Ada Apa Dengan Cinta: sebuah sketsa prosedur kebenaran cinta Alain Badiou

Wednesday, July 1, 2009

Dalam eksplorasi filsafatnya, Badiou menelisik empat prosedur kebenaran: Sains, Seni, Politik dan Cinta. Kenapa Badiou memilih kategori-kategori ini? Karena baginya inilah subjek-subjek paling banal dalam kehidupan manusia, di mana sistem pemikiran kemajemukan teori himpunannya bisa menata ulang pemikiran lama. Dia merasa para pemikir sejak era klasik Junani hingga postmodern selalu menafsirkan finitas sebagai sebuah kondisi nyata tak terelakkan dengan matinya Satu Absolut di cakrawala, atau mereka menafsirkan Satu Ideal sebagai sebuah loncatan, atau seperti Lacan sebuah batasan yang tak terakses namun bisa dimanfaatkan untuk mengdefinisi finitas. Dia merasa yang pertama melululantakan filsafat menjadi serpihan pemikiran di pinggir-pinggir, yang terakhir tidak sungguh-sungguh menelaah infinitas. Semua usahanya untuk mengembalikan filsafat ke sebuah jalur yang sistematis dan klasik dilakukan supaya infinitas bukan sebuah Satu Absolut yang diidolakan, tetapi sebuah banalitas kehidupan. Dia merasa hanya dengan demikian, manusia bisa terbebas dari finitas untuk mengeksplorasi kemajemukan murni. Untuk bisa mencapai tujuannya ini, Badiou memerlukan angka, karena hanya melalui angka, being bisa melintas dan menggapai infinitas.

Dengan latar seperti ini, Badiou memilih Cinta sebagai salah satu prosedur kebenarannya. Cinta paling rawan penafsiran. Ia dipandang kalau bukan dari sudut hasrat, maka dari struktur moralitas. Cinta bagi Badiou adalah sebuah logika murni. Ia mengutip dari penyair Alberto Caeiro – salah satu heteronym penulis Portugal, Fernando Pessoa; nama samaran lainnya Alvaro de Campos, Ricardo Reis — bahwa Bercinta adalah Berpikir. Dan dia juga ingin membuktikan bahwa Cinta adalah sebuah elemen utama yang mengaktifkan prosedur generik lainnya.

Prosedur kebenaran Cinta Badiou adalah sebuah pembongkaran ulang pemikiran Jacques Lacan. Bagi Badiou, penjelasan Lacan bahwa untuk setiap x, Φ/x, merujuk kembali ke pemikiran keterbatasan finitas. Konsep Lacan adalah sebagai berikut: lelaki dan perempuan tidak bisa menyatu karena lelaki pada dasarnya adalah unsur untuk semua (for all, Φ), sedangkan perempuan, karena, ia merupakan lubang dari keseluruhan, adalah tidak semua (not all, -Φ). Perempuan dalam hal ini, sekaligus manusia serba kekurangan (destitute) dan serba ada (universal). Ditafsir demikian maka perempuan di satu sisi adalah finite, di sisi lain infinite. Kekurangan perempuan (sebagai lubang untuk keseluruhan) mengakibatkan sebuah faille, atau keretakan dalam realitas. Keretakan ini, menurut Lacan, kemudian terkompensasi oleh simbol falus lelaki, Φ. Pemikiran ini, menurut Badiou, tidak sempurna karena Lacan menyodorkan konsep infinite (yaitu crack dalam realitas) sebagai sebuah perbatasan yang tidak bisa diakses, inaccessible. Lacan berkesimpulan secara keliru bahwa bilangan Dua adalah satu-satunya bilangan yang tidak bisa diseberangi oleh 1. Dia menyalahtafsirkan bilangan 1 sebagai bilangan fondasi yang tak utuh karena ia beranjak dari bilangan kosong, sedangkan bilangan seterusnya seperti 3 bisa diperoleh dengan menambahkan satu: 2+1. Kekeliruan penafsiran Lacan tentang Aksiom Fondasi terletak pada pemahaman bilangan 0, yang oleh Badiou dipertegas sebagai sebuah bilangan tanpa elemen yang terkandung di setiap bilangan ordinal lainnya, dan oleh Lacan sebagai sebuah elemen yang memulaikan serangkai angka dengan tambahan satu, yakni dari nol ditambah satu maka jadi satu. Konsep infinitas Lacan terkesan sebuah dalih mempergunakan keberadaan infinitas untuk menjelaskan finitas. Karena sebenarnya kekeliruan Lacan bisa dikoreksi dengan mudah bila kita menambahkan 1 dengan 1 untuk memperoleh 2. Bilangan Dua Lacan dengan demikian bukanlah bilangan ordinal infinite yang seperti ditafsirnya, tetapi ia sebuah bilangan penuh finitas.

