Category Archives: Philosophy


Seni, menurut Jacques Ranciere, terdiri dari imaji-imaji. Dan imaji-imaji seni adalah operasi-operasi yang memproduksikan sebuah kesenjangan (discrepancy), sebuah ketidakserupaan (dissemblance). Dalam pengertian ini, maka imaji tidak eksklusif pada apa yang terlihat (visible). ‘Ada visibilitas yang sama sekali tidak menghasilkan sebuah imaji; ada pula imaji-imaji yang keseluruhannya terdiri dari kata-kata.”

Maka di permukaan sebuah karya seni terjadi sebuah pertalian antara apa yang bisa disebut dan apa yang terlihat. Benang pertalian ini bisa saja berupa sebuah analogi maupun sebuah ketidakserupaan (dissemblance). ‘Interaksi ini sama sekali tidak membutuhkan kedua terma mesti tampil secara material. Yang terlihat bisa disusun dalam formasi (tropes) bermakna; kata-kata bisa digelar dengan sebuah visibilitas yang gemilang.’ Dengan kata lain, yang diperlukan dalam sebuah interaksi antara yang tersirat dan yang terlihat adalah sebuah penghubung, parataksis, tak bersubjek.

Di dalam tubuh karya-karya Dedy Sufriadi tersirat kiat-kiat untuk menyentil apa yang tak terungkap sehingga ia keluar ke permukaan melalui sebuah persilangan aksara.  Karya-karya seperti Landscape dan Puzzle, mungkin paling mudah disimak, menampilkan sisi analogi rupa dan objek yang dipertautkan oleh sebuah goresan aksara: lihat goresan aksara secara diagonal dari kiri atas ke kanan bawah dalam karya Puzzle yang menjadi sebuah jembatan digambarkan oleh Ranciere sebagai sebuah kesenjangan (discrepancy) dan lihat pula guratan-guratan yang berubah-rubah dalam tiap keping bingkai Landscape, berupa tiga tulang iga seekor hewan, sebatang ranting, dan kupu-kupu, yang membentuk sebuah pertalian bermakna ketidakserupaan (dissemblance) dalam karya itu.

Penelusuran/penguraian menurut metode seperti ini semakin sulit atau menjadi sangat subtil ketika Dedy Sufriadi menanggalkan semua penanda-penanda penghubung dalam karya-karya seperti Kamuflase, Ikon, Village, Gold dan Comic Series. Di mana belang dalam Kamuflase itu? Di mana bentuk dalam Ikon? Di mana geometri gubuk dalam Kampung (Village) itu? Di mana riak gelaktawa dalam Comic series? Di mana keemasan dalam kemilau Emas (Gold)? Kita hanya bisa meraba-meraba melalui gradasi warna, demarkasi linea, dan penzonaan ruang agar bisa mengumpulkan kembali pencitraan imaji yang bertaburan supaya ia tidak hambur kembali ke dalam skizofrenia antahbrantah.

Dari pergelutan Dedy Sufriadi ini, kita bisa lantas memositkan bahwa permukaan bukanlah sebuah bidang yang memberi sebuah kesenjangan (discrepancy) ataupun ketidakserupaan (dissemblance) tetapi kebuntuan itu sendiri, atau faille itu, yang menurut Lacan, ‘kata penunjuk dalam tubuh Liyan dari mana tuntutan-tuntutan jouissance berawal.’

Di dalam ruang kebuntuan ini, setiap subtraksi menampilkan sebuah lokus, dan seruan sebuah topologi. ‘Penanda-penanda ganjil’ dalam tubuh jouissance pada akhirnya adalah jejak-jejak aksara yang dibutuhkan untuk mewujudkan hasrat dalam realita konkret. Berbekal pengertian seperti ini, saya meneropongi karya-karya Dedy Sufriadi. Boleh jadi karyanya sengaja tidak sesaksama seperti karya Joan Miro yang bilamana kita bubuhkan setetes cat minyak di ujung kanvas Obra de Joan Miro, keseluruhan topologi karya itu akan berubah seketika. Kanvas Dedy Sufriadi, seperti ruang kebuntuan yang disebut Lacan itu, memungkinkan sebuah perhitungan satu per satu bisa dilakukan dalam satu persimpangan (intersection) kebuntuan yang tak terhingga. Ia menuntut keberulangan subtraksi dan pengungkapan agar yang terhasrat bisa terkonstitusi dan terinskripsi.

