Category Archives: Literature

The Wrath of Achilles

An Iliad
By Alessandro Barrico
Vintage
158

Alessandro Barrico, of the fame of Silk, had an idea. He thought it was a neat idea to read Homer’s Iliad to a paying audience in Rome. He soon found out that the length and the archaic language and the structure of the original classic tale would be too tiresome to modern public. He came up with a clever solution. He cut out passages, all those Greek paeans, invocations, and lengthy descriptions that hindered the progress of a spanking good read. Then, he went on and did something really daring: he made the major and some minor characters in the tale recount from their perspectives the battles between the Achaens and the Trojans, caused by the abduction of Helen of Argos by Paris. The battles lasted more than a decade until Odysseus came out with the brilliant idea of the Trojan horse to end the war. As it turned out, Barrico’s idea worked, judging from the people who packed the readings, and later through the public broadcasting system to enthralled listeners.

This book, An Iliad, is the result of that successful experiment. But how successful it is in book form? I imagine that while reading this tale the reader or readers must have added plenty of flourish to each of the character, but reading it through in a book I found it rather hard to distinguish Hector from Achilles. In Barrico’s abbreviated version, the characters come off rather crisp and clean-cut. The tale of Achilles’s eventual participation in the battle because the death of Patroclus, his cherished friend, looms so large as a plot it somehow blots out the necessity of characterization. As it is, it reads like a modern day thriller, spearheading toward the culmination of the events, the battle between Hector and Achilles. Without the vexing digressions and cumbersome distractions of Homer’s paeans and invocations, An Iliad is truly an engrossing book. One could almost get through it without any trouble in one sitting.
Continue reading

Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia?

Selain bahasa yang sering disebut-sebut sebagai salah satu biang yang mengakibatkan krisis sastra masa kini di Indonesia, moralitas juga sekarang menjadi fokus para penulis senior ataupun para akademisi. Saya merasa sangat terusik untuk membahas soal krisis moral dalam sastra Indonesia yang konon oleh beberapa penulis senior ibarat tubuh yang sudah kehilangan kepala. Yang dimaksud penulis-penulis ini tentu saja adalah sastra modern seakan-akan sangat terjerumus dalam persoalan eros dan erotisisme ketimbang moralitas.

Pergunjingan soal moralitas muncul dalam kesusastraan dan kebudayaan pada awal agama mulai tersebar luas dalam peradaban. Sebelumnya moralitas dalam karya-karya drama ataupun mitos Yunani terasa sangat terbuka dan sifatnya tidak mengkhotbah, tetapi lebih sering merupakan sebuah ungkapan dari kehidupan, atau lebih tepatnya seperti disebut oleh Nietzsche, The Gay Science, yang intinya adalah bahwa moralitas pun merupakan suatu aspek ringan atau komedi dalam kehidupan kita. Moralitas menjadi momok yang sering dipergunakan oleh para wali keagamaan untuk menindas para pemikir dan pekerja kesenian selama berabad-abad. Walaupun demikian, dari masa ke masa, dari peralihan zaman pencerahan hingga ke era Victoria hingga masa kini, moralitas tidak hentinya digempur oleh para penulis dan seniman di mana pun.
Continue reading

Siapa Takut, Nirwan Dewanto?
Mengembangkan Sastra dengan Merebutnya dari Para Ahli Sastra

Ada beda yang sangat kentara antara penulis sastra dan ahli sastra. Seorang penulis sastra berusaha, dengan serampangan tanpa mengikuti suatu metode, memetik apa saja dari sumber sastra untuk tujuan seninya. Ia mengolahnya untuk mengisi kebutuhan seninya. Yang ia pelajari bukan sintaksis atau teori, tapi gerak “menuju pengungkapan baru, menghancurkan ekspektasi genre yang ada”. Seorang ahli sastra, anggaplah dia akademikus di fakultas sastra, berusaha terus mengolah dari sastra sumber-sumber yang bisa disatukan dalam suatu teori atau persepsi yang kemudian dibakukan menjadi metode. Untuk meyakinkan kolega, mereka menulis temuan mereka dalam bentuk makalah dengan bahasa formal sarat jargon akademis.

Bagi dunia sastra inilah soalnya. Bagaimana bisa kita kembangkan sastra dengan panduan yang begitu kaku dan teoretis? Berbagai makalah sudah ditulis tentang puisi TS Eliot, The Waste Land. Begitu hebat makalah-makalah tentang puisi ini, sampai-sampai mahasiswa takut mendekatinya. Takut, seperti akademisi yang pertama kali diperkenalkan dengan puisi ini tahun 1922. Pada waktu itu ahli sastra tak memahami makhluk baru yang mereka hadapi. Dalam kekalutan penafsiran mereka, diperkeruh lagi dengan catatan tambahan di akhir puisi itu, pengejaran pada makna The Waste Land makin dahsyat. Semakin kalut pencarian para akademisi, semakin salut mereka pada kehebatan puisi ini.

Continue reading