Tag Archives: Ritus dan Waktu. Richard Oh. Filosofi

Ritus dan Waktu

Ritus adalah sebuah pengitaran di dalam reruntuhan berlingkarnya Borges. Ia seperti sang penyihir di dalam reruntuhan berlingkar itu yang bermimpi membangkitkan seorang pemuda ideal dari mimpinya. Setelah mewujudkan seorang pemuda perkasa dari mimpi itu, sang penyihir mengirimnya ke sebuah reruntuhan berlingkar di belahan selatan. Pada kentongan tengah malam, sang penyihir terjaga dari mimpi dan sadar bahwa walaupun ia bisa melahirkan seseorang dari mimpi, ia sebenarnya tidak luput dari impian orang lain.

Sejak zaman Homer, ritus pengorbanan sakral, dari penyembahan seorang putri tercinta hingga hewan-hewan, diberlakukan untuk meredakan amarah atau sebagai persembahan untuk sebuah doa. Agammenon menyembahkan putrinya kepada Poseidon agar flotila perangnya melintas samudera dengan aman untuk menggempur Troya. Ritus pengabenan di Bali ataupun Rambu Solo di Toraja menyembahkan berekor-ekor babi dan kerbau untuk memuluskan penyeberangan ruh. Arca, kuil, altar dan piramida dibangun untuk memeringati mereka yang telah berpulang ataupun menambatkan yang tak tergapai ke dalam sebuah kehidupan keseharian manusia.

Ritus dengan demikian adalah sebuah repetisi dalam sebuah reruntuhan berlingkar. Ia adalah sebuah simulacrum dalam sebuah roda waktu. Adakah ia sebuah upaya manusia untuk mempertahankan sebuah ingatan dari gerusan waktu? Ataukah ia sebuah representasi dibangun untuk menopang kegalauan manusia? Apa pun tujuannya, tampaknya sejak dulu, manusia menolak melihat waktu sebagai sebuah imensitas cair yang tidak merunut secara linear. Manusia, menurut Michel Serres, masih terobsesi dengan kontinuitas dan diskontinuitas waktu dalam satu peninjauan paralel. Padahal waktu bergerak tidak seperti yang kita bayangkan menurut penanda waktu. Ia bisa ditilik dari sebuah pra-posisi (pre-posisi), di antara-antara (inter-face), dari samping (valence), melalui sebuah kuala (confluence) atau fluks (fluxes). Metode perlipatan (folding) seperti ini memungkinkan kita untuk menyandingkan yang lampau bersama dengan yang kini dan memproyeksikan masa depan dari masa lalu dari sebuah superposisi.

Bila waktu bisa begitu luwes, kenapa manusia masih juga merasa perlu sebuah ritus? Ritus bertahan mungkin karena manusia pada umumnya takut melepaskan diri dari tonggak-tonggak waktu. Waktu, seperti bumi pijakan, menuntut sebuah inskripsi, sebuah guratan jejak secara konkret. Di sinilah menurut Michel Serres kesulitan manusia mempertemukan ilmu pengetahuan dengan humanitas. Setiap pintu yang dibuka oleh ilmu pengetahuan belum tentu akan dilalui oleh ilmu kemanusiaan. Dua sudut pandang kehidupan ini sepertinya terhadang oleh sebuah pintu dengan dua perangkat kunci yang berbeda. Ini terjadi karena manusia senantiasa ingin memartisikan waktu dan ruang sedangkan sebuah orientasi pikiran tidak terkurung oleh ruang, terbatasi oleh waktu. Seandainya ilmu pengetahuan tidak memberikan sebuah terobosan secara matematis, maka mitos ataupun puisi bisa dipergunakan untuk menerobos sebuah kebuntuan. Sebuah aparatus kehidupan dengan demikian tidak mesti terpatri pada sebuah displin tertentu yang menyempitkan eksplorasi. Kebuntuan tidak mesti diurai secara tuntas dari kebuhulannya. Yang dikejar dalam setiap penelusuran adalah sebuah jalan keluar yang bercabang terus, seperti mencari bilangan intervallic, Ni, dalam sebuah pencabangan fraktal. Celah-celah akan terkuak dan pergerakan menjadi sebuah kemestian, bukan kemungkinan.

Pendekatan ini mensubyeksikan tubuh dari ‘titik ke titik’ sebuah paparan topologi: tubuh tanpa kepala ini dengan demikian adalah sebuah subyek, sebuah penanda. Pergerakan, atau menurut Badiou, pengambilan langkah demi langkah ini, menjadi lebih penting daripada sebuah metode penyatu yang universal.Untuk konstruk yang membutuhkan pergerakan terus-menerus seperti ini, kita perlu sebuah aparatus mimetics, dalam pengertian Lacan, bukan sebagai replikator, tetapi sebagai sebuah regulator paradigma bergeser. Regulator mimetics ini memungkinkan sebuah penyesuaian terus menerus sehingga kita tidak pernah terhenti pada sebuah kebuntuan.

Sebuah clinamen (celah) terkuak dari setiap kebuhulan. Jalan keluar dari reruntuhan berlingkar tidak mesti ditilik dari depan, mengejar terus sesuatu yang inovatif, tetapi ia bisa diolah dari apa yang terbenam, tertinggal di belakang. Apa yang terkubur, tak terpakaikan tidak lantas berarti ia telah usang atau kadarluasa. Bisa saja ia telah hadir mendahului masanya.

Di dunia seperti ini, moralitas tidak lagi subjektif tapi terobjektifikasikan pada topologi. Yang individu dan pribadi menjadi tidak penting, tetapi sebuah kebersamaan terkonsolidasi dalam sebuah dunia obyektif yang menjadi beban tanggung jawab kita bersama: ia menjadi sebuah kemestian, bukan lagi sebuah kemungkinan. Namun, lingkaran reruntuhan berhenti saat sang penyihir sadar bahwa dirinya adalah impian orang lain jua. Kesadaran ini membebaskannya dari mimpi berulang dalam reruntuhan itu. Kesadaran ini merupakan sebuah langkah awal sebuah orientasi baru. Kesadaran ini sekaligus melepaskan sang penyihir dari kutukan ritus dan waktu. Karena sebuah ceruk telah terbuka. Sebuah eksplorasi baru melambaikan tangannya.

Diterbitkan di Jurnal Bhinneka, 2011.