Richard Oh

Talks about Books, Films and Philosophy

Books

Archive for the ‘Books’ Category

Siapa Lagi Ingin Jadi Kritikus Film?

Menjadi kritikus film di negara ini ternyata sangat mudah. Tidak perlu prakualifikasi, tidak seperti seorang pakar ekonomi yang minimal perlu gelar sarjana ekonomi atau pengalaman sebagai seorang praktisi bisnis. Kredensial seorang kritikus film kita berkisar dari pemerhati film, kataloger film, penggiat film hingga wartawan khusus film.

Maka tidaklah mengherankan jika resensi film yang tiap minggu kita baca di beberapa media besar seperti saling sahut-menyahut, hampir seragam dalam penafsirannya, atau pun kisaran penafsirannya. Kritikan para ‘kritikus’ ini pada akhirnya tidak ubahnya muntahan segar seorang penonton, sebuah impresi superfisial tentang sebuah karya. Tidak bisa ditanggapi sebagai sebuah kritikan. Karena tulisan seperti itu tidak menukik ke dalam eksplorasi-eksplorasi pemikiran. Kritikus seperti ini digambarkan oleh Roland Barthes sebagai kritikus neither-nor, kritikus bukan ini atau itu. Intinya penulis seperti itu bukanlah seorang kritikus sejati, karena untuk membedah setiap detil gambar, suara, kerangka, makna, pergelutan ungkapan seorang sutradara, dibutuhkan kepiawaian yang setara pula. Untuk merinci sinematografi, maka seorang kritikus diharapkan punya kualifikasi juga dalam bidang ini, seperti pencahayaan, pengambilan sudut gambar, penggunaan lensa kamera, problema digital dan seluloid dan bahasa visual seorang sutradara. Untuk kerangka sebuah film, maka diharapkan kritikus itu paham tentang penyuntingan film, struktur narasi, penguasaan genre film tertentu, konsistensi karakterisasi, nada yang ditekan pada satu titik atau titik-titik tertentu.

Dia juga bukan seorang pemikir. Untuk mengkritik sebuah karya, boleh saja seorang kritikus tidak menguasai semua aspek perfilman, tetapi ia dituntut bisa berpikir secara sistematis. Ini adalah kriteria utama yang memisahkan seorang kritikus sejati dengan kritikus bukan ini atau itu.

Penonton vs Kritikus

Tidak seperti seorang pencipta yang senantiasa ditantang untuk membongkar rujukan-rujukan estetika, seorang kritikus dituntut untuk bisa memetakan sebuah pemikiran. Apa pun bentuk pemikiran itu, asal ia segar, merupakan sebuah respons puitis, berjarak dan tidak frontal.

Kritikan adalah sebuah pemikiran yang mengarah ke satu arah (Barthes): ke arah kesimpulan pemikiran. Ketika kritikus itu memutuskan menulis sebuah kritikan, ia sebenarnya merespons pada bahasa. Pertama pada bahasa secara literal, kemudian pada bahasa karya itu.

Saat kritikus itu menuangkan pemikirannya ke dalam sebuah tulisan, pemikirannya mau tidak mau patuh pada bahasa dengan segala aturan gramatika dan sintaksisnya. Dengan kata lain, tatanan bahasa dan logika bahasa memaksa sebuah pemikiran yang tersadur dalam bahasa merunut dan terarah (ke sebuah kesimpulan makna).

Kritikus itu juga merespons pada bahasa sebuah karya. Bahasa yang dimaksud tentunya adalah gaya sebuah karya: gaya dalam penuturan, penyeleksian, penekanan pada objek-objek tertentu dalam sebuah karya,  keunikan ekspresi (dalam dialog ataupun karakter) dan metodologi dalam membangun sebuah bagan karya. Sang kritikus akan mencari sebuah serat atau serat-serat bahasa di dalam karya itu untuk kemudian dirajut kembali menjadi sebuah pengupasan segar, terarah dan kohesif.