Penolakan Pada Tafsiran Umum Tentang Cinta
Alain Badiou menolak:

1. Bahwa Cinta merupakan peleburan Dua menjadi Satu. Karena kesenjangan dalam koneksi seksual antara lelaki dan perempuan.
2. Bahwa Cinta adalah penyembahan yang Sama pada altar liyan (yang lain). Karena kesadaran terhadap liyan (yang lain) tidak memungkinkan penguakan Dua.
3. Bahwa Cinta adalah sebuah kompensasi yang mengisi kekurangan (lack atau faille atau crack), sehingga Cinta sering ditafsir sebagai efek samping Nafsu.

Kesenjangan

Menafsir ulang pemikiran Lacan tentang kesenjangan koneksi seksual antara lelaki dan perempuan, Badiou menawarkan sebuah pendekatan baru yang menyatakan bahwa Cinta adalah sebuah produksi bilangan Dua. Bilangan ini bukan sebuah penjumlahan 1+1=2, tetapi adalah dua pertanda dalam Arena Cinta: dalam Arena Cinta ada dua posisi pengalaman. Karena bilangan 1 dalam Arena Cinta tidak bisa ditambahkan dengan 1 yang lain, maka Badiou menyatakan bahwa dalam Arena Cinta tiada posisi ketiga. Kecuali kalau kita ingin berspekulasi adanya malaikat, dalam hal ini sang malaikat hanya bisa hadir untuk mengumumkan kejadian Cinta itu. Jikalau tidak ada posisi ketiga, maka bagaimana kita bisa membahas tentang Cinta? Badiou menjawab karena adanya kejadian itu dan bermulanya sebuah prosedur kebenaran, yang kemudian secara retrogresi kita bisa telusuri kembali kejadian itu.

Dalam penjelasan Badiou terbesit teorem Aksiom Set Kosong dan Aksiom Set Infinite. Sang lelaki, yang seperti dijelaskan oleh Lacan, sebagai untuk-semua (for all) adalah bilangan finite, yang bisa, melalui proses pengambilan selangkah lagi, disuksesi ke ordinal berikut dengan sebuah rumus S, S(W), yakni 0, (0), (0, (0)), dan (0, (0), (0,(0))), sedangkan sang perempuan sebagai angka infinite, atau limit ordinal, ω, yang melintas dari finite ke infinite melalui sebuah rumus minimalitas: yakni bila -p maka ada elemen terkecil yang p. Fungsi minimalitas ini dipinjam Badiou dari konsep atomistic Aristotle, yang menyatakan bahwa negasi universal mengimplikasikan sebuah afirmasi pada yang particular. Sebagai contoh: tidak semua manusia mortal, mengimplikasikan bahwa ada beberapa manusia yang immortal. Sang malaikat bisa diasumsikan sebagai singleton dari singleton (0), maka being dari bilangan ini, ((0)), merupakan sebuah set yang sama sekali berbeda dengan set sebelumnya, karena langkah awalnya adalah void, yang tidak punya elemen dan bilangan 1 mematerialisasikan void. Dengan demikian, sang malaikat sama sekali tidak punya elemen, ia tidak punya kapasitas untuk berefleksi, maka ia hanya hadir sebagai sebuah pengumuman bermulanya sebuah kejadian Cinta.