Sebuah perenungan atas permintaan PhiloArtspace.

Jakarta May 17, 2010

Sense and Sensibility

For the longest time we’ve been misled by Descartes. We’ve been told time and again that our mind is the seat of the highest reason and emotions are a separate zone that has little to do with our critical faculties. In view of recent developments in neurosciences, we should rewire our understanding about what truly makes sense and how our sensibility is formed.

For centuries, the mystics, Deepak Chopra no less in modern conundrum, have tried to convince us that I’m therefore I think. We’ve always been annoyed by the fact that people who make the least sense are often ones who make the most sense. Antonio Damasio’s seminal book, The Feeling of What Happens: body, emotion and the making of consciousness, sheds more light on how our actions are truly arrived at through information sent from our somatic markers. One example cited in this enlightening book is that in a critical situation, such as heading toward a collision, the somatic markers throughout our body alert us and dictate our action long before our brain has adequate time to process the information. Malcom Gladwell in Blink brings up another example that we’ve known all along to be true but couldn’t really put a finger to it. Gladwell’s research shows that an art investigator has an inkling about whether an artefact is forgery or genuine within seconds of looking at it.

If we were to take these findings seriously, we must re-think the way we often categorize people as if they belong to separate types. Pragmatic people are often dubbed as being dull and efficient and they’re as far removed from intelligence as tofutti and Parmesan, whereas sensitive people are more likely to be considered sensible, wacky and yes so damn smart. As it turns out, it has nothing to do with intelligence at all. It has more to do with how tuned in the sensory systems in each of us are. It appears that the more attention we pay to our surrounds, the better our sensory systems will be honed. Those people that are waywardly pragmatic or dogmatic are then people who won’t break out of their molds. And those most endowed with sensibility (I believe the matter of taste must in some way come from hereabout) are often known to be undisciplined and adventurous.

If we were to take everything that’s said above into account and bear it out against what we’ve been hammered consistently to believe about discipline, we must conclude that discipline plays a very minor role in the totality of learning. The concept of No Pain No Gain as an equation for learning should be eradicated. For whatever that most appeals to a person’s sensibility in the end will out his or her proclivity in learning. To see how much damage has been caused by parents by meddling with their children’s careers, all you have to do is to interview those engineering, economics, law graduates who turn out in the end to be interior designers, film directors and literary critics. It seems that interest should always come first before perseverance or discipline can take effect. A person driven by the passion of his interest will in the long run make something out of their life rather than those forced into things they detest.

The fear of emotions, the belief that they often lead one to silly blunders or calamitous errors of judgment, has always been touted against overly emphasis on whatever that appeals to our senses. This is of course a paradox inherited from the Victorian age. Because how can a person do wrong if he or she follows whatever his or her instinct tells her to do? Those that are confused are certainly people who have problems believing in their own emotions. Those that are so out of touch with personal relations are again people who restrain from truly feeling the emanations of each situation they are in. Just as those art investigators who know within seconds of looking at an artefact, we should be able to sense the conditions of a situation we find ourselves in.

The proponents of Think!, a book that refutes Blink!, would like us to think that we can’t trust our emotions. It shows how certain people who repeatedly make the same mistakes because they trust their instinct over their reason. These advocates seem to me quite facetious about the idea of right and wrong, as if every situation is a decision in the nick of time that spells success or doom. As if when one’s in a millisecond situation, the pressing of the wrong button will blow one away forever. Think what happens if you don’t press that button at the millisecond. You’ll still be blown away for sure. There is always that fifty-fifty chance in every critical situation in our life. The question should be more about how well-accumulated our experiences are up to that point or what have brought us to that situation rather than about the right or wrong button to press. I’m inclined to think that those with a wealth of experiences, thus with more seasoned sensibility, will likely survive any such critical point: they would likely have scooted out of the situation at a mere glance rather than waited for that millisecond point to explode in their faces! And we should therefore speculate that those who repeatedly make the same mistakes in their lives must not be very perceptive people, or they would not be so numbed as not instinctually to learn from their past mistakes; we’ve been often told by psychotherapists that traumatic experiences tend to cause us to refrain from repeating certain acts.