Seorang kritikus menonton sebuah film tidak seperti seorang penonton biasa. Seorang penonton biasa menonton sebuah film karena hasrat. Hasratnya terpicu untuk menonton dan menikmati sebuah film. Maka hubungan antara penonton dan film bermula dari subjek yang ingin mengdominasi sebuah objek. Tujuan sang penonton biasa boleh digambarkan sebagai sebuah hasrat yang agresif.  Penonton biasa dan film yang ditonton terjalin dalam sebuah hubungan yang sepihak, yaitu melalui hasrat subjektivitas penonton pada objek, yakni film: maka hubungan ini lebih tepat kalau digambarkan sebagai sebuah hubungan fisikal (desire) ketimbang mental. Oleh karena itu, ketika seorang penonton biasa berkomentar tentang sebuah film, artikulasi bentuk oralnya hanya bisa kita tafsir sebagai sebuah reaksi, atau impresi, yang tidak berakar pada sebuah pemikiran yang terarah, karena ia hanya sekadar artikulasi, tidak terbangun dalam sebuah sistemasi pemikiran yang hanya bisa terwujud dalam sebuah tulisan. Artikulasi tidak bisa ditangkap dalam sebuah bagan real, kecuali dalam tulisan. Ia hambur dalam ketiadaan begitu sebuah ungkapan terucap. Untuk supaya sebuah artikulasi bisa terwujud menjadi kenyataan (menurut Derrida), subjek perlu mati dahulu. Maka, dalam hal ini kita tidak memiliki banyak pilihan selain merujuk pada pemikiran Mallarmé, yang juga diandalkan oleh Barthes: yaitu, menangkap dahulu imanen (ilahi) berkelabat dalam kata-kata kemudian membiarkannya memudar kembali ke antahbrantah ketika kata-kata itu tersusun rapi dalam satu bait puisi (atau kalimat).

Beberapa Pendekatan Seni Kritik

Sublasi (asimilasi entitas kecil ke dalam bagan yang jauh lebih besar). Menurut Harold Bloom, semua karya mempunyai dna dari karya-karya sebelumnya. Kehebatan sebuah karya adalah bagaimana ia mampu mengsublasi, melumatkan pengaruh ini ke dalam sebuah bentuk baru yang hampir tidak menampakkan bekas-bekas pengaruh sebelumnya. Susan Sontag belajar dari John Cage, sang komponis yang terkenal mengisi kesunyapan tak berdenting dalam komposisinya, pernah menyatakan bahwa di era modern ini hampir tidak mungkin lagi bagi seorang pencipta seni untuk melepaskan diri secara signifikan dari pengaruh-pengaruh pencipta seni sebelumnya. Kemungkinan yang masih ada adalah eksplorasi-eksplorasi di pinggir-pinggir kerangka, atau seperti John Cage, melawan dominasi pengaruh pencipta sebelumnya dengan sebuah kesunyapan. Hanya itu satu-satunya cara untuk memotong ari-ari kepengaruhan pada karya-karya sebelumnya. Kepiawaian seorang pencipta pada saat ini sangat tergantung kelincahannya dalam mengsublasi berbagai pengaruh ke dalam karyanya sehingga sebuah mahluk eklektis baru, karya paduan berbagai materi, bisa tercipta. Seorang kritikus yang berwawasan harus bisa secara seksama mendata/merinci pergumulan eklektis dalam sebuah karya.

Puitis, Menyamping. Di bagian ini, saya kira kita bisa meminjam dari Alain Badiou dan Gilles Deleuze untuk memberikan sedikit pengarahan yang berguna. Bagi Alain Badiou, sebuah karya seni ibaratnya sebuah event. Karena setiap kejadian adalah unik, maka dalam keterperangkapan kita dalam sebuah situasi baru, sangatlah susah bagi kita untuk mengupasnya secara langsung. Karena kita masih terperangkap dalam sebuah ungkapan yang masih belum bisa dikategorikan ataupun direduksi menjadi sebuah pernyataan konkret, maka satu-satu cara untuk bisa mengupaskan karya itu adalah secara tidak langsung (indirect) dan puitis. Yang dimaksud secara tidak langsung dan puitis adalah sebagai berikut: seorang kritikus perlu merespons sebuah karya dengan berkarya seni atau mencoba mengitari karya itu di pinggiran, tidak frontal, namun puitis.

