupan tanpa definisi ini dengan sendirinya tidak mempunyai saat-saat, walaupun mereka begitu dekat satu sama yang lain, tetapi hanya di antara-masa, di antara-saat; ia tidak hanya terjadi atau terjadi sesudahnya tetapi menawarkan sebuah imensitas sebuah waktu kosong di mana kita bisa melihat kejadian mendatang dan yang telah terjadi, dalam kemutlakan kesadaran mendadak” mengisyaratkan sebuah momen kejadian virtual di mana keberadaan di situ (being-there) lewat sebuah bidang transcendental mengakses imanensi melalui keberadaan tanpa ambigu (Univocity of Being) Dengan pernyataan ini, Deleuze menegaskan bahwa setiap individu dengan haecceity nya masing-masing memiliki sebuah potensi (atau virtualitas) yang pada saat-saat tertentu, seperti pada sebuah kejadian atau sebuah determinasi singularitas, akan mengalami momen keberadaan tanpa ambigu itu (univocity of being). Karena sebuah kehidupan imanen, a life, sarat dengan yang virtual, berpotensi, yang senantiasa dalam proses aktualisasi. Namun demikian, Deleuze menandaskan juga bahwa betapapun tak terpisahkannya antara subjek dan objek dari sebuah aktualisasi, bentang imanensi itu sendiri adalah sebuah virtualitas. Ia pada dasarnya netral. Ia seakan sebuah jembatan untuk beranjaknya sebuah posisi supernumerary. “Kejadian dan singularitas kebetulan memberi bentang itu segala virtualitasnya, seperti bentang imanensi memberikan realitas pada kejadian virtual.” Dengan demikian, aktualitas itu hanya bisa terjadi dalam situasi-situasi dan kondisi sebuah keadaan (state of affairs), a life. Ini tentu saja sebuah rujukan pada aksiom Duns Scotus ‘yang menyatakan bahwa individu eksis adalah prinsip utama untuk memahami realitas.’ Imanensi equivalennya keberadaan tanpa ambigu (univocity of being) adalah sebuah penyatuan virtual.

Apakah kejadian dan singularitas itu? Deleuze, seperti juga Badiou, ingin membangun sebuah sistem dari sebuah posisi supernumerary, yakni sebuah posisi transfinite, di mana multiplisitas murni bisa diseberangi tanpa mengandalkan kesadaran ataupun determinasi empiris, yang mereka rasakan masih merupakan hambatan bagi pemikir-pemikir sebelumnya. Untuk itu, matematika berperan penting sebagai perangkat kerja mereka. Karena merasa bahwa teori tipenya Russell dengan hieraki regresi tanpa batas –- n1→ n2→ n3→n4 — hanya menghasilkan sebuah sintesis berurutan yang sebenarnya homogenous, yakni mengembalikan pada denotasi awal, Deleuze mencari sebuah jalan alternatif yang lebih selaras dengan sistem pemikiran multiplisitasnya, yakni melalui sebuah term donasi makna yang transcendental, atau dalam lingo Badiou bilangan intervallic, Ni, dari sebuah fractal heterogeneous.

Formasi serial ini selalu terwujud secara simultan dari dalam paling sedikit dua seri lainnya. Setiap seri unik, yang term-term homogeneousnya dibedakan hanya sesuai dengan jenis atau derajat, selalu membawahi dua seri heterogeneous, yang masing-masing dikonstitusikan oleh term-term jenis atau derajat yang sama, walaupun term-term ini berbeda sifatnya dibanding dengan seri yang lain (mereka tentunya juga berbeda dalam derajat). Formasi serial dengan demikian pada esensinya multi-serial …

Hukum yang melegislasikan dua seri simultan ini adalah bahwa mereka tidak pernah setara. Yang satu menrepresentasi penanda (signifier), yang lain tertanda (signified). Tetapi berkat terminologi kita, kedua term ini memiliki makna yang spesifik. Kita menamakan penanda (signifier), tanda apa saja yang mempresentasikan dalam dirinya sebuah aspek makna (sense); kita menamakan tertanda (signified), sebaliknya, apa yang berfungsi sebagai korelasi pada aspek makna itu. Apa yang tertanda dengan demikian tidak pernah menjadi makna (sense) itu sendiri. Dalam pengertian sederhana, yang tertanda adalah konsep; dalam pengertian yang lebih extensif, yang teranda adalah apa saja yang akan didefinisikan berdasarkan perbedaan yang terbangun dari aspek makna dengannya. Dus, penanda pada dasarnya adalah kejadian sebagai atribut logika yang ideal dalam sebuah keadaan (state of affairs), dan yang tertanda adalah keadaan (state of affairs) berikut kualitas dan relasinya. Penanda juga merupakan keseluruhan proposisi, sejauh mana ia mencakup semua dimensi, denotasi, manifestasi, signifikansi dalam arti sesungguh-sungguhnya. Terakhir, penanda (signifier) adalah satu-satunya dimensi ekspresi, yang sebenarnya memiliki keistimewaan hak untuk tidak relatif dengan sebuah term mandiri, karena makna (sense) yang terungkap tidak eksis di luar pengungkapan; dan yang tertanda, dalam hal ini, adalah sebuah denotasi, manifestasi, atau bahkan signifikansi dalam arti sesungguh-sungguhnya. Dengan kata lain, yang tertanda (signified) adalah proposisi sejauh mana makna (sense), atau apa yang terungkap, berbeda dengannya. (Logic of Sense, hal 37-38)

Penguraian ini merupakan tulang punggung konsep-konsep Deleuze perihal yang sama dan berbeda (same and difference), pertalian dan kesenjangan (conjunction and disjunction) dan juga dari mana beranjak perumusannya tentang sebuah bidang transcendental (transcendental field), sebuah bidang problematis di mana sebuah potongan (coupure) akan memaksakan bermunculnya sebuah singularitas, sebuah penguakan dari atas, yang memungkinkan seorang individu bersentuhan secara virtual dengan imanensi. Tentunya pertanyaan kita berikut adalah bagaimana seorang individu dengan segala keterbatasan inderawi dan kesadarannya bisa menggapai sebuah posisi transcendental itu, yang tidak peduli (indifferent) dan netral. Deleuze, kembali merujuk pada haecceity (properti singularitas individu) Duns Scotus, via virtualitas Bergson, yang menurutnya pra-individu, meracik sebuah konsep transcendental sejati. Ia menolak pendekatan Kant, Husserl dan Sartre, yang baginya masih mempertahankan kesadaran dalam teori transcendental mereka, dan masih sebuah pseudo-netralisasi. Ia menegaskan: “Ia mesti diraih, tidak sesuai dengan kesenjangan (disjunction) kesadaran, namun sesuai dengan divisi dan pertalian (conjunction) dua kausalitas (yakni internal dan eksternal).”