Hal lain yang tercipta karena dua posisi pengalaman dalam Arena Cinta ini adalah ketidakmungkinan bagi kedua individu untuk saling memahami. Badiou tidak setuju dengan penjelasan para phenomenologist yang menyatakan bahwa Cinta adalah kesadaran akan liyan sebagai liyan. Dengan menempatkan liyan sebagai objek kesadaran tentunya memosisikan para phenomenologist pada salah satu pilihan ini: melemahkan liyan supaya ia bisa dijadikan diri, atau melemahkan diri untuk menjadi liyan. Yang pertama sadisme, yang terakhir masochisme. Konsekwen ini tidak terhindarkan, karena premiss utamanya berangkat dari kesadaran dalam subjek. Badiou merasa kedua pilihan ini tidak memungkinkan terciptanya sebuah multiplisitas murni.

Konsep filsafat Badiou menegaskan bahwa subjek itu senantiasa adalah multiple daripada multiples, berdasarkan teori himpunan yang menyatakan bahwa setiap bilangan ordinal terbentuk dari satu komponen unsur lain, yakni nol. Bilangan finite semuanya bermula dari 0, atau void, yang tidak punya elemen. Ia kemudian dimaterialisasi menjadi singleton (0), satu. Ordinal finite ini, karena punya elemen maksimal maka ia bisa dimaksimalkan ke bilangan berikut di mana kalau ada satu term yang mendominan. Berbeda dengan bilangan finite, bilangan infinite tidak punya elemen maksimal maka antara dua bilangan infinite terdapat satu gap: bilangan finite bisa menyeberang ke limit ordinal, ω, yang merupakan pertanda pertama infinitas, melalui berbagai fungsi: yakni prinsip minimalitas atau logika pengulangan (recurrence reasoning): bila ada ordinal bukan-P, maka, karena bukan -P adalah terkecil yang memilik properti bukan-P, semua yang lebih kecil darinya memiliki properti P dan melalui prinsip penggabungan (union): L=∪L, atau w1 ∈ w2 ∈ L. Semua ini bisa terjadi karena prinsip utama teori himpunan adalah kepemilikan (belonging) dan inklusi (inclusion).

Dengan pemikiran seperti ini, maka kebenaran adalah sexuated, atau berkelamin. Apa yang dialami oleh lelaki dan perempuan selalu berbeda. Karena setiap ordinal terdiri dari satu komponen elemen yang berbeda dengannya. Bila pengalaman lelaki adalah: kita berdua dan tidak ada satu, maka pengalaman perempuan: kita berdua atau tidak sama sekali.

Menghadapi posisi yang boleh dikatakan terhalang seperti ini, bagaimana dua manusia bisa bersama? Mereka bersama karena fungsi H(x), bahwa mereka bersama dalam satu set kemanusiaan. Bagaimana mereka bisa menjalankan kehidupan dalam Cinta? Melalui sebuah proses, yang tidak lain adalah seperangkat fungsi matematika, f(x), yaitu perjalanan sebagai materi kehidupan, maka f(x) fungsi menyubtraksi dari materi, melalui pengumpulan R(x), pengumpulan elemen terkecil yang kemudian rekonstitusi keutuhan ordinal berikut. Melalui fungsi-fungsi ini maka Dua menjalani kehidupan bersama. Bersatu dalam sebuah kejadian Cinta yang diawali oleh sebuah deklarasi cinta, sebuah event, dan melewati proses ini dengan keyakinan akan kebenaran Cinta di cakrawala. Langkah yang diambil mereka mendefinisikan posisi masing-masing, dan mengantisipasi kebenaran, merujukkan mereka ke pengetahuan tentang diri masing-masing.
Fungsi-fungsi ini mencakup:

1. Fungsi Pengembaraan (wandering), ketidakdugaan dan perjalanan tanpa rencana. Fungsi ini menampilkan presentasi Dua pada infinitas Dunia.
2. Fungsi Immobilitas menjaga supaya penamaan kejadian selalu terjaga sehingga ia tidak tenggelam oleh kejadian itu sendiri.
3. Fungsi Dorongan Imperatif: selalu berlanjut walaupun terpisah. Ketidakhadiran mengukuhkan sebuah kontinuitas.
4. Fungsi Naratif, yang, dengan pengumpulan catatan, menandai momen-momen pengembaraan.

Fungsi pertama dan keempat biasanya fungsi-fungsi yang dijalankan oleh perempuan.

Cinta dan Nafsu

Cinta pada awalnya bermula dari sebuah perjumpaan (encounter). Ia terwujud menjadi sebuah kejadian, event, melalui deklarasi, ketika salah satu dari pasangan membuat deklarasi: Aku Mencintai Kamu. Kedua individu dalam Arena Cinta pada awalnya tampil sebagai dua tubuh, kemudian melalui penamaan (naming atau Count-as-One), yakni deklarasi itu, dan oleh karena perbedaan jenis kelamin, menjadi pertanda (mark).

Karena tidak ada posisi ketiga, dan tidak punya bahasa untuk mengungkap hubungan mereka (karena mereka terperangkap dalam sebuah kejadian yang sama sekali tidak punya kaitan dengan apa yang ada), maka mereka hanya merupakan dua pertanda, yang tidak bisa dijumlahkan. Tidak mengherankan bahwa dalam sebuah hubungan, kita sering mendengarkan keluhan, “Ah, kamu tidak paham aku!”

Dua yang kita berikan kepada mereka hanyalah bilangan simbolik. Seperti orang luar memandang mereka sebagai pasangan, pengetahuan eksternal ini sama sekali tidak mengaruhi atau pun relevan dengan pengalaman dua pertanda di dalam Arena Cinta: karena dalam Arena Cinta hanya ada dua posisi, dan tidak ada posisi ketiga.

Cinta mengaktifkan dua tubuh itu dengan menandainya. Beda dengan nafsu yang selalu ingin menggapai Satu dalam bentuk sebuah objek, Cinta menandai Dua dengan melepaskan objek. Maka tanpa cinta, semua hubungan bagi Badiou sifatnya masturbasi. Badiou menegaskan kembali bahwa Cinta terwujud dari sebuah situasi multiple murni yang menjadikan dua pertanda subjek sejati dalam sebuah prosedur kebenaran.

Walaupun pasca kejadian Cinta, dua tubuh itu menjadi subjek yang ditandai, dalam perjalanan kebenaran Cinta mereka akan selalu terpisah oleh kesenjangan-kesenjangan yang disebut di atas. Namun melalui fungsi-fungsi kebenaran, mereka akan berjalan terus dengan sebuah keyakinan akan satu kebenaran di cakrawala. Dalam kesenjangan ini, mereka tertaut dalam sebuah fungsi kemanusiaan, yaitu H(x), terlepas dari itu, seperti yang digambarkan oleh Badiou, dengan mengutip dari Sodom dan Gemorrah, mereka akan mati di sisi masing-masing. Cinta, kata Badiou, adalah sebilah pisau. Mencintai dengan baik adalah memahami dengan buruk.

Sebuah makalah yang dipresentasi di sebuah kelas filsafat, Universitas Indonesia 2009.

One thought on “Ada Apa Dengan Cinta: sebuah sketsa prosedur kebenaran cinta Alain Badiou

  1. ceiling lights

    I was just seeking this information for some time. After 6 hours of continuous Googleing, finally I got it in your site. I wonder what’s the lack of Google strategy that do not rank this kind of informative sites in top of the list. Usually the top web sites are full of garbage.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *