Sosok Filsafat Indonesia: Sebuah Spekulasi Keliru

Di sebuah symposium yang kebetulan didukung oleh seorang kelirumologi, sebuah permainan keliru-keliruan mungkin bisa bermanfaat. Mari kita susun ulang ketiga kata di atas menjadi Indonesia Filsafat Sosok. Menarik tentunya untuk ditelusuri dan menggali betapa terpesonanya komunitas kita pada tokoh dan segala hal yang mengonsolidasikannya. Penelusuran ini bisa jadi sangat berguna untuk mengurai kenapa kedipan mata pada sosok lebih menjurus ke sebuah kultus karisma daripada mengisyaratkan sebuah penggambaran tebal (thick description) Clifford Geertz.

Atau bisa juga kalau kita mencoba merunut ketiga kata ini dalam sebuah segitiga René Girard.
Indonesia (subjek) –> Sosok (model) –> Filsafat (object)
Sebuah sirkulasi hasrat mimesis yang senantiasa melambungkan nilai objek tanpa bisa merenggutnya.

Atau kita selipkan kata filsafat di palang susunan ini.
Sosok (penanda)/Indonesia (tertanda)
Palang pemisah ini sekarang berfungsi sekaligus sebagai pemisah dan sebuah ambang pengitaran paradigmatik kedua kata: Sosok dan Indonesia.

Mungkin dengan ilustrasi di atas, saya ingin menyampaikan bahwa sejak Tan Malaka menerbitkan buku filsafat pertama Indonesia, Madilog, hingga hari ini bios theorethikos masih menggunakan aparatus-aparatus sejenis untuk orientasi pikiran. Namun, 72 tahun kemudian, Logika Mistika yang ingin disingkirkan Tan Malaka dengan memperkenalkan filsafat Materialis Dialektika Logika, masih berakar dan kian hari berlukar.

Mungkin lewat Kelirumologinya, Jaya Suprana menemukan akar persoalan yang sedang kita hadapi. Saya ingin memositkan, mungkin Kelirulogi yang ditemukan Jaya Suprana menggambarkan sebuah modus kehidupan: bahwa masyarakat kita lebih mencondong ke vita activa daripada vita contemplativa. Sebuah kehidupan aktif di mana spontanitas gerak menjadi bagian penting sebuah kehidupan produktif. Keliru menjadi bagian persenggolan hidup yang lazim dan tak menuntut sebuah interval refleksifitas yang semestinya bisa mengoreksi haluan ke arah yang lebih efisien. Waktu menjadi sekaligus tanpa batas dan membataskan kontemplasi. Kesalahan menjadi bagian dari kreatifitas kehidupan ketok magic. Selesai, asal selesai, menjadi acuan utama sedangkan efisiensi dan pengulangan teruji menjadi musuh utama vitalitas produktifitas.

Dua kata yang sering kita dengar dengan nada gusar atau frustrasi adalah minder dan asumsi. Dari intensitas sindiran-sindiran seperti itu kadang kita menjadi berbesar hati dan berpikir: aha, sebuah gelombang kritis telah hadir di cakrawala. Sebuah kondisi telah secara sadar dikritik. Ternyata seruan-seruan ini hanyalah ungkapan-ungkapan direnggut dari tubuh kebiasaan, kemudian ditempelkan pada jidat yang sama.

Paling tidak sekarang kita memiliki dua kata acuan untuk ditelusuri lebih lanjut. Ada apa di balik minder dan asumsi? Kenapa mereka menjadi dua kata yang paling sering dilekatkan pada kebiasaan kebanyakan orang kita? Apakah minder yang dimaksud berkonotasi sebuah kompleks inferioritas? Kenapa pula asumsi dipersoalkan?

Mungkin minder yang dimaksud bukan sebuah kompleks inferioritas. Karena kompleks inferioritas berorientasi pada kompleksitas: yakni mengisyaratkan sebuah kemampuan untuk merujuk pada yang lebih kompleks atau sebuah wujud kompleksitas yang beranjak dari multiple kompleksitas. Atau mungkin ini symptom lain dari kompleks inferioritas? Lebih mendekati: semacam ketakberdayaan atau keberingsutan di hadapan kompleksitas? Tentu saja ini jauh dari keseharian vita activa yang berorientasi pada sirkulasi produktifitas, pada selesai, asal selesai, ketimbang penilaian pada kualitas maupun perhatian pada prosedur penyelesaian.

Mungkin keminderan yang disebut lebih merujuk pada sebuah kondisi vita activa, di mana fokus pada vitalitas produktifitas mendahului segalanya, sehingga kemusyawarahan menjadi budaya karena menghemat waktu dan kerukunan memastikan pekerjaan di lapangan tak terganggu. Asumsi, dengan demikian, adalah anak produk pragmatis dari budaya silaturahmi. Tak mengherankan kemudian asumsi hadir sebagai sebuah spekulasi tak berdasarkan arbitrasi akal dari faktor-faktor bersangkutan. Seperti itulah sindiran minder menjadi sebuah ungkapan yang kemudian tereifikasi menjadi sebuah tubuh anthropomorfik masyarakat kita.

Seandainya hipotesa di atas benar, kita perlu menanyakan ini. Bukankah vita activa membekalkan ketrampilan, dan dalam prakteknya kreatifitas? Lalu kenapa di negara yang begitu kaya sumber alam ini sekaligus juga negara paling miskin inovasi? Merefleksikan ini saya kembali pada anjungan pikiran yang membawa saya ke serat pemikiran ini.

Mungkinkah kondisi budaya silaturahmi juga berperan di sini? Ketrampilan dan kreatifitas sebagai produktifitas dari komunitas untuk dan sejauh keperluan komunitas. Di manakah jenjang kebanggaan dari ketrampilan dan terobosan kreatifitas? Apakah mereka terhempas dalam kepuasan tak menuntut dari sebuah acuan kerukunan? Bilamana tetangga saya bisa bernafkah sebagai tukang kayu, saya belajar darinya bukan supaya suatu hari menjadi seorang ahli, namun supaya punya sebuah profesi ketrampilan yang memberi nafkah. Diteropong demikian maka ketrampilan dan kreatifitas yang beredar adalah ketrampilan dan kreatifitas sejauh kriteria kebutuhan atau produktifitas vita activa. Referensi sebagai peningkatan jenjang ketrampilan dan kreatifitas tidak menjamah masyarakat seperti ini. Interaksi, sebuah dialog kreatif, dengan dunia luar komunitas pupus dalam kesibukan produktifitas. Di sela-sela kesibukan sehari-hari, penampilan ketrampilan dan kreatifitas luar biasa dari dunia lain menjadi sebuah pesona berjarak, sesekali diduplikasi dengan trampil namun tak memicu dorongan pada terobosan. Seakan-akan terobosan sebuah keganjilan budaya silaturahmi.

Paedeia, dirapal mirip dengan pede-ah, adalah kata akar bahasa Yunani yang artinya pendidikan. Di sinikah duduk persoalannya seperti terkumandang di berbagai lapisan akademi? Di mana-mana kita mendengar bunyi pujian bernada: oh nyeninya, beraninya, imajinatifnya, vokalnya seseorang, namun jarang terdengar ungkapan menyenggol ironi, kontemplasi dan paradigma. Seandainya, sekali lagi, hipotesa demikian itu benar adanya, bagaimana pendidikan bisa menyusup ke dalam sirkulasi budaya silaturahmi seperti ini?

Kita tahu dari beribu tahun sejarah filsafat, Bios Theoretikhos lahir dari keinginantahu. Michel Foucault, dalam sebuah wawancara bersama Alain Badiou, diminta untuk menjelaskan perbedaan antara filsafat dan psikologi. Michel Foucault menegaskan: psikologi lahir dari sebuah budaya, tapi filsafat lahir di mana saja manusia menanyakan kenapa. Sebuah jawaban sekaligus memberi pencerahan pada persoalan kita, namun juga membuat kita terhenti menimbang-nimbang. Berita yang membesarkan hati adalah di mana saja manusia bertanya kenapa di situlah bibit filsafat akan muncul. Berita kurang menyenangkan adalah kenyataan bahwa budaya silaturahmi telah mengakar dan adat telah menjadi sebuah pilar kehidupan. Kerukunan yang terekat pada adat dan keyakinan mayoritas menjadi panduan alami keseharian. Pengejaran pada kebenaran terbatas dan pupus dalam keyakinan normatif.

Seandainya kita mengatakan, pada titik argumentasi ini yang sengaja saya bangun bagan logikanya sedemikian, bahwa jelas psikologi lebih dibutuhkan masyarakat silaturahmi daripada filsafat, maka kita akan melakukan sebuah kesalahan yang sering dilakukan oleh bios theorethikos: yakni, mengarah ke satu sudut terakses dari sebuah reduksi dikotomi kecendurungan (given). Saya telah secara sengaja mereduksi keberagaman hidup menjadi sebuah nama, budaya silaturahmi, di sebuah sudut dualisme dan menjadikannya sebuah objek bidikan teori, kemudian menyodorkan sebuah solusi yang seakan memenuhi kriteria dari dualisme yang saya ajukan. Sambil mengeyampingkan predikat yang menengahkan saya dan objek, dan lebih menyesatkan lagi menjadikan objek itu seakan seragam dalam satu keutuhan. Jikalau saya sebagai subjek peninjau disingkirkan dari sebuah posisi subjektif terhadap objek maka yang hadir bukanlah sebuah trajeksi subjek ke objek tetapi sebuah posisi persilangan setara antar objek pada objek yang kemudian dari perbandingan objek dan objek lain memproduksikan sebuah makna bernilai dari pertukaran yang mengubah. Sebagai contoh, tak ada dua komunitas bisa disamakan walau terdeteksi kuatnya anasir budaya silaturahmi yang sama. Karena apa yang tampak secara eksternal pada umumnya sebuah tuntutan perwujudan di permukaan, namun di bawah permukaan terdapat intensitas, atraktor, bifurkasi, difusi, konjungsi, disjungsi yang senantiasa berubah tergantung pada anasir terkumpul, terpilah, vektor, diferensiasi progresif dll. Pertimbangkan juga: bahwa tiap individu yang terhitung di dalam sebuah masyarakat pada waktu yang sama berada di luar masyarakat tersebut. Karena setiap individu adalah utuh dalam kesendiriannya agar ia bisa menghitung yang lain (inklusif) dan keberadaannya dihitung oleh yang lain (ekslusif).

Mengejar sebuah kebenaran dari sebuah teori itulah yang sering membuat bios theorethikos luput memandang dunia kenyataan. Karena pikiran yang merujuk pada kebenaran pada hakekatnya membelah dunia menjadi dualisme Benar dan Salah tanpa menimbang sebuah perspektif sebaliknya, umpamanya dari sudut pandang Salah, atau dari sebuah superposisi antara Benar dan Salah, atau sebuah jalan tengah yang menerima contrario sebagai sebuah kecenderungan.

Para filosof, Versucher, pemikir eksperimen, yang ditunggu-tunggu Nietzsche telah berada di tengah kita. Pemikir yang digambarkan oleh Nietzsche sebagai Pemikir Mungkin ini telah sekian lama hadir. Namun obsesi pada kebenaran telah membuat Bios Theoretikhos semakin berjarak dari heterologi kehidupan di sebuah menara gegar kontemplasi. Pengejaran pada teori telah membuka sebuah jarak dikotomi terbentang lebar antara kehidupan sebagai objek kontemplasi dan kontemplasi sebagai sebuah pengasingan dari kehidupan. Teori-teori pun terproduksi namun bagai untaian sahutan di dalam ruang eksklusif semakin berjarak dari praktik kehidupan. Sementara dunia terpecah semakin kentara dikotominya antara para fundamentalis Baik yang menempatkan altarnya di sebuah lokus transenden dan mereka yang menolaknya tanpa kecuali.

Sloterdijk menyalahkan Plato. Pikirannya tentang bentuk, ide dan Baik telah menyerahkan materialisme pada sebuah roh abstrak di seberang sana. Tak heran menurut Sloterdijk bila Bios Theoretikos semakin berjarak dari praktik kehidupan. Askestisme para pemikir ini menjadi sebuah dedikasi yang niscaya tertebus pada akhir hidup dalam sebuah transendensi. “Interpretasi Nietzsche perihal ini benar: Plato, dengan membuat gurunya mengklaim secara tak langsung bahwa ia (menjelang hukuman mati dengan racun hemlock) saat itu juga pulih dari sebuah penyakit paling akut, mentransformasi kematian sang terpelajar (Socrates) menjadi sebuah adegan primal penaklukan dunia dan kehidupan melalui sebuah modus eksistensi filosofis.” Hal 177, The Art of Philosophy, Sloterdijk.

Sloterdijk melacak perwujudan dunia dari pembentukan peta dunia yang bergeser seiring waktu dari Mercator ke sebuah bentuk bola bundar. Kebundaran ini, menurut Sloterdijk, tentu saja mengacu pada kesempurnaan Baik. Walau kenyataannya lingkaran bundar itu penuh retak tak sempurna. Penelusurannya membawa Sloterdijk pada sebuah konsep pemikiran yang disebutnya sebagai teori pengendapan (theory of immersion). Pandangan pemikir yang biasanya diarahkan pada dunia kesempurnaan tak berujung di luar sana, seyogyanya diarahkan balik dari sebuah titik keleluasan semakin merapat ke bumi, ke kehidupan, ke manusia. Memandang keluar dengan demikian adalah sebuah pemantulan (refraksi) dari titik infinitas ke yang terdekat. “Pembukaan ke infinitas ini meningkatkan risiko lokalisasi modern. Manusia ketahui, walau pada awalnya agak kalut dan tak secara langsung, bahwa ia tertampung atau tersesat—pada hakekatnya sama artinya saat ini—di suatu tempat keleluasan tak berujung. Ia paham bahwa ia tak bisa lagi mengandalkan apapun kecuali ketakacuhan ruang homogeinitas infinitas. Yang di luar berekspansi, mengabaikan postulat proksimitas dalam ruang lingkup manusiawi, bagai sebuah entitas asing tanpa kecuali; prinsip pertama dan satu-satunya tampaknya ketakpedulian pada humanitas.” Sloterdijk, hal 23, Return to Earth, In the World Interior of Capital. Latour mengingatkan: sejauh dan seluas peneropongan pada Gaia, kita pada akhirnya kembali pada biosphere, tempat kita berpijak, satu-satunya ruang lingkup di mana keberadaan kita bersama dimungkinkan.

Quentin Meillassoux menilik dari sudut yang berbeda. Bagi dia, dunia pemikiran terpecah menjadi dua: idealis subjektif dan subjektalis. Baik idealis subjektif (seperti Hegel dan Kant) maupun subjektalis (seperti Deleuze) sebenarnya tak lepas dari kesadaran. Objektifitas yang mereka coba kukuhkan di satu sisi lewat sebuah transendensi subjektif (seperti Hegel) atau pengubyektifan objek-objek menjadi benda-benda bernyawa pada akhirnya tak terlepas dari sebuah lingkaran korelasi akal yang menyangkal diri sendiri (closure of thought on itself). Sedangkan, subjektalisme seperti yang dilakukan oleh Deleuze lewat intensitas-infra (Deleuze) dikritik Meillassoux sebagai lebih menekan pada perbedaan derajat intensitas alam disubjektifikasi daripada perbedaan sifat dasar alam itu sendiri.

Meillassoux berkutat mendalami subjektifitas dalam pengertian seorang realis tulen: yakni dengan meradikalisasikan fondasi yang dimulai Berkeley, namun berangkat dari sebuah posisi pemikir spekulatif materialisme. Ia membongkar persoalan dari dua kubu yang bersilang ini sebagai kegagalan untuk menelisik kesubjektifisan akal. Bilamana akal tak mampu menjangkau sesuatu seperti absolut itu bukan berarti absolut tak bisa disertakan. Keterbatasan akal yang senantiasa bersirkulasi dalam sebuah lingkaran korelasi antara subjek dan objek, noetico-noematic, kesadaran sebagai yang tercenderung, Ada-dalam-dunia, dll, tak bisa ditafsir sebagai ketidakmungkinan untuk menyertakan absolut. “Karena kenyataannya, seperti kita ketahui, sebuah bentuk non-material absolutisme, yang prinsipnya terdiri bukan dari klaim untuk memikirkan sebuah absolut non-korelasi, tapi membuat korelasi itu sendiri sebagai absolut adanya.” Hal 2, Iteration, Reiteration, Repetition: A Speculative Analysis of the meaningless sign, Meillassoux. Menurut Meillassoux akal bisa menyertakan absolut, mandiri dari subjektifitas dan kesadaran. Meillassoux memositkan lewat prinsip faktialitasnya bahwa bilamana akal terpental kembali dalam keterbatasannya sendiri, di dalam satu lingkaran kebuntuhan korelasi, terbesit dalam kebuntuhan itu sebenarnya sebuah faksitas, yakni yang absolut. Seandainya korelasi lingkaran ini diradikalkan menjadi sebuah korelasi faktial, yakni diradikalkan subjektifitas akal, maka kita akan tiba pada kesimpulan ini: bilamana saya bisa membayangkan saya tiada, maka spekulasi realisme ini, bukan materialisme, akan menyertakan absolutisme. Ketiadaan saya adalah sebuah absolut yang tak bisa dikorelasi oleh saya. Ia adalah faksitas yang walaupun saya tahu Adanya namun tak bisa bayangkan kebalikannya. Bagi Meillassoux kepastian kontingensi bisa diderivasi dari kendala-kendala anasirnya, yang disebut sebagai Figur-figur kontingensi. Figur-figur ini selalu ada dan stabil supaya kontingensi tidak menjadi kontingensi dari kontingensi, yang membuat penampakan dunia sekaligus ada dan tiada. Figur-figur kontingensi inilah yang disebut Meillassoux sebagai kebenaran abadi, yang ingin ditekuninnya. Dia tak tertarik pada Fakta, Faksitas, ataupun Arke-Faksitas, karena baginya itu pekerjaan para Hyperphysics: fisikawan, ilmuwan yang ingin menjelaskan hal-hal heuristik kenyataan. Meillassoux juga menyatakan bahwa ia tak tertarik pada sebuah sistem yang mengaku bisa menjelaskan semua. Baginya heterogeneitas tak bisa direduksi dari materi ke kehidupan, atau kehidupan ke materi, monisme ke pluralisme-monisme, atau monisme-pluralisme.