Pertama-tama, singularitas-kejadian koresponden dengan seri heterogeneous yang tersusun dalam sebuah sistem bukan stabil ataupun tak stabil, tetapi lebih mendekati ‘metastabil,’ yang dianugerahi oleh sebuah energi potensial dalam mana perbedaan-perbedaan antar seri didistribusikan. (Energi potensial adalah energi sebuah kejadian murni, sedangkan bentuk-bentuk aktualisasi berkorespondensi dengan realisasi kejadian.) Kedua, singularitas memiliki sebuah proses auto-unifikasi, selalu bergerak dan digeserkan demikian rupa sehingga suatu anasir paradoksikal melintasi seri-seri itu dan membuatnya beresonasi, menyampulkan titik-titik singular yang berkorespondensi ke dalam sebuah titik aleatori dan semua emisi, semua pelemparan dadu, dalam satu lemparan. Ketiga, singularitas-singularitas dan potensial-pontensial mengerubungi permukaan. Semua terjadi di permukaan dalam sebuah kristal yang berkembang hanya di pinggiran-pinggiran. (Logic of Sense, hal 103)

Menarik untuk sejenak meneliti apa yang ditafsirkan oleh Deleuze sebagai permukaan itu. Deleuze menemukan dari Plato dan Nietzsche dua ekstremitas permukaan. Bila manusia guanya Plato tertarik pada bayangan yang terpantul dari cahaya di luar gua, manusia Nietzschean lebih tertarik pada labirin bayangan itu sendiri. Yang pertama mengejar Benar (Good) absolut yang tak tergapai-gapai, yang terakhir mengejar Kehampaan (Nothingness) yang tanpa dasar. Keduanya bagi Deleuze bukan proposisi yang menguntungkan. Yang pertama membuat kita frustasi, yang terakhir membawa kita ke lubang nihilisme tak berdasar. Maka Deleuze menempatkan operator pemikirannya pada sebuah permukaan yang digambarkannya sebagai permukaan tanpa ketinggian dan kerendahan, dan merujuk pada bidang imanensi (an immanent field) sebagai cakrawala. Bagi Deleuze, makna (sense) hanya bisa mempunyai arti sejati bila ia digali dari nonsense. Jalan di antara-antara ini jelas menjadi rujukan keyakinan Deleuze dalam sistemnya. “Terletak secara aksiomatis sebuah afirmasi definisi ketidaksetaraan (inequality, (≠)) untuk dua bilangan natural, dan di kasus-kasus lain, pada sebuah definisi positif sebuah jarak (≠≠) yang memainkan tiga term dalam sebuah relasi afirmatif seri-seri infinitas. Agar kita bisa menghargai sebuah kekuatan logika atas afirmasi jarak-jarak perbedaan positif dalam anasir murni, kita hanya perlu mempertimbangkan dua proposisi berikut: bila a ≠ b tidak memungkinkan, maka a = b’; bila a jauh dari setiap bilangan c, yang jauh dari b, maka a = b’ … karena intensitas dengan sendirinya sudah merupakan sebuah perbedaan, ia merujuk pada satu seri dari perbedaan-perbedaan lain yang diafirmasikan dengan mengafirmasikan diri … semuanya seperti sebuah penerbangan seekor elang. ” (Difference and Repetition, hlm 294)

Kembali ke penguraian tentang singularitas, Deleuze sadar sepenuhnya bahwa organisme tidak berkembang dengan cara yang sama. Setiap organisme tidak hentinya berkontraksi di ruang dalam dan ekspansi ke luar dalam sebuah proses asimilasi dan eksternalisasi. Ia berspekulasi bahwa selaput-selaput (membranes) dalam organisme membawa potensial-potensial dan membangun kembali polaritas. “Mereka menempatkan yang internal dan eksternal dalam sebuah kontak, tanpa mengindahkan jarak. Yang internal dan eksternal, kedalaman dan ketinggian, hanya punya nilai biologis melalui kontak permukaan topologikal ini.”

Karena sistemnya merujuk pada aksiom Duns Scotus yang menyatakan bahwa individu eksis, dus adanya sebuah kehidupan imanen, Deleuze mau tak mau harus memaksimalkan apa yang bisa dinetralisasikan dalam bahasa dan inderawi. Bila dalam inderawi individu, Deleuze menemukan haecceity yang pra-individu, dalam bahasa ia menemukan dari Lewis Caroll kata-kata portmanteau seperti snark, yang merupakan sebuah paduan kata snake dan ark, dan frumious, sebuah paduan kata fuming dan furious. Kata-kata portmanteau ini dalam susunannya yang membangun seri sintesis kesenjangan (disjunctive) ataupun pertalian (conjunctive) merubuhkan permukaan, melepaskan makna sehingga potensi intrinsik bahasa terkuak. Sistemnya dengan demikian memungkinkan aku-diri, sebuah keretakan (fracture) antara bahasa dan inderawi, kesadaran dan keberadaan, untuk melakukan sebuah penguakan dari bawah (internal) melalui intensitas individu dan menyambut penguakan dari atas (external) yang terjadi dalam sebuah Keberulangan Abadi (Eternal Return), dipinjamnya dari Nietzsche, sebuah proses pengulangan secara intracycle dan extracycle di mana analogi yang sama dan beda dinetralisirkan oleh sebuah negasi dalam pengulangan ketiga, menghadirkan yang Benar (Good), dalam sebuah kontak virtual beradaan tanpa ambigu (univocity of being).

Bagi Badiou, penafsiran tentang multiplisitas tidak memungkinkan adanya Keseluruhan, dalam bentuk apa pun. Ia memproposisikan sebagai berikut: Keseluruhan hanya bisa dipositkan seandainya keberadaan bisa memperhitungkan keberadaannya dalam keseluruhan. Namun dalam multiplisitas berada dua kelompok multiple: yang reflexive dan non-reflexive. Yang pertama bisa memperhitungkan keberadaan dalam keseluruhan, sedangkan yang kedua, seperti sebuah pir (buah pear) dalam keranjang, tidak bisa melakukan itu. Multiple non-reflexive, walaupun ia tidak bisa memperhitungkan keberadaannya dalam keseluruhan, mempresentasikan diri dalam keseluruhan. Bila multiple ini mempresentasikan diri dalam keseluruhan, maka mereka bisa ditafsirkan sebagai reflexive, karena bisa diperhitungkan sebagai bagian dari keseluruhan, padahal mereka sebenarnya non-reflexive. Oleh karena itu, multiple non-reflexive sekaligus reflexive dan non-reflexive, tentu saja ini tidak konsisten; inkonsistensi ini memartisikan Keseluruhan menjadi dua. Maka kita mesti mengasumsikan bahwa multiple non-reflexive tak punya anasir, yakni void. Maka Keseluruhan (Whole) tiada. Dengan derivasi pemikiran seperti ini maka sebuah pemikiran termediasi tentang keberadaan multiple bisa dimulai, yakni dari sebuah titik kekosongan, void, di mana identitas sebuah multiple dapat dipertimbangkan dari posisi komposisinya sendiri, sebuah posisi transcendental.

“Sebuah multiple singular hanya bisa dipikirkan sejauh mana kita bisa mendeterminasi komposisinya (yakni semua anasir yang dimiliknya). Multiple yang tidak memiliki anasir dengan demikian didefinisikan sebagai Kosong, Void. Multiple-multiple lainnya hanya bisa dideterminasi secara mediasi, dengan mempertimbangkan sumber anasir-anasirnya. Dengan demikian, kebisaan mereka dipikirkan mengimplikasikan paling tidak satu multiple dideterminasi dalam pikiran sebelum ‘mereka’.” (Logics of Worlds, hal 113)

Karena tiada keseluruhan, dan konsep semesta inkonsisten, maka tiada prosedur yang sama yang bisa dipergunakan untuk indentifikasi dan diferensiasi apapun yang ada. Keberadaan multiple memasuki sebuah komposisi akan multiple yang lain tanpa bisa berlipat kembali pada yang singular (the Other). Semua identifikasi dan relasi multiple adalah lokal. Lokasi ini, digambarkan Badiou sebagai dunia, adalah tempat di mana operasi aksioma multiple dilakukan, di mana sebuah keberadaan dijamin keberadaannya dan menamakan sebuah titik lain dalam tempat itu. Di antara dua titik inilah terletak sebuah pergerakan operasi, dengan tempat itu (atau dunia) sebagai latar.

“Setiap penampilan dengan demikian berarti sebuah pemindahan dunia; setelah itu, dunia itu menregulasikan secara logis apa yang tampil di dalamnya qua keberadaan di situ (being-there)” (Logics of Worlds, hal 116) Di sini, Badiou mengisyaratkan dua prosedur yang berbeda untuk onto-logi (Being) dan onto-logi (Beings). Bila onto-logi (Being) transcendentalnya adalah prinisip minimalitas dalam aksioma penyatuan (axiom of unions), yakni melalui pendempetan bilangan transitif ordinal pada limit ordinal (ω), batas infinitas pertama, melalui sebuah penggabungan, maka transcendental onto-logi (Beings) adalah sebuah pengindeksan intensitas penampilan dan functor transcendental dipergunakan untuk memetakan titik ke titik dalam sebuah topologi. Penampilan, dengan demikian, bisa dimaknakan sebagai berikut:

a. Membedakan dari diri. Keberadaan di situ (being-there) tidak ‘sama’ seperti keberadaan-qua-keberadaan (being-qua-being). Ia tidak sama, karena pemikiran atas keberadaan-qua-keberadaan tidak menyampulkan (envelope) pemikiran atas keberadaan di situ (being-there)

b. Membedakan dari keberadaan-keberadaan (beings) dalam dunia yang sama. Keberadaan di situ (being-there) adalah sebenarnya keberadaan ini (étant) yang (secara ontologik) bukan yang lain; inskripsinya dengan yang lain dalam dunia ini tidak bisa menghilangkan diferensiasi ini. Di satu sisi, identitas yang terbedakan sebuah keberadaan tidak bisa menjelaskan dengan sendirinya penampilan keberadaan ini dalam sebuah dunia. Namun, di sisi lain, identitas sebuah dunia tidak juga bisa menjelaskan dengan sendirinya perihal penampilan keberadaan dibedakan ini.

Kunci untuk pemikiran penampilan, jikalau ia berhubungan dengan suatu keberadaan singular, terletak pada kemampuan untuk mendeterminasi, pada saat bersamaan, perbedaan-diri yang membuat keberadaan di situ (being-there) bukan keberadaan-qua-keberadaan (being-qua-being), dan perbedaan dari yang lain yang membuat keberadaan di situ (being-there), atau hukum dunia dituruti oleh yang lain, supaya tidak menghilangkan keberadaan-qua-keberadaan (being-qua-being).
Bila penampilan adalah sebuah logika, karena ia tak lain adalah sebuah penandaan perbedaan-perbedaan dari dunia ke dunia. (Logics of Worlds, hal 117)

Dengan demikian, Badiou bisa menyatakan bahwa eksistensi tidak ada (existence is not). 1) Apa yang eksis adalah sebuah penampilan keberadaan murni. 2) Bahwa sebuah multiple eksis tak lain adalah sebuah pengindeksan kontingen sebuah multiple dengan transcendental. Maka eksistensi tiada. 3) Namun, kemestian untuk eksis (atau tampil) secara retroaktif menganugerahkan sebuah keberadaan dengan sebuah konsistensi yang berbeda daripada diseminasi multiple itu sendiri. 4) Oleh sebab itu, ketiadaan-keberadaan (non-being) sebuah eksistensi berarti ia lain daripada keberadaan yang memberadakan keberadaan. Ia adalah keberadaan sebuah objek.

Poin ke-empat diteliti secara saksama mengartikan bahwa bila ketiadaan-keberadaan (non-being) eksistensi adalah bilangan kosong yang memungkinkan terwujudnya sebuah keberadaan satu (count-as-one), maka keberadaan (being-in-itself) daripada keberadaan di situ (being-there) yang sudah menampilkan diri tidak merujuk kembali pada ketiadaan-keberadaan (non-being) itu, tetapi pada keberadaan murni multiplisitas itu sendiri. Dengan kata lain, semua objek penampilan mentaati logika hukum penampilan multiple. Dan penjelasan ini sekaligus mengilustrasikan bahwa teori objek Badiou tidak memiliki subjek. Pemaknaan objek dengan demikian hanya bisa dibangun dari sebuah relasi antara titik-titik topologi melalui pengindeksan transcendental yang mengevaluasi derajat intensitas eksistensi dalam sebuah penampilan dan, melalui sebuah functor transcendental, mendefinisikan sebuah proyeksi pada sebuah objek penampilan yang membuat setiap derajat berkoresponden dengan sebuah anasir sejati dalam multiple yang menggarisbawahi objek itu. Functor transcendental dengan demikian menjamin kejelasan keberanjakan sintesis transcendental dalam penampilan kembali ke sintesis sejati dalam keberadaan multiple. “Kejelasan (intelligibility) baru keberadaan-keberadaan ini sesuai dengan objek-objek yang mereka telah menjadi di dalam sebuah dunia mencapai titik apotheosis ketika didemonstrasikan bahwa keberadaan itu sendiri, dalam kondisi tertentu, bisa disintesiskan (disampulkan), dan dengan demikian diberikan sebuah kesatuan yang berlainan dengan yang menghitungkan multiplisitas murni itu sebagai satu. Semua terjadi seakan penampilan dalam sebuah dunia menganugerahi multiplisitas murni – untuk ‘waktu’ yang diperlukan untuk bereksis dalam sebuah dunia – dengan sebuah bentuk homogenitas yang bisa diinskripsikan dalam keberadaannya. Hasil yang bisa didemonstrasikan ini – yang menunjukkan bahwa penampilan memengaruhi keberadaan sebegitu rupa sehingga keberadaan terjadi dalam sebuah dunia – begitu dahsyat sehingga saya menamakannya ‘teorem fundamental logika atomik (fundamental theorem of atomic logic).’ ” (Logics of Worlds, hal 196-197)