Kita juga bisa memetik banyak pengetahuan dari apa yang Deleuze peroleh dari wawancaranya dengan Francis Bacon, rupawan Inggris yang terkenal dengan lukisan-lukisannya yang mencoba menangkap sebuah jeritan. Ketika ditanya Deleuze bagaimana ia menilik kembali karyanya setelah karya itu selesai dikerjakan, Bacon menjawab bahwa ketika ia mengerjakan sebuah karya, ia memakai satu set teori yang berbeda dengan ketika ia mencoba menelaah kembali karyanya setelah selesai. Dari sini, Deleuze mendapatkan kesimpulan bahwa ketika kita melihat sebuah karya seni, kita tergugah melampaui diri kita. Respons kita tidak beranjak dari ego, tetapi dari sebuah perasaan kuat yang tidak personal. Karena keterpanahan kita pada sebuah karya tidak berhubungan dengan ego kita, maka kita memandang sebuah karya seni dari sebuah jarak. Intinya, penilaian kita tidak berdasarkan sebuah reaksi personal sarat pradugaan pribadi. Maka, apa yang sering kita baca dalam berbagai ulasan film kata-kata seperti nasi basi atau omong kosong dan lain seperti itu, hanya mencerminkan sebuah reaksi yang tidak puitis dan sangat frontal. Begitu kita membaca penulisan kritikus dengan perbekalan kosakata seperti itu, kita langsung bisa menilai penulis itu hanya sebatas kritikus bukan ini atau itu.

Verisimilasi vs Realitas. Kita sering juga menemukan dalam resensi film keluhan tentang pencipta film yang kurang memiliki latar belakang tertentu sehingga ia gagal membangun sebuah realitas yang meyakinkan. Seperti film Riri Riza, Tiga Hari untuk Selamanya pernah dikritik oleh seorang kritikus dengan kata-kata yang berkisar pada kegagalan Riri Rizi pada film itu karena ia tidak mempunyai latar yang memadai untuk mengupas lingkungan hidup atau kedudukan sosial seperti yang ditampilkan dalam filmnya itu. Tanggapan seperti ini perlu diluruskan dengan beberapa contoh yang membantu. Pertama, ketika kita membicarakan sebuah karya fiksi, maka asumsi pada sebuah khayalan ataupun impian langsung terbesit dalam ungkapan kita. Sudah jelas setiap pencipta seni punya asumsi atau pun impresi yang berbeda pada realitas: keunikan sudut pandangnya justru yang membuat kita tertarik pada karyanya. Jika seorang kritikus menuntut pada seorang pencipta seni supaya ia bisa membangun sebuah realitas yang dikenal oleh orang banyak, penuntutan ini saya kira lebih tepat kalau ia ditujukan pada karya dokumenter daripada karya fiksi. Keluwesan seorang pencipta seni senantiasa berada dalam permainan realitas. Kepintarannya membangun sebuah realitas bukan karena ia begitu mahir menciptakan sebuah realitas yang begitu menyerupai kenyataan, tetapi lebih pada bagaimana sang pencipta membuat realitas itu begitu hidup atau bernyawa. Jadi realitas dalam karya-karya seni tidak berarti keselarasannya pada realitas tetapi pada kebernyawaannya dalam sebuah karya.

Simulacra dan Gerakan Palsu. Gerakan sebuah film, menurut Deleuze, adalah sebuah gerakan palsu: pergerakan kontinuitas sebuah film merupakan sebuah ilusi yang tercipta ketika 24 frame film digerakan dalam sedetik. Dan (dari Baudrillard) ketika sebuah objek ditangkap oleh kamera, apa yang ditangkap secara otomatis menjadi sebuah simulacra, sebuah jiplakan dari objek asli. Repetisi dalam proses penangkapan imaji itu akan semakin meruntuhkan keaslian yang ditangkap. Dengan demikian, semua bentuk rekaman digital ataupun seluloid tidak mencerminkan sebuah kenyataan asli. Kita bisa belajar dari sini untuk menilai dengan benar apa yang dimaksudkan keaslian sebuah situasi atau karakterisasi sebuah karya film. Rujukan pada akhirnya kembali ke apa yang saya unggapkan di atas, yaitu bukan ketergantungan pada verisimilasi karakter atau pun situasi pada realitas, tetapi pada kesenyawaan (lifeness bukan lifelikeness).

Semoga esei ini sedikit merepotkan mereka yang gandrung menulis kritikan film namun tidak sudi mendalami bidangnya, dan mengajak mereka yang berpotensi untuk mengimbangi pergelutan pencipta seni, sehingga sebuah dialog yang mengasyikan bisa tercipta dan sebuah komunitas kesenian terbangun dengan sehat dan kekar untuk kemajuan bersama.

Esei ini diterbitkan oleh Kompas, 2008

Rediscovering Raffles 200 Years On

Nearly two centuries after it was first published in 1817, The History of Java by Sir Thomas Stamford Raffles, thanks to Narasi, an independent publishing company based in Yogjakarta, is finally brought out in Indonesian language. The Indonesian version of The History of Java is a doorstopper at 904 pages, an agreeable hardbound single volume assembled from the two-volume Oxford University Presss’s original publication.

