<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Dari Nietzsche Ke Olimpiade Sastra</title>
	<atom:link href="http://richardoh.net/dari-nietzsche-ke-olimpiade-sastra-oleh-richard-oh-54.php/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://richardoh.net/dari-nietzsche-ke-olimpiade-sastra-oleh-richard-oh-54.php</link>
	<description>Talks about Books, Films and Philosophy</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Nov 2011 15:52:31 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Allegro.pl</title>
		<link>http://richardoh.net/dari-nietzsche-ke-olimpiade-sastra-oleh-richard-oh-54.php/comment-page-1#comment-1555</link>
		<dc:creator>Allegro.pl</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 18:33:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://richardoh.net/?p=54#comment-1555</guid>
		<description>Itís arduous to search out knowledgeable individuals on this subject, but you sound like you realize what youíre talking about! Thanks</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Itís arduous to search out knowledgeable individuals on this subject, but you sound like you realize what youíre talking about! Thanks</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Richard Oh</title>
		<link>http://richardoh.net/dari-nietzsche-ke-olimpiade-sastra-oleh-richard-oh-54.php/comment-page-1#comment-545</link>
		<dc:creator>Richard Oh</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 12:39:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://richardoh.net/?p=54#comment-545</guid>
		<description>@ Adi Nugroho: Kita perlu berhati-hati menafsirkan Ubermesch nya Nietzsche, karena saya kira antara ia dan Darwin harus dipisahkan. Bila survival of the fittest adalah pijakan pemikiran Darwin, dan hal ini pun bisa didebatkan kalau kita pelajari pemikiran Darwin pada akhir hidupnya, maka Nietzsche punya Ubermesch lebih mementingkan kenyataan bahwa Overman bukanlah yang ditafsir salah, terutama para Nazi, sebagai Individu yang Suprema, tetapi rujukan manusia pada keyakinan, mitos, dan kecenderungan laissez- faire perlu dihancurkan terus menerus agar manusia bisa memanjat ke dataran yang lebih tinggi untuk melihat kemanusian dari posisi yang lebih netral dan tidak terikat oleh kekelompokan dan keyakinan.

@Damhuri: estetika, saya kira, bukan problema utama kondisi kita pada saat ini, tetapi etika, dan kebanyakan masih limpahan dari para pemikir postmoderen, yang perlu dibongkar habis. Relativitas bahasa dan tubuh seakan mendominasi segala macam wacana politik ataupun seni. Orientasi pemikiran yang tidak beranjak dari satu kubang tidak akan mencuatkan pembahruan.  Sebuah suture (irisan) perlu dilakukan agar kita bisa menapak ke depan. Estetika yang ada sekarang masih terasa berkitar di satu putaran yang sama, hanya beda gaya dan permainan bahasa. Terobosan hanya bisa dicapai melalui sebuah orientasi yang sama sekali terpisah dari warisan para postmoderen. Absurditas salah satu peninggalan postmoderen yang masih terasa dalam kesusasteraan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Adi Nugroho: Kita perlu berhati-hati menafsirkan Ubermesch nya Nietzsche, karena saya kira antara ia dan Darwin harus dipisahkan. Bila survival of the fittest adalah pijakan pemikiran Darwin, dan hal ini pun bisa didebatkan kalau kita pelajari pemikiran Darwin pada akhir hidupnya, maka Nietzsche punya Ubermesch lebih mementingkan kenyataan bahwa Overman bukanlah yang ditafsir salah, terutama para Nazi, sebagai Individu yang Suprema, tetapi rujukan manusia pada keyakinan, mitos, dan kecenderungan laissez- faire perlu dihancurkan terus menerus agar manusia bisa memanjat ke dataran yang lebih tinggi untuk melihat kemanusian dari posisi yang lebih netral dan tidak terikat oleh kekelompokan dan keyakinan.</p>
<p>@Damhuri: estetika, saya kira, bukan problema utama kondisi kita pada saat ini, tetapi etika, dan kebanyakan masih limpahan dari para pemikir postmoderen, yang perlu dibongkar habis. Relativitas bahasa dan tubuh seakan mendominasi segala macam wacana politik ataupun seni. Orientasi pemikiran yang tidak beranjak dari satu kubang tidak akan mencuatkan pembahruan.  Sebuah suture (irisan) perlu dilakukan agar kita bisa menapak ke depan. Estetika yang ada sekarang masih terasa berkitar di satu putaran yang sama, hanya beda gaya dan permainan bahasa. Terobosan hanya bisa dicapai melalui sebuah orientasi yang sama sekali terpisah dari warisan para postmoderen. Absurditas salah satu peninggalan postmoderen yang masih terasa dalam kesusasteraan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Adi Nugroho</title>
		<link>http://richardoh.net/dari-nietzsche-ke-olimpiade-sastra-oleh-richard-oh-54.php/comment-page-1#comment-544</link>
		<dc:creator>Adi Nugroho</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 12:18:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://richardoh.net/?p=54#comment-544</guid>
		<description>Berkenaan dengan Nietzche, saya paling terkesan atas metafora Ubermesch-nya.