To have good sense then means to exercise our senses to the fullest, which naturally involves some kind of shenanigans as they’re part and parcel of what make up for our natural learning curves.

A version of this essay was published in Now! Jakarta, March 2010

To Love is To Never Stop Counting

To talk about love is akin to bringing up an old sore to which each is to her own pain. (Ecstasy is usually consigned to the false prophets.) Much like talking about a creed, a faith, or a politic. This is so because love is strapped to the point of petrifaction with so many layers of myths, hearsays, moral tales and differentiated thoughts. The scientists will tell you, it’s simply molecules causing a chemical combustion. The poets, wiser, nonetheless more oblique, eulogize Aphrodite, sending her up to the altar of all creations. They refuse to obfuscate the matter with nitty-gritty abstraction. The thinkers are of a different stripe of creatures altogether. They refuse to accept established norms. Grappling with a few working tools, they try obdurately to unmask the myths and sniggle in the ever narrowing crack to fish for a still possible new light.

Venus and Aphrodite

Various beliefs and myths tell us that Venus is the Roman counterpart of the Greek Aphrodite. She is the protectress of Julius Caesar and the Goddess, often associated with Etruscan deity Turan, has as many epithets annexed to its name as there are people to claim her heritage: thus we have Venus Acadilia (to do with baths and a well in Orchomenus, Venus Cloacina (the Purifier), Venus Erycina (from Mount Eryx in Sicily to represent the icon of impurity for prostitutes), Venus Genetrix (Mother Venus as the originator of Romans), Venus Libertina (erroneously construed for pleasure) and Venus Victrix ( a derivative from east for Istar, a goddess of war).


Eros in mythology is generally described as the son of Aphrodite. Hesiod claims in Theogony that Eros emerges from Chaos. But Eros is known for his love for Psyche, the youngest of three daughters of a king , who is so beautiful that she angers Aphrodite. Eros is sent to make Pysche fall in love with the ugliest man on earth. But Eros, upon seeing Psyche, falls in love with her. He’s so in love with her that he touches himself and Psyche with his torch. Eventually, understanding the impossibility of their situation, Eros erases the memory of their love from Psyche. Sensing that her cupid son hasn’t done his job, Aphrodite casts a spell on Psyche. Not another suitor will come knocking on her door ever since. Her worried parents take her to see the oracle, who tells them that Psyche will never marry a mortal. She will be given to one who waits for her beyond the mountain. He will overcome Gods and men. In the valley, Psyche soon hears the voice of her husband, a kind and loving creature that refuses to be seen in daylight. Because once she sees him, their happiness will flee forever. Soon her sisters come to visit her in the valley. They insinuate into Psyche the idea that she must definitely take a good look at her husband for fear that she might be trapped by some insidious monster. One night after her husband has gone to sleep, she lights up a lamp and takes a good look at him. It’s Eros, who looks back at her in astonishment and flees away. Saddened, she returns to her village and tells her sisters about her betrayal of Eros’s trust and the penalty of her sin. She then embarks on an aimless journey in search for him. One day she comes upon a deserted hall strewn with ears of corn, barley and wheat. Psyche proceeds to clean up the mess. Her deed catches the attention of Demeter who sees the beauty of her soul and takes pity in her. She tells her to go to Aphrodite’s temple and begs for her forgiveness. Of course, Aphrodite is still angry with Psyche. She sets up a chore for her to finish before sundown, which Psyche does with patience. Which naturally angers Aphrodite even more. So she asks her to go down to the grove and collect the fleece from all the sheep there. Again with the help with the Naiads, the sea nymphs, who tell her that the sheep are tame and quiet after the sun sets and while they sleep, Psyche can collect their golden fleece. Returning to Aphrodite with the golden fleece, Psyche is set upon another task to go down to the underworld to collect Persepone’s beauty in a box. A task Aphrodite believes will definitely trip Psyche. Again, Eros comes to her assistance, navigating her through the dangerous labyrinths and tells her not to open the box that contains Persepone’s beauty. On her way, Psyche thinks that Aphrodite will not need the beauty but she, travel-worn that she is, will please Eros tremendously if she has the beauty. So she opens the box, thus breaking the commandment of the immortal and falling unconscious. Eros goes to Olympus and pleads with the feasting gods. The gods are moved by the pure beauty of their love and summon Aphrodite and soothe her until she relents. Hermes is then sent down to earth to pick up Psyche and reunite her with Eros in Olympus.

