18  May  2010

Dissemblances


Seni, menurut Jacques Ranciere, terdiri dari imaji-imaji. Dan imaji-imaji seni adalah operasi-operasi yang memproduksikan sebuah kesenjangan (discrepancy), sebuah ketidakserupaan (dissemblance). Dalam pengertian ini, maka imaji tidak eksklusif pada apa yang terlihat (visible). ‘Ada visibilitas yang sama sekali tidak menghasilkan sebuah imaji; ada pula imaji-imaji yang keseluruhannya terdiri dari kata-kata.”

Maka di permukaan sebuah karya seni terjadi sebuah pertalian antara apa yang bisa disebut dan apa yang terlihat. Benang pertalian ini bisa saja berupa sebuah analogi maupun sebuah ketidakserupaan (dissemblance). ‘Interaksi ini sama sekali tidak membutuhkan kedua terma mesti tampil secara material. Yang terlihat bisa disusun dalam formasi (tropes) bermakna; kata-kata bisa digelar dengan sebuah visibilitas yang gemilang.’ Dengan kata lain, yang diperlukan dalam sebuah interaksi antara yang tersirat dan yang terlihat adalah sebuah penghubung, parataksis, tak bersubjek.

Di dalam tubuh karya-karya Dedy Sufriadi tersirat kiat-kiat untuk menyentil apa yang tak terungkap sehingga ia keluar ke permukaan melalui sebuah persilangan aksara.  Karya-karya seperti Landscape dan Puzzle, mungkin paling mudah disimak, menampilkan sisi analogi rupa dan objek yang dipertautkan oleh sebuah goresan aksara: lihat goresan aksara secara diagonal dari kiri atas ke kanan bawah dalam karya Puzzle yang menjadi sebuah jembatan digambarkan oleh Ranciere sebagai sebuah kesenjangan (discrepancy) dan lihat pula guratan-guratan yang berubah-rubah dalam tiap keping bingkai Landscape, berupa tiga tulang iga seekor hewan, sebatang ranting, dan kupu-kupu, yang membentuk sebuah pertalian bermakna ketidakserupaan (dissemblance) dalam karya itu.

Penelusuran/penguraian menurut metode seperti ini semakin sulit atau menjadi sangat subtil ketika Dedy Sufriadi menanggalkan semua penanda-penanda penghubung dalam karya-karya seperti Kamuflase, Ikon, Village, Gold dan Comic Series. Di mana belang dalam Kamuflase itu? Di mana bentuk dalam Ikon? Di mana geometri gubuk dalam Kampung (Village) itu? Di mana riak gelaktawa dalam Comic series? Di mana keemasan dalam kemilau Emas (Gold)? Kita hanya bisa meraba-meraba melalui gradasi warna, demarkasi linea, dan penzonaan ruang agar bisa mengumpulkan kembali pencitraan imaji yang bertaburan supaya ia tidak hambur kembali ke dalam skizofrenia antahbrantah.

Dari pergelutan Dedy Sufriadi ini, kita bisa lantas memositkan bahwa permukaan bukanlah sebuah bidang yang memberi sebuah kesenjangan (discrepancy) ataupun ketidakserupaan (dissemblance) tetapi kebuntuan itu sendiri, atau faille itu, yang menurut Lacan, ‘kata penunjuk dalam tubuh Liyan dari mana tuntutan-tuntutan jouissance berawal.’

Di dalam ruang kebuntuan ini, setiap subtraksi menampilkan sebuah lokus, dan seruan sebuah topologi. ‘Penanda-penanda ganjil’ dalam tubuh jouissance pada akhirnya adalah jejak-jejak aksara yang dibutuhkan untuk mewujudkan hasrat dalam realita konkret. Berbekal pengertian seperti ini, saya meneropongi karya-karya Dedy Sufriadi. Boleh jadi karyanya sengaja tidak sesaksama seperti karya Joan Miro yang bilamana kita bubuhkan setetes cat minyak di ujung kanvas Obra de Joan Miro, keseluruhan topologi karya itu akan berubah seketika. Kanvas Dedy Sufriadi, seperti ruang kebuntuan yang disebut Lacan itu, memungkinkan sebuah perhitungan satu per satu bisa dilakukan dalam satu persimpangan (intersection) kebuntuan yang tak terhingga. Ia menuntut keberulangan subtraksi dan pengungkapan agar yang terhasrat bisa terkonstitusi dan terinskripsi.

Sebuah perenungan atas permintaan PhiloArtspace.

Jakarta May 17, 2010

One Response to “Dissemblances”

kindle e reader :

I like the valuable information you provide in your articles. I¡¯ll bookmark your blog and check again here frequently. I am quite certain I¡¯ll learn plenty of new stuff right here! Good luck for the next!