To many of us Indonesians, the name Raffles somehow has the associative ring of a posh British colonial-era club house, where we imagine, to those who read a bit, Somerset Maugham used to perch himself at the bar, with his pipe and whiskey, eavesdropping on the many tales being transacted among passing colonialists. In truth, we know less about Sir Thomas Stamford Raffles, whose name is emblazoned on the shingle of a five-star hotel and shopping arcade and a college in Singapore, than say Daendels or the many Dutch governors of Batavia. And here was a man, a great visionary, who saw well ahead of most colonialists of his time that the Borobudur Temple proved that civilization had been in Indonesia thousands of years prior and more importantly that through industrious organization and the flourishing artistic skills, any indigenous people were capable of building a great civilization, thus culture and civilization were not per se the dominant traits of white Western people. Years later, after his discovery of The Borobudur Temple and the eventual return to oblivion of the same site once Indoneisa was handed back to the Dutch, his insight was proven afresh with the discovery of Angkor Wat.

When he arrived in Batavia, he rectified the forced land utilization laws implemented by the Dutch to the more encouraging land tax reform, understanding the difference between enforced slavery and regulatory land use. His understanding of the natives was never influenced by the biased opinions of the Dutch, who repeatedly pictured Javanese as being ‘vengeful, insubordinate to superiors, despotic and ruthless to their subordinates, cunning …’ Raffles’s own assessment on the ‘Amuk’, blind rage, which had often been attributed to the insensible temperament of the natives by the Dutch was recorded in The History of Java: “This frenzy, as a crime against society, seems, if not to have originated under the Dutch, certainly at least to have been increased during their administrations by the great severity of their punishments. For the slightest fault, a slave was punished with a severity which he dreaded as much as death. He often preferred to rush on death and vengeance.”

On a mission from the British Empire clearly to furnish her coffers with as much gains as he could muster from the rich spice trade, Raffles made sure enough provisions were sent back home to satisfy his bosses in The British East India Company. The rest of his time here, ensconced in his gubernatorial mansion in Bogor, he preoccupied himself with his pursuits for rare floras and faunas of Java. He was the discoverer of many species of plants and animals, which have now been tagged with his name: among others, Megalamia Rafflesi (Red-crowned Barbet), Chaetodon Rafflesi (Latticed Butterfly Fish) and the well-known parasite plant that attaches itself on palm trees, grown rampantly in Bengkulu region, Rafflesii Arnoldii. He was also collector of the magic coins called Gobog Wayang, relics of Javenese currencies during his time in Java, 1811-1816, now collected in The British Museum.

The History of Java might be read by some as a historical tract of a period of time in Indonesian history, for me it should be rediscovered as testament of an enlightened mind whose love and passion for this country was shown abundantly in his clear-minded, unbiased work, the forerunner of many such enlightened minds as Clifford Geertz and Benedict Anderson, that helped illuminate to us the richness and complexity of our people and culture. In an uncertain time such as what we are undergoing now, what with the ridiculous disputes over our Wayang, Batik and folksongs heritages with our neighboring kinsfolk, and finger-wagging condescendence for our incompetent self-governance from the Land of Oz, we need to go back to these invaluable works time and again to remind ourselves that our potentials as a people and a nation and as a culture had long been recognized, undisputed and well-recorded by an impartial and erudite soul as Sir Thomas Stamford Raffles.

If there were a luminary from a foreign nation worthy of our reassessment, in addition to the many accepted heroes in the annals of our history such as Multatuli etc., we should definitely reconsider Sir Thomas Raffles’s status in the history of our country. For after all, his idea of Singapore as a nation state with a leading port came about only after his return to Sumatra in 1819, that too because of his attachment to Java that he never stopped regretting to have been conceded back to the Dutch.

A version of this article was published in The Jakarta Globe, November 18, 2008

Dari Nietzsche Ke Olimpiade Sastra

Pada tahun 1876, sebuah festival diselenggarakan di Bayreuth atas
prakarsa King Ludwig II, Bavaria, untuk menggelar karya-karya
komposisi Richard Wagner. Seorang filsuf tak dikenal pada waktu itu
diundang untuk menghadiri festival ini.

Filsuf itu hadir di festival Bayreuth karena, selain sebagai sahabat
dekat sang komposer, dia memang penggemar berat karya-karya Richard
Wagner. Namun, apa yang disaksikannya di Festival Bayreuth itu justru
membuat dia jatuh pingsan di tengah keramaian.