Myths, as we‘ve learnt, are disguised statements from lived lives. There is hidden in the story of Eros and Psyche the longing for the ideal love: the eternal truth of love. The kind that moves and affects even the gods! But how are we to make of this ideal love when Venus or Aphrodite as goddess or as saint is perceived in different lights by diverse cultures? When there are as many myths and stories of love as there are individual experiences? When love, as an acronym, an abstract term can’t constitute itself for lack of unifying denominators? This impasse in thought had caused the postmodern to think erroneously that since there was not one altar for love, therefore there must be many. As such, bodies and languages were the two freest components of our existence. So we abused them. Promiscuities and obscenities were the direct results; the firebrands of this cause thought this was the meaning of life: rebellion and defiance against our own limitation! Now we can look back with a sneer at this thought. A more scientific and more thoughtful way of looking at the whole matter has been posited by more affirmative thinkers. There is no One, true, but the multiples are not necessarily dissembling into nothingness. The negative sign ¬ p can be converted into positive by simply adding ¬¬p. Therefore, nature is by itself positive. So is love. The trick is never to buy into the concept of two become one. But rather Two as the inevitable inscriptions in the arena of love; they are irreconcilable, because to love as in to live is not about aiming for the totality of the count, for that unreachable definitive term of love or life, but the recollections of every move in an endless counting. To move from one step to another step in the ascending ladder, as Plato’s Diotima tells us, is the way to eternal love.

A version of this article was published in Now Jakarta, February 2010

Ada Apa Dengan Cinta: sebuah sketsa prosedur kebenaran cinta Alain Badiou

Wednesday, July 1, 2009

Dalam eksplorasi filsafatnya, Badiou menelisik empat prosedur kebenaran: Sains, Seni, Politik dan Cinta. Kenapa Badiou memilih kategori-kategori ini? Karena baginya inilah subjek-subjek paling banal dalam kehidupan manusia, di mana sistem pemikiran kemajemukan teori himpunannya bisa menata ulang pemikiran lama. Dia merasa para pemikir sejak era klasik Junani hingga postmodern selalu menafsirkan finitas sebagai sebuah kondisi nyata tak terelakkan dengan matinya Satu Absolut di cakrawala, atau mereka menafsirkan Satu Ideal sebagai sebuah loncatan, atau seperti Lacan sebuah batasan yang tak terakses namun bisa dimanfaatkan untuk mengdefinisi finitas. Dia merasa yang pertama melululantakan filsafat menjadi serpihan pemikiran di pinggir-pinggir, yang terakhir tidak sungguh-sungguh menelaah infinitas. Semua usahanya untuk mengembalikan filsafat ke sebuah jalur yang sistematis dan klasik dilakukan supaya infinitas bukan sebuah Satu Absolut yang diidolakan, tetapi sebuah banalitas kehidupan. Dia merasa hanya dengan demikian, manusia bisa terbebas dari finitas untuk mengeksplorasi kemajemukan murni. Untuk bisa mencapai tujuannya ini, Badiou memerlukan angka, karena hanya melalui angka, being bisa melintas dan menggapai infinitas.

Dengan latar seperti ini, Badiou memilih Cinta sebagai salah satu prosedur kebenarannya. Cinta paling rawan penafsiran. Ia dipandang kalau bukan dari sudut hasrat, maka dari struktur moralitas. Cinta bagi Badiou adalah sebuah logika murni. Ia mengutip dari penyair Alberto Caeiro – salah satu heteronym penulis Portugal, Fernando Pessoa; nama samaran lainnya Alvaro de Campos, Ricardo Reis — bahwa Bercinta adalah Berpikir. Dan dia juga ingin membuktikan bahwa Cinta adalah sebuah elemen utama yang mengaktifkan prosedur generik lainnya.

Prosedur kebenaran Cinta Badiou adalah sebuah pembongkaran ulang pemikiran Jacques Lacan. Bagi Badiou, penjelasan Lacan bahwa untuk setiap x, Φ/x, merujuk kembali ke pemikiran keterbatasan finitas. Konsep Lacan adalah sebagai berikut: lelaki dan perempuan tidak bisa menyatu karena lelaki pada dasarnya adalah unsur untuk semua (for all, Φ), sedangkan perempuan, karena, ia merupakan lubang dari keseluruhan, adalah tidak semua (not all, -Φ). Perempuan dalam hal ini, sekaligus manusia serba kekurangan (destitute) dan serba ada (universal). Ditafsir demikian maka perempuan di satu sisi adalah finite, di sisi lain infinite. Kekurangan perempuan (sebagai lubang untuk keseluruhan) mengakibatkan sebuah faille, atau keretakan dalam realitas. Keretakan ini, menurut Lacan, kemudian terkompensasi oleh simbol falus lelaki, Φ. Pemikiran ini, menurut Badiou, tidak sempurna karena Lacan menyodorkan konsep infinite (yaitu crack dalam realitas) sebagai sebuah perbatasan yang tidak bisa diakses, inaccessible. Lacan berkesimpulan secara keliru bahwa bilangan Dua adalah satu-satunya bilangan yang tidak bisa diseberangi oleh 1. Dia menyalahtafsirkan bilangan 1 sebagai bilangan fondasi yang tak utuh karena ia beranjak dari bilangan kosong, sedangkan bilangan seterusnya seperti 3 bisa diperoleh dengan menambahkan satu: 2+1. Kekeliruan penafsiran Lacan tentang Aksiom Fondasi terletak pada pemahaman bilangan 0, yang oleh Badiou dipertegas sebagai sebuah bilangan tanpa elemen yang terkandung di setiap bilangan ordinal lainnya, dan oleh Lacan sebagai sebuah elemen yang memulaikan serangkai angka dengan tambahan satu, yakni dari nol ditambah satu maka jadi satu. Konsep infinitas Lacan terkesan sebuah dalih mempergunakan keberadaan infinitas untuk menjelaskan finitas. Karena sebenarnya kekeliruan Lacan bisa dikoreksi dengan mudah bila kita menambahkan 1 dengan 1 untuk memperoleh 2. Bilangan Dua Lacan dengan demikian bukanlah bilangan ordinal infinite yang seperti ditafsirnya, tetapi ia sebuah bilangan penuh finitas.

Penolakan Pada Tafsiran Umum Tentang Cinta
Alain Badiou menolak:

1. Bahwa Cinta merupakan peleburan Dua menjadi Satu. Karena kesenjangan dalam koneksi seksual antara lelaki dan perempuan.
2. Bahwa Cinta adalah penyembahan yang Sama pada altar liyan (yang lain). Karena kesadaran terhadap liyan (yang lain) tidak memungkinkan penguakan Dua.
3. Bahwa Cinta adalah sebuah kompensasi yang mengisi kekurangan (lack atau faille atau crack), sehingga Cinta sering ditafsir sebagai efek samping Nafsu.