Sebuah relasi senantiasa lokal, namun relasi ini, tergantung intensitas eksistensi relasi ini, mengeksposisikannya pada sebuah pengamatan global yang tanpa batas. Sebagai contoh, Badiou mengilustrasikan relasi antara bumi dan matahari mengeksposisikannya pada Proxima Centauri yang menaunginya dan di kejauhan Spica of Virgo mengamati baik Proxima Centauri maupun bumi dan matahari. Dus pernyataan Badiou, kebenaran itu selalu lokal, namun di cakarawala selalu ada Kebenaran Abadi yang menaunginya.
Setiap kejadian, yang muncul dari sebuah titik dalam topologi, mewujudkan penanda satu (count-as-one) dengan bekas-bekas keberadaan-murni (Being), kemudian ia dihantui oleh bayang-bayang kemurnian multiplisitas dalam penampilan. Setiap kejadian dengan demikian mengkontraksi multiplisitas murni dalam sebuah penampilan Dua, yakni sebuah kristalisasi infinitas dalam sebuah potongan (cut), atau sebuah keputusan: ya atau tidak.

“Korelasi antara infinitas dan Dua, penyaringan yang pertama oleh yang terakhir, tidak memerlukan ‘seorang pemutus’ dalam arti psychologi atau anthropologi. ‘Keputusan’ di sini adalah sebuah metafora bagi sebuah karakteristik transcendental: eksistensi (atau relatif kelemahan eksistensi) derajat-derajat intensitas jenis-jenis penampilan ini dihadapkan pada sebuah tribunal alternatif. Kita boleh mengatakan, secara metaforis juga, bahwa sebuah titik dalam sebuah dunia adalah apa yang memungkinkan sebuah eksposisi untuk didistilasi menjadi sebuah pilihan.” (Logics of Worlds, hal 400)

Dalam sebuah situasi di mana tubuh sang subjek yang terperangkap dalam sebuah penampilan dihadapi oleh sebuah pilihan Dua, sang subjek setia bisa mengaktualisasikan sebuah prosedur kebenaran. Yang menolak penawaran yang terwujud dari kejadian ini akan menjadi seorang subjek reaktif (reactive subject), yang lebih memilih hak-hak sejarah lahiriahnya atau kenyamanan tradisi, dan yang mememlintirkan kejadian menjadi sebuah keyakinan tahyul, menjadi seorang subjek tak jelas (obscure subject), keduanya mengakibatkan kejadiaan itu menjadi sebuah malapetaka. Namun, setiap relasi dalam sebuah dunia senantiasa terkait dalam sebuah perputaran dari satu posisi ke posisi lain dalam sebuah interkoneksi segitiga tidak simitris. Jadi sang subjek reaktif atau pun sang subjek tak jelas bisa saja suatu hari menjadi sang subjek setia. Hidup bagi Badiou adalah melawan kecenderungan-kecenderunga

n subjektif yang menolak kejadian. Hidup adalah untuk mengisi secara retroaktif sebuah ek-sistensi, dalam pengertian Heidegger di mana pijakan (ground) yang terkuak menampilan sebuah kebebasan untuk mengisinya dengan nilai-nilai bermakna.

Baik Deleuze maupun Badiou menolak negasi yang merambah kehidupan sejak penampilan para pemikir, yang digambarkan oleh Badiou sebagai pemikir-pemikir relatifis materialisme demokratis. Karena kedua pemikir menemukan bahwa sebuah negasi dalam bilangan irasional adalah penanda perubahan jua, yakni melalui rumus –(–N), ia bisa dikembalikan ke bilangan positif. Dengan demikian, semua bilangan pada dasarnya homogeneous dan alam tidak mengizinkan dirinya didiseminasikan menjadi serpihan. Bila Deleuze menawarkan sebuah kehidupan sarat disiplin pengendalian diri untuk menyingkirkan segala nafsu dari inderawi, bagaikan sebuah hidupan Stoic, dan melalui sebuah determinasi intensif, seorang subjek bisa bersentuhan dengan imanensi dalam sebuah penyatuan univocal, maka Badiou menawarkan sebuah ek-sistensi yang beranjak dari sebuah aksioma kekosongan di mana prosedur kebenaran, yakni dengan mengambil selangkah demi selangkah, dalam sebuah perjuangan tanpa henti, mengisi kembali sebuah keadaan tidak berimbang, metastate, dalam sebuah formalisme subjektif yang merujuk pada ke sebuah Kebenaran Abadi di cakrawala. Baik Deleuze maupun Badiou adalah pemikir-pemikir afirmatif. Mereka menganjurkan pada kita untuk selalu melihat ke belakang dan melacak jejak-jejak yang ditinggalkan sebuah kejadian yang terkubur karena kurang intensitas, bagi Deleuze hanya perlu menyelaraskan jejak-jejak ini pada sebuah bidang imanensi untuk mengaktifkannya menjadi sebuah singularitas, bagi Badiou menunggu saat-saat perubahan untuk menguakkannya menjadi sebuah kejadian, untuk memulaikan sebuah prosedur kebenaran. Kematian bagi keduanya bukanlah sebuah batasan yang mengekang kita pada finitas, karena ia bukan keberadaan yang punya anasir, tetapi merupakan sebuah titik yang memungkinkan pengembalian pada yang Benar (bagi Deleuze), kejadian (bagi Badiou). Penistaan tubuh atau inderawi, ataupun permainan bahasa (linguistic turn) adalah peninggalan dari pemikir-pemikir materialisme demokratik; keduanya merupakan tindakan-tindakan kalau bukan sadistik adalah masokis (definisi Badiou) dan mereka tidak bisa memungkinkan terwujudnya sebuah transcendental sejati. Maxim Badiou perihal ini adalah “kematian Tuhan tidak melepaskan kita pada finitas, tetapi pada keberadaan infinitas yang selalu menaungi situasi-situasi, dan korelasinya pada sebuah infinitas yang bisa dipikirkan.” (Number and Numbers, hal 86)

