Cogito itu Si Binatang Jalang oleh Robertus Robet
Kalau Revolusi Perancis sering dianggap sebagai ekspresi politik paling tinggi dari semangat Pencerahan, maka ekspresi dari subyektifitas Pencerahan yang paling tinggi yang pernah mampir di Indonesia bisa dikatakan ada dalam sajak-sajak Chairil Anwar. Bagaimana mungkin? Apa manfaatnya buat kita sekarang?
“Aku” sebagai Deklarasi Subyek Pencerahan
Bukan kebetulan bahwa pengenalan kita mengenai semangat jaman dari era Pencerahan terumuskan dan dimulai dengan kata yang sama sebagaimana pengenalan kita terhadap Chairil Anwar yakni pada kata “AKU”. “AKU” di Chairil berpadanan dengan “AKU” pada “Aku berfikir” alias cogito dari cogito ergo sum yang dikemukakan Descartes yang menjadi dasar bagi penemuan subyek Pencerahan.
Pada Pencerahan, pengenalan awal kepada “AKU” bukanlah pengenalan yang lembek, main-main dan semata-mata personal yang sama sekali tidak memiliki implikasi atau pengaruh nyata bagi kehidupan orang banyak dan tatanan secara umum. Pengenalan kepada “AKU” pada awalnya adalah awal bahkan akar dari suatu gerakan: penemuan akan “AKU” adalah bagian penting dari pendobrakan dan pembalikan dari jaman kegelapan kepada jaman baru.
Tidak pernah diketahui secara persis kapan Pencerahan itu dimulai, namun secara politik, banyak kepustakaan memperkirakan gejala sekitar tahun 1680an terutama setelah Glorious Revolition tahun 16800 di Inggris sebagai titik awal. Namun secara estetis, para ahli menunjuk periode yang lebih awal, yakni seputar tumbuhnya gerakan Rennaisance di sekitar Italia tahun 1500an, sementara secara antropologis ia merujuk pada temuan cogito dari Descartes yang kemudian digunakan oleh Kant untuk membentuk konsepsi antropologi filosofisnya mengenai subyek.
Aspek subversif Pencerahan dan penemuan tentang aku memiliki sejumlah ciri awal; yang paling jelas adalah kepercayaan akan akal-budi manusia sebagai ganti keyakinan buta kepada tradisi dan doktrin-doktrin agama. Kant mengatakan ‘have courage to use your own reason”. Dari sini dibangun suatu pandangan baru mengenai kemanusiaan atau di dalam Chairil disebut dengan istilah panjang ‘harga sebagai manusia dengan kepribadian’. Bahwa manusia bukanlah mahluk yang secara alamiah korup sebagaimana disodorkan oleh doktrin agama, melainkan justru mahluk yang lengkap oleh karena otonomi dan kesadarannya.
Dengan itu, individualitas manusia atau konsepsi “AKU” menjadi inti dari semangat jaman ini. “AKU” dikokohkan sebagai pusat dan pencipta makna-makna, kebenaran bahkan realitas-realitas. Dengan ini terjadi pergeseran yang radikal antara manusia sebagai subjectus dengan manusia sebagai subjectum. Manusia sebagai pengemban tugas di bawah doktrin tradisi, struktur dan otoritas agama, menjadi manusia sebagai subyek yang transparan, bebas dan otonom.
Membaca Cogito melalui Chairil Anwar
Deklarasi paling artikulatif dari pengenalan akan cogito jelas ada di dalam sajak AKU. Uniknya, sebagaimana sudah diketahui banyak orang, Chairil Anwar menulis sajak ini dalam dua versi. Dalam kumpulan Deru Campur Debu sajak itu ia beri judul Aku, sementara dalam kumpulan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus , sajak yang sama berjudul Semangat. Di sini perbedaan judul pada sajak ini sebenarnya justru lebih merupakan petunjuk akan adanya kesamaan substansial. Perbedaan ini bukan kebetulan, ia menunjukkan suatu proses mental yang cocok satu sama lain bahwa di dalam Chairil jangan-jangan AKU memang dimengerti dan hendak didefinisikan dalam interioritasnya yakni Semangat. Sehingga dengan demikian perbedaan judul di sini sebenarnya –secara tak sadar- justru merupakan persamaan dari keduanya.
Dengan demikian di sini Chairil meyakini suatu pandangan ‘esensialis” bahwa manusia adalah sebuah substansi mental.
Aku/Semangat
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang “kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Yang perlu ditekankan di sini adalah AKU di sini dimaknai secara khas Cartesian. Ini ditunjukkan dalam sajak ini betapa “AKU” adalah’AKU” yang mengatasi lingkunganku, mengatasi struktur yang mengancamku. Dikatakan, “Biar peluru menembus kulitku. Aku Tetap meradang menerjang. Dalam bentuknya yang paling radikal, “AKU” di sini bahkan berkehendak mengatasi dunia dan keterbatasan materialnya, bahkan terhadap kematian, sehingga ia mengatakan “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Sementara pada sajak lain ia mengatakan:
Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati.
(Sajak Merdeka, 14 Juli 1943)
Kalimat “Kucoba dalam mati” secara ekstrim memperlihatkan kuatnya peran kesadaran yang nyaris ‘Buddhistis” di mana bahkan kematian pun seakan bisa disetel atau dikendalikan oleh kehendak. Ini yang juga ditegaskan lagi dalam syair dalam sajak Yang terempas Dan Yang Putus, di mana ia menjelaskan tempat istirahatnya yang terakhir di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin. Kematian bukan lagi urusan panggilan buta nasib dan alam terhadap manusia melainkan hasil dari kesadaran. Kesadaran yang transparan dan otonomi radikal ini kemudian juga ditunjukkan dalam sajak lain yang berjudul Pemberian Tahu yang menegaskan:
Bukan maksudku mau berbagai nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing
Dari sini bisa kita katakan bahwa dalam kondisi di mana kematian bisa diatur dan ditentukan dengan kesadaran maka “AKU” selalu berada dalam wilayah perbatasan ke arah bunuh diri rasionalitas. Di sini “AKU” telah diposisikan sedemikian tinggi dan berkuasa penuh atas tubuh, sehingga “AKU”telah menjelma menjadi tuan, sementara tubuh dan dunia berubah menjadi budak. Persis sebagaimana nalar pencerahan yang memandang manusia sebagai subyek, sementara alam –termasuk tubuh manusia sendiri- sebagai obyek.
Dari sini kita mendapatkan indikasi awal tapi justru paling jelas, bahwa “AKU” adalah Aku yang Sadar. Sadar atas apa? Sadar atas atau mengatasi seluruh dunia obyektif di luar diriku. Dengan demikian di sini, “AKU” di dalam Chairil Anwar lebih merupakan semacam ‘inner distance” dari substansi terhadap dirinya sendiri, atau dalam bahasa Hegelian ’AKU” merupakan semacam penarikan terhadap dunia aktual, di mana jiwa dilokalisir ke dalam ‘dirinya” sendiri. AKU adalah pemenggalan diriku dengan dunia dunia di luar sana! Dunia yang kupermenungkan, kusangsikan sekaligus kuremukkan.
Kita guyah lemah
Sekali tetak tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian
Mari tegak merentak
Diri-sekeliling kita bentak
Ini malam purnama akan menembus awan.
(Sajak Kita Guyah Lemah, 22 Juli 1943)
Aspek inner distance ini secara halus nampak dari kalimat yang unik “Diri-sekeliling kita bentak”. Diri-sekeliling bisa diartikan sebagai “diri-diri” atau yang berada di sekililing atau orang lain atau “yang bukan Aku”, tetapi bisa juga adalah diri sebagaimana yang kupahami untuk melalui akalku, melalui bahasa. Dengan demikian Diri-sekeliling di dalam sajak ini, bisa jadi adalah “AKU” pangkat dua: “AKU” yang terpahami oleh “AKU” dan kemudian kubahasakan lagi sebagai “AKU” sehingga menjadi “AKU” yang berada di luar “AKU”. Diri-sekeliling bukan lain adalah “AKU” yang sudah kualienasikan melalui kata-kata –makanya dengan nekad ia bisa obyektifikasi dalam kata berikutnya: kita bentak!
Di sini “AKU” bukan lain adalah pancang yang membelah antara dunia-dunia di luar diriku dengan subyektifitasku, sebuah persimpangan antara yang obyektif dengan yang subyektif. Dengan demikian, di dalam sajak-sajak ini, manusia bagi Chairil Anwar bukan lagi adalah sebuah kesadaran yang memediasai antara yang obyektif dengan yang kultural. Artinya, “AKU” bukan lain adalah sebuah ruang kosong yang memungkinkan dialog antara yang subyektif dengan yang obyektif. Lebih jauh lagi, dengan memandang subyek sebagai kekosongan maka, antara ‘AKU” dan kebebasanku bersatu sebagai substansi yang tak terceraikan.
Namun demikian, dalam pendefinsian semacam ini, muncul kesulitan yakni persoalan mengenai bagaimana subyek mengenali dirinya sendiri? Di sinilah kemudian kata-kata menjadi penting. Untuk mengenali dirinya dan memisahkan dirinya dengan dunia obyektif itu, subyek perlu mendapatkan medium untuk memanggil dirinya sendiri. Di dalam Chairil kenyataan ini dialami persis dalam skema tahap cermin Lacanian:
Aku Berkaca
Ini muka penuh luka
Siapa Punya?
(Dari sajak Selamat Tinggal)
Cermin medium pengenalan diri juga terungkap dari sajak Penerimaan yang mengatakan:
Kalau kau mau kutrima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cernin aku enggan berbagi.
Dari potongan sajak ini, jelas terungkap kalau ia memahami secara persis bahwa manakala bercermin subyek telah membagi atau membelah dirinya. Dengan itu sini di, keenganan membelah diri ke dalam subyektifitas lain menunjukkan kehendak untuk otentisitas dan otonomi.
Dalam posisi yang lebih ekstrim, ini ditegaskan lagi dalam sebuah sajak yang berjudul Di Mesjid:
Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga
Kami pun bermuka-muka.
Seterusnya Ia menyala-nyala dalam dada.
Segala daya memadamkannya
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
Gelanggang kami berperang
Binasa-membinasa
Satu menista lain gila.
Dalam ‘kekosongan” “AKU” mencoba memediasai segala intrusi, ia berupaya melawan, oleh karena itu ia mengatakan: Segala daya memadamkannya. Bersimpuh peluh diri yang tak bisa diperkuda. Ini ruang Gelanggang kami berperang. Hasil dari pertempuran dalam ruang kosong “AKU” itu adalah kegilaan! Persis sebagaimana disebutkan sendiri olehnya dalam kata-kata: Satu menista lain gila. Bukan kegilaan dalam arti ‘sakit’, melainkan kegilaan dalam arti yang paling produktif: kegilaan sebagai akibat kesadaran yang tak pernah berhenti untuk sadar, kegilaan sebagai bentuk kesadaran dalam status patroli simultan dan siaga penuh. Dengan kata lain di dalam “AKU” kesadaran sekaligus adalah ketaksadaram (kegilaan)
Status kesadaran/kegilaan yang dinamis sekaligus kokoh ini yang membuat “AKU” dalam Chairil tidak mudah terjatuh dalam peleburan yang mengahancurkan identitas otonominya. Ini terlihat dalam perbandingan dari dua sajak lain yang ditulis dengan nuansa relijius, misalnya saja dalam sajak doa. Di dalam sajak Doa jelas ada sikap penyerahan kepada ‘yang transenden’
Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Namun demikian pengakuan kepada yang transenden di sana tidak dengan serta menghanguskan kesadaran dan posisi diri yang transparan. Di sini ‘doa’ betul-betul hanya wujud dari perjumpaan subyek dengan kesadarannya dalam privasi mutlak. Keyakinan kepada yang transenden di sini tidak serta merta menjungkalkan otonomitasnya dihadapan struktur atau ‘yang simbolik’. Ini kelihatan dengan jelas dalam sikapnya yang tegas, bahkan skeptis terhadap penamaan dari ‘Yang Transenden” itu, ini kelihatan dengan jelas dalam sajak berjudul Sorga yang ditulis 25 Februari 1947
Seperti ibu+nenekku juga
tambah tujuh turunan yang lalu
aku minta pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi+Muhammadyah bersungai
susu
dan bertabur bidari seribu
Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya berkering dari kuyub laut biru,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
di situ memang ada bidari
suaranya berat menelan seperti Nina, punya
kerlingnya Jati?
Kepercayaan kepada yang transenden tidak secara otomatis diikuti keyakinan kepada konstruksi simbolik-strukur-institusinya. Di sini keyakinan Chairal adalah keyakinan yang individual yang terus disertai skeptisisme. Itu sebabnya dalam sajak di atas, sebagai pengimbang dari yang transenden ia tetap mengatakan “tapi ada suara menimbang dalam diriku nekat mencemooh…” Pertemuan dengan yang transenden selalu dihadapi dan ditawar balik dengan ‘penemuan” akan kesadaran. Dengan demikian pertemuan dengan Yang Transenden di dalam Chairil bukanlah hasil perintah, doktrin, UU dan Perda melainkan pertemuan dalam kesadaran.
Dari sini jelas buat kita bahwa “AKU” di dalam Chairil Anwar bukan lain adalah substansi dasar dari subyektifitas. Konstruksi subyek semacam ini, secara jelas telah mengulang kembali matriks antropologi filosofis Cartesian yang dibangun melalui koordinat yang menghubungan tiga unsur yakni pertama Subyek yang menemukan dirinya sendiri (res cogitan) terlebih dahulu, kedua, baru dari situ ia mengenali obyek di luar dirinya (res extenza), dan ketiga untuk kemudian pada akhirnya berdialog dengan apapun termasuk dengan yang transenden.
Setelah Gagalnya Ideal Manusia Indonesia Seutuhnya
Di dalam sajak-sajaknya Chairil Anwar menemukan “AKU” sebagai sebuah ‘inner distance”, atau sebuah persimpangan antara dunia obyektif dengan yang cultural. “AKU” adalah sebuah ruang kosong yang terus bertahan menghadapi tekanan dan kemerosotan, terus tanpa henti-hentinya. Di sini “AKU” Chairil Anwar ini merupakan ‘kegilaan’ yang paling sehat dan produktif karena ia secara paradoksal diminta tetap sadar justru guna menjaga kekosongan di dalamnya sendiri. Dari sini sebenarnya, Chairil Anwar sudah merumuskan sebuah benteng ontologis bagi kebebasan manusia melalui karya estetisnya. Kebebasan yang bersifat ‘self-evidence” karena berakar di dalam subyektifitas manusia sendiri.
Temuan ini tentu saja penting dan secara tak sengaja memposisikan sajak-sajaknya ke kepada suatu implikasi antropologi politik tertentu. Implikasi ini baru nyata setelah kematiannya yakni pada peristiwa penolakan sejumlah pihak terhadap penetapan hari kematiannya yakni tanggal 28 April sebagai Hari Sastra, sebagaimana disinggung oleh penyair Sapardi Djoko Damono dalam Kata Penutup buku Aku Ini Binatang Jalang.
Subyek dalam Chairil Anwar memang bukanlah subyek dengan gelegak emansipasi yang tertuju-pasti dan penuh sebagaimana yang dikehendaki oleh para pengkritiknya dalam era pergolakan ideology tahun 60an. Subyek Chairil jelas bukan tawaran yang seksi untuk ideology kiri, tapi yang pasti subyek Chairil merupakan wilayah batas sekaligus fondasi antropologis yang tetap bisa menjadi dasar ontologis bagi kemampuan emansipasi. Karena bukankan subyek yang transparan, otonom dan penuh skpetis ini sendiri sebenarnya diam-diam yang menjadi ideal dari seluruh gerakan emansipasi yang beranak dari tradisi Pencerahan?
Dalam sejarah politik kita, berbagai percobaan telah dilakukan untuk menaklukan benteng kebebasan manusia ini. Dulu, yang paling jelas melalui konseptualisasi dan standarisasi Orde Baru mengenai apa yang disebut sebagai “Manusia Indonesia Seutuhnya”. Konsepsi semacam ini tidak hanya mencoba mengisi secara total serta memancang semacam standar kaku mengenai siapa manusia tetapi sekaligus mencoba mengendalikannya. Dari sejarah, kita tahu eksperimen ini sudah gagal total.
Namun demikian, obsesi –bahkan boleh dibilang ilusi- untuk terus mengisi secara total ‘persimpangan” dalam subyektifitas ini masih terus dilakukan oleh berbagai upaya dan berbagai pihak. Penetapan secara represif (melalui Perda, UU) modus-modus kehidupan individual serta “penataan” maupun “pengisian” ruang-ruang privasi manusia yang dilakukan atas nama agama dan Negara merupakan bentuk dari totalisasi yang lain lagi, yang sama halnya dengan totalisasi Orde Baru, juga mencoba untuk menstandarisasi subyektifitas manusia. Cara semacam ini bukan lain adalah suatu eksperimen untuk menggoda dan menghancurkan kebebasan.
Namun demikian, dari sajak-sajak Chairil Anwar ini kita tahu bahwa oleh karena secara ontologis manusia itu sendiri adalah sebuah kekosongan dan dialektika permenan, maka kebebasan di dalamnya otomatis telah terinstalasi secara permenen pula. Dari sini sebenarnya, ia hendak menegaskan bahwa segala upaya untuk menaklukkan kebebasan manusia adalah upaya yang sia-sia! Lantas, buat kita sekarang, kalau benar kita konsisten dalam menolak segala bentuk pembakuan manusia atas nama apapun, maka bukankah sudah waktunya bagi kita untuk mengatakan kepada siapa saja, sebagaimana dan bersama-sama dengan Chairil Anwar bahwa ‘si binatang jalang’ inilah satu-satunya pilihan identitas dan kepribadian kita. Subyek tidak pernah menjadi ujung yang serba lengkap, utuh, total dan final-sempurna, tapi ia juga bukan fragmen yang sama sekali remuk. Ia memang sekadar persimpangan. Tapi sebagaimana dikatakan Zizek, setiap persimpangan antara kesempurnaan dan ketaksempurnaan, jauh lebih sempurna dari kesempurnaan itu sendiri.
Robertus Robet
Depok, 22 Juni 2008
poet and poems