Menafsir ulang pemikiran Lacan tentang kesenjangan koneksi seksual antara lelaki dan perempuan, Badiou menawarkan sebuah pendekatan baru yang menyatakan bahwa Cinta adalah sebuah produksi bilangan Dua. Bilangan ini bukan sebuah penjumlahan 1+1=2, tetapi adalah dua pertanda dalam Arena Cinta: dalam Arena Cinta ada dua posisi pengalaman. Karena bilangan 1 dalam Arena Cinta tidak bisa ditambahkan dengan 1 yang lain, maka Badiou menyatakan bahwa dalam Arena Cinta tiada posisi ketiga. Kecuali kalau kita ingin berspekulasi adanya malaikat, dalam hal ini sang malaikat hanya bisa hadir untuk mengumumkan kejadian Cinta itu. Jikalau tidak ada posisi ketiga, maka bagaimana kita bisa membahas tentang Cinta? Badiou menjawab karena adanya kejadian itu dan bermulanya sebuah prosedur kebenaran, yang kemudian secara retrogresi kita bisa telusuri kembali kejadian itu.

Dalam penjelasan Badiou terbesit teorem Aksiom Set Kosong dan Aksiom Set Infinite. Sang lelaki, yang seperti dijelaskan oleh Lacan, sebagai untuk-semua (for all) adalah bilangan finite, yang bisa, melalui proses pengambilan selangkah lagi, disuksesi ke ordinal berikut dengan sebuah rumus S, S(W), yakni 0, (0), (0, (0)), dan (0, (0), (0,(0))), sedangkan sang perempuan sebagai angka infinite, atau limit ordinal, ω, yang melintas dari finite ke infinite melalui sebuah rumus minimalitas: yakni bila -p maka ada elemen terkecil yang p. Fungsi minimalitas ini dipinjam Badiou dari konsep atomistic Aristotle, yang menyatakan bahwa negasi universal mengimplikasikan sebuah afirmasi pada yang particular. Sebagai contoh: tidak semua manusia mortal, mengimplikasikan bahwa ada beberapa manusia yang immortal. Sang malaikat bisa diasumsikan sebagai singleton dari singleton (0), maka being dari bilangan ini, ((0)), merupakan sebuah set yang sama sekali berbeda dengan set sebelumnya, karena langkah awalnya adalah void, yang tidak punya elemen dan bilangan 1 mematerialisasikan void. Dengan demikian, sang malaikat sama sekali tidak punya elemen, ia tidak punya kapasitas untuk berefleksi, maka ia hanya hadir sebagai sebuah pengumuman bermulanya sebuah kejadian Cinta.

Hal lain yang tercipta karena dua posisi pengalaman dalam Arena Cinta ini adalah ketidakmungkinan bagi kedua individu untuk saling memahami. Badiou tidak setuju dengan penjelasan para phenomenologist yang menyatakan bahwa Cinta adalah kesadaran akan liyan sebagai liyan. Dengan menempatkan liyan sebagai objek kesadaran tentunya memosisikan para phenomenologist pada salah satu pilihan ini: melemahkan liyan supaya ia bisa dijadikan diri, atau melemahkan diri untuk menjadi liyan. Yang pertama sadisme, yang terakhir masochisme. Konsekwen ini tidak terhindarkan, karena premiss utamanya berangkat dari kesadaran dalam subjek. Badiou merasa kedua pilihan ini tidak memungkinkan terciptanya sebuah multiplisitas murni.

Konsep filsafat Badiou menegaskan bahwa subjek itu senantiasa adalah multiple daripada multiples, berdasarkan teori himpunan yang menyatakan bahwa setiap bilangan ordinal terbentuk dari satu komponen unsur lain, yakni nol. Bilangan finite semuanya bermula dari 0, atau void, yang tidak punya elemen. Ia kemudian dimaterialisasi menjadi singleton (0), satu. Ordinal finite ini, karena punya elemen maksimal maka ia bisa dimaksimalkan ke bilangan berikut di mana kalau ada satu term yang mendominan. Berbeda dengan bilangan finite, bilangan infinite tidak punya elemen maksimal maka antara dua bilangan infinite terdapat satu gap: bilangan finite bisa menyeberang ke limit ordinal, ω, yang merupakan pertanda pertama infinitas, melalui berbagai fungsi: yakni prinsip minimalitas atau logika pengulangan (recurrence reasoning): bila ada ordinal bukan-P, maka, karena bukan -P adalah terkecil yang memilik properti bukan-P, semua yang lebih kecil darinya memiliki properti P dan melalui prinsip penggabungan (union): L=∪L, atau w1 ∈ w2 ∈ L. Semua ini bisa terjadi karena prinsip utama teori himpunan adalah kepemilikan (belonging) dan inklusi (inclusion).

Dengan pemikiran seperti ini, maka kebenaran adalah sexuated, atau berkelamin. Apa yang dialami oleh lelaki dan perempuan selalu berbeda. Karena setiap ordinal terdiri dari satu komponen elemen yang berbeda dengannya. Bila pengalaman lelaki adalah: kita berdua dan tidak ada satu, maka pengalaman perempuan: kita berdua atau tidak sama sekali.

Menghadapi posisi yang boleh dikatakan terhalang seperti ini, bagaimana dua manusia bisa bersama? Mereka bersama karena fungsi H(x), bahwa mereka bersama dalam satu set kemanusiaan. Bagaimana mereka bisa menjalankan kehidupan dalam Cinta? Melalui sebuah proses, yang tidak lain adalah seperangkat fungsi matematika, f(x), yaitu perjalanan sebagai materi kehidupan, maka f(x) fungsi menyubtraksi dari materi, melalui pengumpulan R(x), pengumpulan elemen terkecil yang kemudian rekonstitusi keutuhan ordinal berikut. Melalui fungsi-fungsi ini maka Dua menjalani kehidupan bersama. Bersatu dalam sebuah kejadian Cinta yang diawali oleh sebuah deklarasi cinta, sebuah event, dan melewati proses ini dengan keyakinan akan kebenaran Cinta di cakrawala. Langkah yang diambil mereka mendefinisikan posisi masing-masing, dan mengantisipasi kebenaran, merujukkan mereka ke pengetahuan tentang diri masing-masing.
Fungsi-fungsi ini mencakup:

1. Fungsi Pengembaraan (wandering), ketidakdugaan dan perjalanan tanpa rencana. Fungsi ini menampilkan presentasi Dua pada infinitas Dunia.
2. Fungsi Immobilitas menjaga supaya penamaan kejadian selalu terjaga sehingga ia tidak tenggelam oleh kejadian itu sendiri.
3. Fungsi Dorongan Imperatif: selalu berlanjut walaupun terpisah. Ketidakhadiran mengukuhkan sebuah kontinuitas.
4. Fungsi Naratif, yang, dengan pengumpulan catatan, menandai momen-momen pengembaraan.

Fungsi pertama dan keempat biasanya fungsi-fungsi yang dijalankan oleh perempuan.

Cinta dan Nafsu

Cinta pada awalnya bermula dari sebuah perjumpaan (encounter). Ia terwujud menjadi sebuah kejadian, event, melalui deklarasi, ketika salah satu dari pasangan membuat deklarasi: Aku Mencintai Kamu. Kedua individu dalam Arena Cinta pada awalnya tampil sebagai dua tubuh, kemudian melalui penamaan (naming atau Count-as-One), yakni deklarasi itu, dan oleh karena perbedaan jenis kelamin, menjadi pertanda (mark).

Karena tidak ada posisi ketiga, dan tidak punya bahasa untuk mengungkap hubungan mereka (karena mereka terperangkap dalam sebuah kejadian yang sama sekali tidak punya kaitan dengan apa yang ada), maka mereka hanya merupakan dua pertanda, yang tidak bisa dijumlahkan. Tidak mengherankan bahwa dalam sebuah hubungan, kita sering mendengarkan keluhan, “Ah, kamu tidak paham aku!”

Dua yang kita berikan kepada mereka hanyalah bilangan simbolik. Seperti orang luar memandang mereka sebagai pasangan, pengetahuan eksternal ini sama sekali tidak mengaruhi atau pun relevan dengan pengalaman dua pertanda di dalam Arena Cinta: karena dalam Arena Cinta hanya ada dua posisi, dan tidak ada posisi ketiga.