Sementara Tristan Garcia, protégé Meillassoux dan Badiou, meradikalisasikan realita menjadi sebuah ontologi datar. Ia setarakan individu dengan objek sebagai benda yang memiliki kebendaan yang sama secara formil. Ia menetapkan adanya prinsip ini: the thing which is (benda seadanya) dan the thing which it is (benda yang ada). Tujuannya adalah ketika individu disetarakan dengan objek tanpa kecuali maka perbedaan yang terkuak dari paparan realita (di sebuah semesta yang mencakup semua) menjadi terlihat nilai aslinya tanpa bias, terungkap dari intensitas berskala.
Di persimpangan pemikiran inilah sekarang kita berada.

Menurut Francois Jullien kearifan tak punya nama dan tak bisa dikonsepkan. Dia menjelaskan bahwa pertanyaan seperti adakah makna sebuah kehidupan sama sekali bukan sebuah pertanyaan yang bermakna bagi kearifan. Nama dan konsep di sebuah dunia yang melesat semakin cepat dan terpapar semakin nyata keragamannya membuat fungsi berpikir tertimbun di bawah tumpukan data dan teori. Nama bagi Sylvan Lazarus (Archeology of Names) tak terpatri pada yang tertulis, namun berada di sebuah lokus pikiran agar nama itu selalu selaras (congruent) dengan waktu.

Filosof-filosof Mungkin yang ditunggu-tunggu Nietzsche, saya kira adalah pemikir-pemikir kongruen seperti ini. Pemikir-pemikir yg lebih tertarik pada arah panah penunjuk benda-benda daripada penjelasan benda-benda itu. Pada penguakan sebuah geografi perspektif daripada pelipatan satu nama ke nama lain. Identitas bukan lagi sebuah kartu pengenal yang membantu buka pintu universalisme ataupun sebuah acuan untuk menguak perbedaan makna. Sebuah peta pemikiran sejak lama sudah dikumandang oleh Michel Serres: mimesis yang sebenarnya bukan sebuah migrasi dari internal ke eksternal, tapi sebuah regulasi berawal dari eksternal ke internal. Moralitas dengan demikian terobjekfikasi di eksternal menjadikan obligasi kita bukan sebuah deliberasi, tapi sebuah kemestian.

Ah, tapi symposium ini menuntut sebuah sosok filsafat Indonesia. Sebuah nama, sebuah genealogi, bagi sebuah praktek kearifan yang kian hari kian bergeser dari diri dan nama dan penamaan ke sebuah pengendapan aktif agar lebih kongruen dengan waktu dan realita. Ketika seorang pemikir Indonesia mengajukan sebuah orientasi baru dalam pertukaran perspektif global, di situlah mungkin dunia akan menemukan sosok filsafat Indonesia. Sebuah pengendapan pikiran teraktifkan dalam sebuah dialog global. Di dunia berpikir, seorang Nietzsche atau seorang Meillassoux lebih dikenal sosok pikirannya daripada atribut-atribut formil lainnya. Bagaimana kita memulainya? Sosok adalah kontingensi dari filasafat dan filsafat adalah faksitas dan internasional adalah sosoknya atau sampulnya Indonesia. Mungkin mulai seperti itu. Mungkin juga saya keliru. Tapi kita belajar dari Meillassoux lebih baik adanya keliru itu sebagai sebuah kemungkinan spekulasi non-filosofis daripada sebuah acuan sistematis yang semakin merujuk kita pada persilangan yang semakin kusut dengan pelipatan teori. Dengan demikian pandangan kita jauh lebih tak terbatas dan pelipatan materiel terangkum dalam sebuah intensitas semesta kehidupan di mana derajat perbedaan membantu kita menguak kebuhulan keseharian.

September 19, 2014.
Makalah untuk Simposium Internasional Mencari Sosok Filsafat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>