Bagi saya, sudah menjadi kenyataan sejarah, yang berhasil ditangkap oleh Darwin dengan baik, bahwa siapa pun yang beruntung (atau sial, tergantung selera pandang kita) lahir ke dunia ini harus, mau tidak mau, melakukan struggle for the fittest di bidang apa pun yang dia ingin exist, sukur2 akhirnya jadi Ubermensch.
Dengan modal kesadaran ini, suatu existensi (dalam istilah Nietzsche) dapat berkata ya! pada dunia, atau menghadapi kehidupan dengan bahagia.
Pesan sponsor saya: daripada berharap ada pihak lain yang peduli, apakah tidak lebih baik jika kita mulai dengan mengambil tanggung jawab kepedulian itu sebagai tanggung jawab kita pribadi untuk peduli, karena toh dalam diri kita semua sebenarnya mengalir darah Ubermensch-nya Nietzsche</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Berkenaan dengan Nietzche, saya paling terkesan atas metafora Ubermesch-nya.<br />
Bagi saya, sudah menjadi kenyataan sejarah, yang berhasil ditangkap oleh Darwin dengan baik, bahwa siapa pun yang beruntung (atau sial, tergantung selera pandang kita) lahir ke dunia ini harus, mau tidak mau, melakukan struggle for the fittest di bidang apa pun yang dia ingin exist, sukur2 akhirnya jadi Ubermensch.<br />
Dengan modal kesadaran ini, suatu existensi (dalam istilah Nietzsche) dapat berkata ya! pada dunia, atau menghadapi kehidupan dengan bahagia.<br />
Pesan sponsor saya: daripada berharap ada pihak lain yang peduli, apakah tidak lebih baik jika kita mulai dengan mengambil tanggung jawab kepedulian itu sebagai tanggung jawab kita pribadi untuk peduli, karena toh dalam diri kita semua sebenarnya mengalir darah Ubermensch-nya Nietzsche</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: damhuri muhammad</title>
		<link>http://richardoh.net/dari-nietzsche-ke-olimpiade-sastra-oleh-richard-oh-54.php/comment-page-1#comment-527</link>
		<dc:creator>damhuri muhammad</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 09:35:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://richardoh.net/?p=54#comment-527</guid>
		<description>esai menyentak saya untuk kembali berfikir, bagaimana semestinya kita mengembangkan layar estetik dalam pelayaran sastra yang belakangan ini semakin memperlihatkan tanda-tanda kekaraman...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>esai menyentak saya untuk kembali berfikir, bagaimana semestinya kita mengembangkan layar estetik dalam pelayaran sastra yang belakangan ini semakin memperlihatkan tanda-tanda kekaraman&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: GiLL</title>
		<link>http://richardoh.net/dari-nietzsche-ke-olimpiade-sastra-oleh-richard-oh-54.php/comment-page-1#comment-524</link>
		<dc:creator>GiLL</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 12:55:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://richardoh.net/?p=54#comment-524</guid>
		<description>satu-satunya alasan kenapa Nietzsche meninggalkan Wagner adalah: karena tiba2 Wagner menjadi seorang Kristen yang taat</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>satu-satunya alasan kenapa Nietzsche meninggalkan Wagner adalah: karena tiba2 Wagner menjadi seorang Kristen yang taat</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