Apa yang terjadi dalam festival itu sungguh mengguncang sistem
pemikiran sang filsuf sehingga membuat dia menelaah kembali secara
kritis apa yang disaksikannya di festival itu.

Kegundahan intelektualitasnya membuahkan dua karya pemikiran filsafat
yang sangat terkenal, yakni Human, All-too- Human dan Ecce Homo. Dua
karya yang mengecam habis-habisan kemerosotan kebudayaan dan
kebobrokan moralitas kelas borjuis. Hubungan filsuf ini dengan
panutannya, Richard Wagner, sejak saat itu meretak. Filsuf ini bernama
Nietzsche.

Hari ini kita paham cikal bakal kegundahan Nietzsche pada Wagner dan
Festival Bayreuth berlandasan pada kemuakkannya pada orang-orang
borjuis yang dianggap terlalu mengagung-agungkan seorang pencipta
karya seni. Juga frustrasi sekaligus kekecewaannya pada Richard Wagner
yang, di matanya terlihat sebagai seorang seniman sejati, semestinya
tidak membiarkan dirinya dielu-elu bagaikan seorang mahadewa.

Dua abad kemudian kita perlu mengutak-atik kembali pemikiran
Nietzsche. Di abad ke-21 ini hanya para rocker dan bintang layar lebar
Hollywood yang menikmati layanan istimewa seperti yang disesalkan oleh
Nietzsche itu. Pemikir, ilmuwan, komposer, bahkan rupawan paling
terkenal sekalipun saat ini tidak bisa lagi mengimbangi kejayaan yang
pernah dinikmati oleh Sartre, Einstein, Wagner atau- pun Picasso pada
masanya. Saya yakin hanya sejumput manusia yang kenal baik nama-nama
ini: W.G. Sebald, Garrett Lisi, Alain Badiou, dan Gerhard Richter.

W.G. Sebald adalah penulis sastra yang dianggap salah satu penulis
terbesar saat ini. Garrett Lisi dengan makalahnya, A Very Simple
Theory of Everything, dianggap fisikawan yang telah menemukan sebuah
solusi elegan untuk menyatukan teori relativitas dan teori partikel
yang telah mengganggu para ilmuwan sejak masa Einstein.

Alain Badiou adalah seorang filsuf yang dianggap berhasil
mengembalikan filsafat ke jalur baru, sejak filsafat diluluhlantakkan
oleh para pemikir pascamodern. Gerhard Richter adalah rupawan Jerman
yang dianggap rupawan paling hebat di masa ini.

Hari ini mereka hanya dikenal sebagai dewa di kelompok masing-masing.
Bagi orang awam, mereka hanya nama-nama tidak berarti sama sekali.
Pada saat ini, hampir mustahil, seorang pemikir bisa menggapai
ketenaran yang begitu berpengaruh seperti Sartre ataupun mereka yang
nama-nama saya sebutkan di atas.

Wacana yang menyerpih

Di era serba fragmentaris ini, yang digambarkan oleh Nietzsche sebagai
abad “Tuhan yang telah mati” , sangatlah sulit bagi seorang seniman,
ilmuwan atau- pun pemikir besar untuk mendominasi wacana publik. Suara
orang-orang istimewa ini sudah kehilangan geregetnya. Walaupun
internet memungkinkan kita menyebarluaskan sebuah wacana ke seluruh
dunia dalam sekejap, ia juga berhasil memecahbelahkan pusat perhatian
dunia sehingga dampak sebuah wacana menjadi serpihan-serpihan tak berarti.

Di dunia cerai-berai seperti sekarang ini, komik, seni rupa, seni
performa, apa saja yang mudah dicerna dan tidak membuat jidat mengerut
menjadi penguasa di bidangnya. Alasannya sangat sederhana, mereka
mempunyai daya tarik massal yang tinggi. Semakin berpengaruh massa
itu, semakin sederhana tuntutan manusia pada sebuah karya seni.

Manusia modern tidak lagi memiliki waktu untuk menafsir sebuah karya
seni secara saksama. Semuanya harus supra cepat dan tidak bertele-tele.

Maka kapasitas berpikir dan daya ingat pun menjadi semakin dangkal dan
manusia pun kehilangan toleransi dan kesabaran. Dalam list bestseller
New York Times sekarang nama-nama seperti John Grisham dan Daniel
Steele mendominasi.

Di zaman sekarang, asal kasar, melawan konvensi dan tebal muka,
karya-karya tersebut akan diserap langsung oleh masyarakat.