Deleuze, di akhir Difference and Repetition, menyerukan: kita semua setara! Badiou menyerukan: kita semua abadi. Dua pandangan filsafat, yang pertama dari seorang pemikir empiris transcendental, yang terakhir dari pemikir materialis dialektik. Kedua pemikir bagaikan sebuah kontraksi multiplisitas murni pada penampilan Dua, menghadapkan kita pada dua pilihan hakiki: Deleuze atau Badiou? Deleuze yang tampaknya mistis menawarkan sebuah kehidupan intensif nomadis, penjelajahan di antara-antara kehidupan dengan determinasi intensif atau Badiou yang tampaknya aksiomatis dan klasik inovatif namun merangkul multiplisitas sejati? Yang jelas, penelusuran Satu dan Banyak yang telah mereka wariskan dari Plato telah dimaksimalkan oleh Deleuze dan dilampaui oleh Badiou. Bila Deleuze mengambil aksioma ketidaksetaraan (axiom of inequality) sebagai pijakan filsafatnya, Badiou mengambil aksioma fondasi (axiom of foundation) sebagai titik permulaan. Problema Deleuze adalah ia masih sangat mengharapkan sebuah penyatuan multiplisitas (Multiple One), seperti terlihat dari penjelasan Deleuze perihal Beda dan Sama dan kemungkinan adanya sebuah Keberulangan Abadi (Eternal Return). Badiou menolak kemungkinan ini karena baginya keberadaan murni (Being) dan keberadaan di situ (Being-There) mesti diakses dengan prosedur yang berbeda. Keberadaan murni (Being) hanya bisa diakses melalui teori himpunan, sedangkan keberadaan di situ (Being-there) mesti merujuk pada hukum logika penampilan, dengan demikian hanya bisa diakses melalui teori kategori. Badiou dalam Logics of Worlds membuktikan bahwa baik keberadaan murni (Being) maupun keberadaan di situ (Being-there) bisa diakses dari sebuah posisi transcendental yang netral. Oleh karena itu, ia menyatakan kita hidup dalam dunia-dunia, dan setiap dunia adalah infinite. Badiou juga menyatakan dalam bukunya Briefings on Existence bahwa filsafat sebenarnya sudah dibebaskan (released) dari sains, epistemologi dan berbagai disiplin lainnya, karena matematika sudah mengambil alih tugasnya, tetapi karena matematika adalah sebuah pikiran yang tidak bisa mengrefleksikan keberadaan sendiri, maka filsafat masih diperlukan untuk menjelaskan pikiran yang imanen dalam matematika.

Pemikiran-pemikiran ini menantang kita untuk mengambil langkah berikut. Tetapi penelusuran berikut telah dinaikan pangkat kesukarannya. Seperti Plato yang memasang palang di atas gerbang Akademinya, Badiou sekarang kembali memasang palang itu: palang itu berbunyi, Yang Tidak Berbekal Geometri Jangan Masuk.

Studi perbandingan pemikiran antara Deleuze dan Badiou ini di beberapa bagian telah saya revisi dari materi yang telah saya presentasikan dalam sebuah forum diskusi filsafat.

Jakarta, 8 Agustus 2009

Siapa Lagi Ingin Jadi Kritikus Film?

Menjadi kritikus film di negara ini ternyata sangat mudah. Tidak perlu prakualifikasi, tidak seperti seorang pakar ekonomi yang minimal perlu gelar sarjana ekonomi atau pengalaman sebagai seorang praktisi bisnis. Kredensial seorang kritikus film kita berkisar dari pemerhati film, kataloger film, penggiat film hingga wartawan khusus film.

Maka tidaklah mengherankan jika resensi film yang tiap minggu kita baca di beberapa media besar seperti saling sahut-menyahut, hampir seragam dalam penafsirannya, atau pun kisaran penafsirannya. Kritikan para ‘kritikus’ ini pada akhirnya tidak ubahnya muntahan segar seorang penonton, sebuah impresi superfisial tentang sebuah karya. Tidak bisa ditanggapi sebagai sebuah kritikan. Karena tulisan seperti itu tidak menukik ke dalam eksplorasi-eksplorasi pemikiran. Kritikus seperti ini digambarkan oleh Roland Barthes sebagai kritikus neither-nor, kritikus bukan ini atau itu. Intinya penulis seperti itu bukanlah seorang kritikus sejati, karena untuk membedah setiap detil gambar, suara, kerangka, makna, pergelutan ungkapan seorang sutradara, dibutuhkan kepiawaian yang setara pula. Untuk merinci sinematografi, maka seorang kritikus diharapkan punya kualifikasi juga dalam bidang ini, seperti pencahayaan, pengambilan sudut gambar, penggunaan lensa kamera, problema digital dan seluloid dan bahasa visual seorang sutradara. Untuk kerangka sebuah film, maka diharapkan kritikus itu paham tentang penyuntingan film, struktur narasi, penguasaan genre film tertentu, konsistensi karakterisasi, nada yang ditekan pada satu titik atau titik-titik tertentu.

Dia juga bukan seorang pemikir. Untuk mengkritik sebuah karya, boleh saja seorang kritikus tidak menguasai semua aspek perfilman, tetapi ia dituntut bisa berpikir secara sistematis. Ini adalah kriteria utama yang memisahkan seorang kritikus sejati dengan kritikus bukan ini atau itu.

Penonton vs Kritikus

Tidak seperti seorang pencipta yang senantiasa ditantang untuk membongkar rujukan-rujukan estetika, seorang kritikus dituntut untuk bisa memetakan sebuah pemikiran. Apa pun bentuk pemikiran itu, asal ia segar, merupakan sebuah respons puitis, berjarak dan tidak frontal.

Kritikan adalah sebuah pemikiran yang mengarah ke satu arah (Barthes): ke arah kesimpulan pemikiran. Ketika kritikus itu memutuskan menulis sebuah kritikan, ia sebenarnya merespons pada bahasa. Pertama pada bahasa secara literal, kemudian pada bahasa karya itu.

Saat kritikus itu menuangkan pemikirannya ke dalam sebuah tulisan, pemikirannya mau tidak mau patuh pada bahasa dengan segala aturan gramatika dan sintaksisnya. Dengan kata lain, tatanan bahasa dan logika bahasa memaksa sebuah pemikiran yang tersadur dalam bahasa merunut dan terarah (ke sebuah kesimpulan makna).

Kritikus itu juga merespons pada bahasa sebuah karya. Bahasa yang dimaksud tentunya adalah gaya sebuah karya: gaya dalam penuturan, penyeleksian, penekanan pada objek-objek tertentu dalam sebuah karya,  keunikan ekspresi (dalam dialog ataupun karakter) dan metodologi dalam membangun sebuah bagan karya. Sang kritikus akan mencari sebuah serat atau serat-serat bahasa di dalam karya itu untuk kemudian dirajut kembali menjadi sebuah pengupasan segar, terarah dan kohesif.

Seorang kritikus menonton sebuah film tidak seperti seorang penonton biasa. Seorang penonton biasa menonton sebuah film karena hasrat. Hasratnya terpicu untuk menonton dan menikmati sebuah film. Maka hubungan antara penonton dan film bermula dari subjek yang ingin mengdominasi sebuah objek. Tujuan sang penonton biasa boleh digambarkan sebagai sebuah hasrat yang agresif.  Penonton biasa dan film yang ditonton terjalin dalam sebuah hubungan yang sepihak, yaitu melalui hasrat subjektivitas penonton pada objek, yakni film: maka hubungan ini lebih tepat kalau digambarkan sebagai sebuah hubungan fisikal (desire) ketimbang mental. Oleh karena itu, ketika seorang penonton biasa berkomentar tentang sebuah film, artikulasi bentuk oralnya hanya bisa kita tafsir sebagai sebuah reaksi, atau impresi, yang tidak berakar pada sebuah pemikiran yang terarah, karena ia hanya sekadar artikulasi, tidak terbangun dalam sebuah sistemasi pemikiran yang hanya bisa terwujud dalam sebuah tulisan. Artikulasi tidak bisa ditangkap dalam sebuah bagan real, kecuali dalam tulisan. Ia hambur dalam ketiadaan begitu sebuah ungkapan terucap. Untuk supaya sebuah artikulasi bisa terwujud menjadi kenyataan (menurut Derrida), subjek perlu mati dahulu. Maka, dalam hal ini kita tidak memiliki banyak pilihan selain merujuk pada pemikiran Mallarmé, yang juga diandalkan oleh Barthes: yaitu, menangkap dahulu imanen (ilahi) berkelabat dalam kata-kata kemudian membiarkannya memudar kembali ke antahbrantah ketika kata-kata itu tersusun rapi dalam satu bait puisi (atau kalimat).

Beberapa Pendekatan Seni Kritik

Sublasi (asimilasi entitas kecil ke dalam bagan yang jauh lebih besar). Menurut Harold Bloom, semua karya mempunyai dna dari karya-karya sebelumnya. Kehebatan sebuah karya adalah bagaimana ia mampu mengsublasi, melumatkan pengaruh ini ke dalam sebuah bentuk baru yang hampir tidak menampakkan bekas-bekas pengaruh sebelumnya. Susan Sontag belajar dari John Cage, sang komponis yang terkenal mengisi kesunyapan tak berdenting dalam komposisinya, pernah menyatakan bahwa di era modern ini hampir tidak mungkin lagi bagi seorang pencipta seni untuk melepaskan diri secara signifikan dari pengaruh-pengaruh pencipta seni sebelumnya. Kemungkinan yang masih ada adalah eksplorasi-eksplorasi di pinggir-pinggir kerangka, atau seperti John Cage, melawan dominasi pengaruh pencipta sebelumnya dengan sebuah kesunyapan. Hanya itu satu-satunya cara untuk memotong ari-ari kepengaruhan pada karya-karya sebelumnya. Kepiawaian seorang pencipta pada saat ini sangat tergantung kelincahannya dalam mengsublasi berbagai pengaruh ke dalam karyanya sehingga sebuah mahluk eklektis baru, karya paduan berbagai materi, bisa tercipta. Seorang kritikus yang berwawasan harus bisa secara seksama mendata/merinci pergumulan eklektis dalam sebuah karya.

Puitis, Menyamping. Di bagian ini, saya kira kita bisa meminjam dari Alain Badiou dan Gilles Deleuze untuk memberikan sedikit pengarahan yang berguna. Bagi Alain Badiou, sebuah karya seni ibaratnya sebuah event. Karena setiap kejadian adalah unik, maka dalam keterperangkapan kita dalam sebuah situasi baru, sangatlah susah bagi kita untuk mengupasnya secara langsung. Karena kita masih terperangkap dalam sebuah ungkapan yang masih belum bisa dikategorikan ataupun direduksi menjadi sebuah pernyataan konkret, maka satu-satu cara untuk bisa mengupaskan karya itu adalah secara tidak langsung (indirect) dan puitis. Yang dimaksud secara tidak langsung dan puitis adalah sebagai berikut: seorang kritikus perlu merespons sebuah karya dengan berkarya seni atau mencoba mengitari karya itu di pinggiran, tidak frontal, namun puitis.

Kita juga bisa memetik banyak pengetahuan dari apa yang Deleuze peroleh dari wawancaranya dengan Francis Bacon, rupawan Inggris yang terkenal dengan lukisan-lukisannya yang mencoba menangkap sebuah jeritan. Ketika ditanya Deleuze bagaimana ia menilik kembali karyanya setelah karya itu selesai dikerjakan, Bacon menjawab bahwa ketika ia mengerjakan sebuah karya, ia memakai satu set teori yang berbeda dengan ketika ia mencoba menelaah kembali karyanya setelah selesai. Dari sini, Deleuze mendapatkan kesimpulan bahwa ketika kita melihat sebuah karya seni, kita tergugah melampaui diri kita. Respons kita tidak beranjak dari ego, tetapi dari sebuah perasaan kuat yang tidak personal. Karena keterpanahan kita pada sebuah karya tidak berhubungan dengan ego kita, maka kita memandang sebuah karya seni dari sebuah jarak. Intinya, penilaian kita tidak berdasarkan sebuah reaksi personal sarat pradugaan pribadi. Maka, apa yang sering kita baca dalam berbagai ulasan film kata-kata seperti nasi basi atau omong kosong dan lain seperti itu, hanya mencerminkan sebuah reaksi yang tidak puitis dan sangat frontal. Begitu kita membaca penulisan kritikus dengan perbekalan kosakata seperti itu, kita langsung bisa menilai penulis itu hanya sebatas kritikus bukan ini atau itu.

Verisimilasi vs Realitas. Kita sering juga menemukan dalam resensi film keluhan tentang pencipta film yang kurang memiliki latar belakang tertentu sehingga ia gagal membangun sebuah realitas yang meyakinkan. Seperti film Riri Riza, Tiga Hari untuk Selamanya pernah dikritik oleh seorang kritikus dengan kata-kata yang berkisar pada kegagalan Riri Rizi pada film itu karena ia tidak mempunyai latar yang memadai untuk mengupas lingkungan hidup atau kedudukan sosial seperti yang ditampilkan dalam filmnya itu. Tanggapan seperti ini perlu diluruskan dengan beberapa contoh yang membantu. Pertama, ketika kita membicarakan sebuah karya fiksi, maka asumsi pada sebuah khayalan ataupun impian langsung terbesit dalam ungkapan kita. Sudah jelas setiap pencipta seni punya asumsi atau pun impresi yang berbeda pada realitas: keunikan sudut pandangnya justru yang membuat kita tertarik pada karyanya. Jika seorang kritikus menuntut pada seorang pencipta seni supaya ia bisa membangun sebuah realitas yang dikenal oleh orang banyak, penuntutan ini saya kira lebih tepat kalau ia ditujukan pada karya dokumenter daripada karya fiksi. Keluwesan seorang pencipta seni senantiasa berada dalam permainan realitas. Kepintarannya membangun sebuah realitas bukan karena ia begitu mahir menciptakan sebuah realitas yang begitu menyerupai kenyataan, tetapi lebih pada bagaimana sang pencipta membuat realitas itu begitu hidup atau bernyawa. Jadi realitas dalam karya-karya seni tidak berarti keselarasannya pada realitas tetapi pada kebernyawaannya dalam sebuah karya.

Simulacra dan Gerakan Palsu. Gerakan sebuah film, menurut Deleuze, adalah sebuah gerakan palsu: pergerakan kontinuitas sebuah film merupakan sebuah ilusi yang tercipta ketika 24 frame film digerakan dalam sedetik. Dan (dari Baudrillard) ketika sebuah objek ditangkap oleh kamera, apa yang ditangkap secara otomatis menjadi sebuah simulacra, sebuah jiplakan dari objek asli. Repetisi dalam proses penangkapan imaji itu akan semakin meruntuhkan keaslian yang ditangkap. Dengan demikian, semua bentuk rekaman digital ataupun seluloid tidak mencerminkan sebuah kenyataan asli. Kita bisa belajar dari sini untuk menilai dengan benar apa yang dimaksudkan keaslian sebuah situasi atau karakterisasi sebuah karya film. Rujukan pada akhirnya kembali ke apa yang saya unggapkan di atas, yaitu bukan ketergantungan pada verisimilasi karakter atau pun situasi pada realitas, tetapi pada kesenyawaan (lifeness bukan lifelikeness).

Semoga esei ini sedikit merepotkan mereka yang gandrung menulis kritikan film namun tidak sudi mendalami bidangnya, dan mengajak mereka yang berpotensi untuk mengimbangi pergelutan pencipta seni, sehingga sebuah dialog yang mengasyikan bisa tercipta dan sebuah komunitas kesenian terbangun dengan sehat dan kekar untuk kemajuan bersama.

Esei ini diterbitkan oleh Kompas, 2008

Why Aren’t More Indonesian Literary Works Published Abroad?

It’s a question often posed to me by foreign writers and scholars, maybe because I speak English or maybe they know me at one time as a bookseller and a publisher of translated works of Indonesian writers. In any case, it’s not an easy question to answer.
Most of us thought at first, with the international publications of Pramoedya’s tetralogy, more writers from Indonesia should by rights follow on the path he had opened up. The reality is nothing of the kind. Only a few writers – Seno Gumira Adjidarma, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Danarto, Ayu Utami and Eka Kurniawan — have been published abroad, albeit through small publishing houses or university presses. No writer after Pramoedya Ananta Toer has enjoyed the kind of success as Pramoedya did. Pramoedya’s books are on the Fiction & Literature shelves of Barnes and Noble, W.H. Smith, Borders and most well stocked bookstores everywhere in the world. Pramoedya’s first international fame was introduced by Max Lane’s translations of his famed tetralogy. These novels were published by one of America’s most respectable publishing houses, Hyperion. Later, Penguin also secured rights for U.K and the commonwealth countries.
For quite a long while, over 20 odd years under the repressive scrutiny of the New-Order regime, Pramoedya was principally known abroad for his four novels: This Earth of Mankind, Child of All Nations, Footsteps and House of Glass; because none of his other works were translated. Around year 2001, in the initial bloom of reformasi here in Indonesia, fresh interest in his other works still not translated gathered pace. Tales of Djakarta was published locally by Mark Hanusz of Equinox, translated by The Nusantara Translation Group, then C.W Watson’s translation of It’s Not An All Night Fair, published also by Equinox, a version of Girl from the Coast was published by Select Books in Singapore, later retranslated by Willem Samuels (aka John McGlynn), who afterward also translated All That Is Gone. Most recently, Max Lane translated Arok of Java published by Horizon Books in Singapore. When I talked to Max Lane last, he was planning to work on next in the trilogy of the Arok legend, Reverse Current (Arus Balik) and Mangir. The last years before Pramoedya’s death, he enjoyed the success and recognitions long overdue to him. He received the Fukuoka Cultural Grand Prize in 2000, The Norwegian Authors Union 2004 and Centenario Pablo Neruda 2004. He was always rumored to be in the run for the Nobel Prize. His works were translated in some forty countries worldwide. He bought a house in Bogor. He got an agent based in Barcelona named Anna Solar-pont, who helps manage the sales of rights of his works and the collection of royalties. There were various speculations of This Earth of Mankind to be filmed by a renowned Hollywood director, but nothing came out of that. Meanwhile, Pram’s agent in Barcelona vexed about the lagging response from his family to her queries about requests she had received from international parties on various rights of his works.
One can simply wonder whether the Pramoedya Ananta Toer Estate will be in good care under his children’s watch. For it is apparent from what I’ve learned it is in disarray, either for lack of communications skills or the awareness of the mechanism of the international rights systems on the part of Pramoedya’s heirs.
Most Indonesian authors can seem rather intractable when it comes to interactions with foreign interests. Some writers remain stalwart about not letting any editors circumcise their texts; they believe in absolute artistic autonomy over their works. Editors are dismissed as charlatans unequalled to their art; they have no idea if Hemingway had a dedicated editor, Maxwell Perkins, who made his unruly spellings look good on the page and James Wood, the revered literary critic, has a youthful editor who constantly tells him off. Communications with some of these writers – whether because of their inability to grasp other languages or plain disinterest – can brook misunderstanding and not often incite outrages.
Most of the works of these writers, through no fault of theirs really, have not been translated. There is no concerted efforts by the government to promote these writers abroad, albeit throughout the years there have been attempts from a few private enterprises, such as Lontar Foundation through the support of various international bodies, in putting out master works of established writers. However, these trickle efforts often face an impasse in distribution outside of Indonesia; because of various reasons, I assume, but foremost of which I believe is funding to participate in international book fairs. There are, however, also no genuine efforts from the writers themselves to seek translation of their works.  There’s a sense that their works are done, let the others worry about them.
The young generation of writers is less complacent. In answer to my question, Eka Kurniawan, dubbed recently as heir to Pramoedya by Benedict Anderson, the renowned author of Imagined Communities from Cornell University, says, “Let’s face it, after Pramoedya, we don’t have a world-class author the equal of Haruki Murakami, Moyan, or Orphan Pamuk.” When told only three percent of world literature is published by the publishing giants in New York and London, he replies, “Then we should try to be good enough to fit into that three percent.” While I can’t completely agree with his assessments that we don’t have the equal of these preeminent authors he mentioned, I do admire his exuberance and his determination. His novel, Beauty is A Wound, was published this year by a Japanese literary publishing company and he just came back from an invitation to a university in Tokyo to talk about his new novel. He has had a good start and sees his future beyond the limitations that have enclosed his predecessors’ ascent to world literary stage.