Dalam keadaan seperti ini, maka tidak heran dan perlu kita syukuri
keagresifan negara-negara berkembang dalam mempromosikan kebudayaan
dan pencipta seni ataupun pemikirnya. Mereka dianggap sebagai
aset-aset nasional yang perlu didukung karena mereka menonjolkan
kebudayaan dan memperkenalkan keunikan peradaban masing-masing negara,
yang pada ujungnya merupakan sebuah tindakan yang bersifat politis dan
pragmatis karena ia meningkatkan turisme dan pemasukan devisa. Apa
yang ditakutkan oleh Nietzsche, dua abad kemudian menjadi sebuah hal
yang perlu kita dukung secara mutlak.

Di negara-negara yang lebih maju, di mana bergelimang kekayaan
pribadi, banyak filantropis yang bermunculan. Kepedulian mereka tidak
hanya di tingkat kepantasan seorang individu mengembalikan ke
negaranya apa yang telah mereka keruk darinya. Alasan mereka kini jauh
lebih pribadi dan mendalam: bagi sebagian filantropis urusannya bukan
lagi altruisme, tetapi sebuah kecintaan mendalam pada bidang-bidang
kesenian yang mereka dukung. Beberapa nama belakangan bermunculan
menjadi pahlawan filantropis: Bill Gates, Oprah Winfrey, dan Maurice
Saatchi.

Agresivitas budaya

Tidak heran bila kemudian kita menyaksikan pertumbuhan yang begitu
dahsyat di berbagai bidang kesenian dan kebudayaan di negara-negara
yang begitu agresif membelanya. Mengikuti jejak negara tetangganya,
Jepang, Korea secara agresif mempromosikan kebudayaannya di negara kita.

Negara-negara Eropa sudah bertahun-tahun mempromosikan kebudayaan dan
keseniannya di negara kita. Negara-negara Amerika Latin seperti Cile
dan Brasil juga tidak mau kalah dalam mempromosikan keunikan
kebudayaan mereka. Melalui prakarsa yayasan Pablo Neruda, misalnya,
Cile pernah memberikan Pramoedya Ananta Toer sebuah penghargaan.
Brasil saat ini sedang mempromosikan Capoera dan kulinernya kepada
masyarakat kita.

Di negeri ini, sebuah aksi agresif yang mendayagunakan produk budaya
sebagai senjata utama penegakan karakter dan integritas sebuah bangsa
tidak tampak dalam setiap kebijakan publik maupun jargon para calon
pemimpin yang sibuk untuk dipilih belakangan ini.

Tak ada semacam strategi kebudayaan yang kuat, visioner, dan
progresif. Kesenian sebagai produk budaya terpenting menjadi komoditas
alientif dalam retorika politik-ekonomi kita yang riuh. Terlebih
kesusastraan, sebagai satu puncak kesenian, mendapatkan apresiasi yang
hampir nol di kalangan elite kita.

Belum lagi posisinya yang tak hanya terpojok karena desakan teknologi
digital seperti video games dan perangkat informasi-komunikasi, sastra
pun menjadi bidang yang dianggap kurang menjanjikan oleh orang muda
saat ini. Penulis-penulis sastra serius harus berjuang mati-matian
untuk bisa mencukupi keperluan sehari-hari hanya untuk sekadar
bertahan hidup dan setia pada profesi. Dan terlalu minim kebijakan
publik yang mau menyentuh hal itu. Kemiskinan sastra terjadi sudah
secara struktural; tertolong karena kegigihan para aktivis/pelakunya saja.

Oleh karenanya, di tengah ribut kita pada upaya promosional dengan
program binaan atau penyelenggaraan berbagai olimpiade sains, betapa
bermartabatnya bila juga diikuti oleh sebuah ide bagi penyelenggaraan
sebuah olimpiade sastra. Yang melibatkan segala lapisan masyarakat
luas, yang tak hanya menggalakkan apresiasi dan penciptaan sastra,
tetapi juga kian meneguhkan karakter kebudayaan kita yang dihargai
dunia sejak beberapa milenia lalu. Dalam gelapnya, sastra memerlukan
bintang-bintang yang menyelamatkan pelayarannya.

Dimuat di Kompas 11 Oktober.

A Passion Beyond Fear

The Snake Charmer
A Life and Death In Pursuit of Knowledge
By Jamie James
Hyperion
260

The fascination with nature’s most unpredictable beasts has often persuaded some people that they are so well equipped with mastery of their subjects to be in any peril. We have seen, however, with the recent deaths of Steve Irwin, the wild life expert, who was stung by a giant stingray off the Great Barrier Reef, and Timothy Treadwell, a bear enthusiast, who was devoured by one or two grizzly bears in Alaska, how misguided this belief can be.

Jamie James’ The Snake Charmer gives an engrossing account of a maverick that fell victim to his own fatal attraction with nature. In the monsoon season, in the remote location in the jungle of Burma, a herpetologist called Joe Slowinski, met his death by the subject of his study, a many-banded krait, a species of snake found mostly in the jungles of India and Southeast Asia. The circumstances of his death are still heatedly debated among witnesses and various experts. Some blame his Burmese assistant who informed Joe that the specimen in the bag was not poisonous. Joe reached into the bag, an imprudent act considered by the experts unlikely to have been committed by a recognized authority, and the bite that he received was not that of Dinodon septentrionalis, a benign dead ringer of the krait, but that of the real thing, the many-banded krait. As soon as he had been bitten, Joe described to his colleagues in eerie precision what would happen:

As his friends gathered around, Joe calmly explained what was happening to him. No one in the world knew more about the venom of Bungarus multicinctus than Joe Slowinski. He described the effects of a slowly deepening paralysis: the snake’s venom works on several different parts of the nervous system simultaneously, blocking the nerve impulses that transmit instructions to the muscles, including those required to maintain life. There will be no pain, he told them. “First my eyelids will drop; I won’t be able to hold them up.” Soon he would lose the ability to speak and move his limbs, he said. Within a few hours, his respiratory system would shut down: The paralyzed central nervous system would be unable to instruct the diaphragm to breathe, causing a swift death by asphyxiation.

Jamie James’ immersion into his subject is so total that as we read this book, we cannot help feeling that there’s bondage between Jamie James, the writer, and Joe Slowinski. The connection I suspect is through both men’s passion for the pursuit of knowledge. In all the years I’ve known the writer, who is an acclaimed international journalist and novelist who has written such diverse subjects as madness and strangeness, music of the spheres, exotic landscapes and currently resides in Bali between stints that take him to various places in the world, I’ve never heard him talk about snakes.  My personal impression of Jamie as an affable and soft-spoken sensitive soul suggests to me that he might even suffer from Ophidiophobia, fear of snakes. Chapter after chapter, we follow the writer as one would an expert guide in a foreign terrain. Jamie James’ tenacity in the pursuit of his subject greatly matches his subject’s.  Joseph Bruno Slowinski’s first encounter with snakes began when he was merely five years ago. Raised in a family of artists, his father, a devout Catholic, is a painter teaching in a college, his mother, an atheist and an artist in her own right, Joe shocked his parents one sunny morning:

Dropping paintbrush and charcoal, the young parents ran toward their children on converging paths through the tall weeds that fringed the orchard. They found Joe surrounded by a knot of distraught adults, enjoying himself enormously as he brandished a writhing black snake over his head – a snake longer than he was, and as thick as his own little arms.

Joe’s father, Ron, says this about his son, “Joe always thought of himself as a critter, not a person.”

The Snake Charmer is Jamie James’ seventh book. His patient and passionate work for this book has paid off tremendously. Various acclaimed reviews have started to crop up from various quarters. Jamie James has brought into lasting memory a man whose passion for nature and knowledge has exceeded his fear of death.

Rise of The Sudra Prince

Pramoedya Ananta Toer’s
Arok of Java: A Novel of Early Indonesia
Translated by Max Lane
Horizon Books
387 pages

In his final critical hours, Pramoedya was rushed to a hospital. Lying in bed struggling for his life, he surprised everyone at his bedside with a request for his favorite kretek cigarette. When told he was not allowed to smoke in hospital, he asked to be immediately removed back to his house. His last wish finally granted, he took a few puffs at his kretek cigarette and passed away. Those final moments could very well sum up Pramoedya’s life as a man and a writer: an undaunted man who fought unflinchingly against any forms of injustice, repression and inhumanity.

Arok of Java, translated by Max Lane, is a much-anticipated addition to the collection of Pramoedya’s works that have been made available to English-speaking readers. The originally titled Arok Dedes was published in 1999. Compared to the preeminent Buru Quartet, it is not much known abroad, except for a handful of Pramoedya’s scholars. It is nonetheless an important work that eerily foretells the political state we are in today. Pramoedya showed that greed, intrigues, betrayals, racial and religious conflicts brought on by those in power often result in the loss of the lives of common people and are as recurrent in the past as in present day Indonesia.