A version of this article was published in The Jakarta Globe, January 2009

The Future of Reading

How often have we heard these refrains from parents about their children’s reading habits? They’re too engrossed with their Wii players to bother with books. Schoolwork has left them no time to curl up in a couch with a book. There are too many video games out there! Too many distractions, cable television programs: MTV, V, Hannah Montana, malls, coming-out bashes, birthdays on top of extra-curricular studies: math, science, music lessons, etc. Meanwhile, children of less fortunate parents bemoan their parents’ inability or ignorance for their needs for books.
In a recent television documentary by BBC that sparked a controversy over the correct method to measure the intelligence of today’s youth, the experts argued that the ignorance of today’s youth about classical works of Homer and Socrates et al should not be construed as their lack of intelligence or the decline of education. Today’s youth knows more than their parents about virtual technology: blogging, java script, cookies, cellular technology, systems software, video games, and to some extent, black holes, cloning and the superstring theory. Their times confront them with this knowledge and as a result in their daily struggle to stay abreast with the rest of their peers, their time is consumed in grappling with what is immediately before them. Should they be blamed for not knowing who wrote The Marriage of Figaro or what to make of Anabasis? However, one is persuaded to believe, should they be challenged to dip into Mozart or the writings of Xenophon, they are now more equipped than ever before with the most advanced technology to find out about them within seconds, just a click away to a wealth of information waiting in the virtual world of the internet.
Recently Sony introduced a new eBook product called Reader Digital Book. The size of a hard cover novel, this digital book ‘boasts a six-inch display, utilizing e-Link technology that’s almost paper-like.’ The device can ‘hold up to 160 books with expandable memory.’ It costs $299.99.  Just as Mozart, through digital mastering and packaged in CDs and accessible for download thanks to the internet, now reaches many more listeners, books of all kinds will reach more readers worldwide through such a device as Reader Digital Book.
Several years ago in a interview, Ken Kesey, the famed novelist of the psychedelic age who wrote One Flew Over the Cuckoo’s Nest, revealed that the modern times has allowed anyone to become a writer, in real time. A writer can bypass the publishing giants in New York or London, by posting his or her work on a blog. The problem is, he admits, writers still don’t know how to make a living from their writing in this way. (Ken Kesey remained poor to the day he died, an irony incommensurate with his fame and enlightenment.) Recently in a break from a dour session at The National Congress of Culture in Bogor, I had the opportunity to talk to James F Sundah, the composer of the renowned song Lilin Lilin Kecil (Little Candles) made famous by Chrisye. He told me composers can hardly expect to make money from their albums, with rampant piracy and lack of royalty systems in this country. But, he says enthusiastically, composers shouldn’t just resign helplessly to the onslaught of technology. He then detailed how he penetrated various virtual music communities and lured the members to his blog and download his compositions for a fee. He revealed triumphantly he’s making more money this way now than ever before. “As creators, we should always watch out for new technologies to distribute our works. Especially now in this technologically advanced age,” he says. Albeit, enthused by his admission, but I have yet to hear a similar success story from a writer. I know for a fact that Dewi Lestari, author of the popular Supernova series, released her latest literary works, through an agreement with Telkomsel, to be downloaded to the cellular phone at a reasonable price. However, the last time I met Dee, I didn’t detect the same jubilance as I sensed from James. From both these examples, at least we recognize, although it has missed Ken Kesey by a few years, the opportunity is out there to be plumbed by artists.
While most parents bemoan their children’s disinterest in books, the reality of the publishing world, at least in most parts of the world, paints a different picture. More books have been churned out each year in the past ten years. In fact, some writers liken the publishers’ excessive output to shooting at their own feet. Because most books in print pander to voracious readers of crimes, easy to follow self-help that promises immediate results, various guides from get-rich quick schemes to successful prom nights, romances in various guises, and fantasy. A quick glance at the New York Times will give one the indication where the reading public worldwide is headed: mindless reading. Ironically, the book supplement page in the New York Times boasts the most rigorous literary reviews in the world.
More bookstores have sprung up recently in Jakarta, but look in the shelves for more tasteful selections of books and one will be disappointed. Somehow, the phenomena that afflict most developed countries have found their way in Asia. The same books that enjoy major publicity, boosted by a large promotion fund, in New York and London, will similarly be devoured by a clerk in Hong Kong, Singapore and Jakarta. Since these books have been accepted by the majority of readers in the more established world, therefore they are read in like-minded conformity. There is hardly any critical resistance toward the trend. It’s as if it is in bad taste to revolt against what the rest of the world has unanimously agreed to be good.
Will these trends cause the decline of the intelligence of our children?  The BBC documentary has amply illustrated that is not likely to happen. The facts I presented above have also shown that books will still be read, albeit not necessarily through printed pages. The more immediate question that needs to be addressed: What will be the future of reading? Will our children simply gobble up Twilight, the ruling vampire romance by Stephenie Meyer, as their main intellectual fare? The answer to the last question, it’s already happened. It’s an undeniable reality. As for the answer to the former question, I think it depends on how we inculcate a sense of intellectual curiosity in our children. Banning them from reading certain books or worse damning them are futile efforts. It will only provoke disdain and more rebellious curiosity in our children. What we should do, I believe, is to stay away from thinking books as the first source of knowledge and intellectuality. The parents are. We should start seeding intellectual curiosity by engaging our children on a wide range of truths: life, death, faith, love, hatred, success & failure and issues of the world: economy, politics, environment. See which one of these subjects finds a foothold in their minds. Challenge their generalized assumptions and engage them thoroughly. In their rebellion, drop a few names of authors, which naturally will puzzle them and in their frustration, draw them to where they can truly look for more solid erudition (or in their minds, refutations): good serious books.  You’ll be surprised how ingeniously these smarty-pants will get back at you! And they will go further for more. That I reckon is how a tradition of intellectuality will begin.  At home. This tradition will check the hubris of the world at the door. Although how they will be reading their books, through a Reader Digital Book or their cellular phones, we can only surmise. And it hardly matters.