Set in the year 1140 Saka (1220 A.D), in a Gubernatorial State of Tumapel under the reign of King Sri Kretajaya in Kediri, Arok is a tale of the rise of a sudra (the lowest Hindu caste) young man with unknown parentage named Arok who learns from a Budhist monk and a Vishnu Bramin to become a ksatria, a warrior, to lead a band of commoners just like himself to topple the rule of the ruthless brigand-turned Governor of Tumapel, Tunggul Ametung. What makes the novel especially intriguing is the way Pramoedya details Arok’s rise through his clever maneuvering rather than his skills as a warrior to penetrate into Tunggul Ametung’s inner-circle and with the help of Ken Dedes, the beautiful but reluctant consort of the Governor, for she was kidnapped from her village and forced to marry the villain, finally trumps the evil ruler.  For Pramoedya, the kstarias, the military, are basically untutored brutes manipulated by lure of greed and power, just as Tunggul Ametung by the King of Kediri. The Brahmins, the educated elite, are also scathingly criticized for being uselessly inert in their wisdom. Arok, being of the lower caste, educated by a Budhist teacher and A Brahmin master to read Sanskrit and the lontars, historical tracts, is the perfect amalgamation of a scholar-warrior approved by the Brahmins to take on the task of taking down the corrupt ruler of Tumapel. In the end, Arok wins the admiration and the heart of the Brahmini Ken Dedes, but there is a hint that she, too, cannot stand having to share power with a man not of Hindu blood. One gets a sense in the end that the prolonged conflicts involving race and religion can never be truly resolved unless one makes real efforts to respect another human being despite his/her creed or race. Arok’s triumphant address to his supporters clearly points this out: “Look now. Here I am a worshipper of Shiva, my wife Umang, worshipper of Vishnu, my adopted father Bango Samparan and also Ki Lembung are Vishnuites. My teacher, respected Tantripala is a Buddhist, my master teacher His Holiness Dang Hyang Lohgawe is a Shivaite. The good laws that have lasted now for two hundred years were the blessed gift of a Vishnu king, Sri Erlangga. The goodness of a person cannot be judged by how he worships the gods but by his behavior towards his fellow human beings.”

When the novel was banned during the New Order regime, there was much speculation that Arok Dedes was aimed at Suharto, who arose from the peasant stock and later ruled the country by force. Max Lane in his preface leaves this open for our speculation, drawing our attention rather to the historical parallel of the first president, Soekarno. Whichever way the allusion might seem to point, I believe that Pramoedya’s main concern is much broader and sweeping. He shows us that throughout our fragile history innocent blood has been shed because of the self-interest of a small ruling group of people grappling for power. These people are often described by Pramoedya as the priyaji, or in his harsher description, ‘the clowns.’ Pramoedya maintained to the end of his day that the current so-called reformasi politicians are but clowns who don’t know how to lead. One is inclined to speculate at the end whether Arok will rule as wisely as all the people of Tumapel hope he will. With the highbrow Ken Dedes, who has had of a taste of power since moving into the Tumapel palace, on one side and his brave but unpolished peasant wife on the other side, Arok is, no matter how well-intentioned his vision might be, indeed in a double bind. Perhaps Arok should have heeded more closely what his Brahmin master Lohgawe has hinted at when he recounted to Arok about his restless search for the secret of Budhism’s great power. Lohgawe travels all over until one day he arrives in Ceylon and encounters a monk by the name Viriyasanti who poses this question to him: “Why does my honored friend seek the secret power of Buddhist beliefs? Is not that power to be found hidden in every person? From among all the people, one individual rises up, others carry out his will. Great worldly achievements occur because others are ready to bow down before him as his slave. He is a king. Does my honored friend aspire to become a king?”  Lohgawe ceases his search because he chooses to be a humble fumbler of knowledge.

Arok of Java is a seamlessly crafted tale unfolding initially through the viewpoints of each character taking off from different departure points of the narrative to be rejoined into one thrusting stream in the final chapters. Page by engrossing page is brought vividly alive by Pramoedya’s mastery of the era, its religion, myths and history. Max Lane’s translation captures the simplicity of Pramoedya’s prose and focuses meticulously on the flow of narrative rather than nitpicking on individual word choices. Although it is marred occasionally by such editorial mishap as misspellings of Tunggul as Tunggal Ametung, it is nonetheless a smoothly rendered work we should all be grateful for.