Cinta mengaktifkan dua tubuh itu dengan menandainya. Beda dengan nafsu yang selalu ingin menggapai Satu dalam bentuk sebuah objek, Cinta menandai Dua dengan melepaskan objek. Maka tanpa cinta, semua hubungan bagi Badiou sifatnya masturbasi. Badiou menegaskan kembali bahwa Cinta terwujud dari sebuah situasi multiple murni yang menjadikan dua pertanda subjek sejati dalam sebuah prosedur kebenaran.

Walaupun pasca kejadian Cinta, dua tubuh itu menjadi subjek yang ditandai, dalam perjalanan kebenaran Cinta mereka akan selalu terpisah oleh kesenjangan-kesenjangan yang disebut di atas. Namun melalui fungsi-fungsi kebenaran, mereka akan berjalan terus dengan sebuah keyakinan akan satu kebenaran di cakrawala. Dalam kesenjangan ini, mereka tertaut dalam sebuah fungsi kemanusiaan, yaitu H(x), terlepas dari itu, seperti yang digambarkan oleh Badiou, dengan mengutip dari Sodom dan Gemorrah, mereka akan mati di sisi masing-masing. Cinta, kata Badiou, adalah sebilah pisau. Mencintai dengan baik adalah memahami dengan buruk.

Sebuah makalah yang dipresentasi di sebuah kelas filsafat, Universitas Indonesia 2009.

Kesetaraan dan Keabadian: Dua Pandangan Multiplisitas Yang Saling Menganyami Namun Tidak Bisa Disamakan Antara Deleuze dan Badiou


Baik Deleuze maupun Badiou memandang multiplisitas sebagai sebuah persoalan yang belum tertuntaskan sejak Parmenides. Penelusuran masing-masing filsuf mengantar filsafat mutakhir ke sebuah titik bercabang antara intensitas sebuah kehidupan nomadis dan aksioma formalis subjektif.

Persoalan Satu dan Banyak (One and Many) berawal dari sebuah diskursus antara Parmenides dan Socrates yang dicatat oleh Plato dalam sebuah dialog bertajuk Parmenides. Dialog pendek sekitar 36 halaman ini telah memusingkan banyak pemikir dan menjadi katalis berbagai tafsiran, namun Deleuze dan Badiou merasa persoalan ini belum dituntaskan.

Dalam dialog itu, Parmenides, yang saat itu mendekati umur 70 dan Socrates muda yang dianggapnya masih ‘kurang’ saksama dalam pejelajahan filsafat, ‘menceramahinya’ di depan Zeno dan Aristoteles. Ikthisar dialog ini adalah sebagai berikut: bila Satu ada, maka ia juga merupakan satu bagian dari banyak. Dan bila ia berada di antara banyak maka ia sekaligus Banyak dan Satu. Bila ia ada, maka ia tidak bisa berada; kalau ia ada maka ia tidak bisa sekaligus ada dan tiada, karena begitu ia ada ia akan terangkum dalam banyak. Sebaliknya, bila Satu tidak ada, maka banyak tidak bisa diperhitungkan, karena begitu banyak dihitung maka Satu akan selalu ada supaya banyak bisa berada. Pada akhir dialog yang memusingkan ini, Parmenides menyimpulkan: Maka, jikalau Satu tiada, yang lain tiada, dan tidak juga bisa dibayangkan keberadaannya, satu ataupun banyak.

Tidak juga, bila satu tiada, yang lain bisa berada, atau tampil serupa atau tidak serupa, atau sama atau beda, atau bersentuhan atau terpisah, dan seterusnya dengan segala karakteristik lain yang telah kita kupaskan sepertinya dimiliki oleh mereka.

Dengan demikian, secara ringkas, kita boleh menyimpulkan: Bila tiada satu, tiada apapun sama sekali.

Pada kesimpulan ini kita bisa tambahkan. Bahwa terasa, lepas dari ada atau tiadanya satu, baik satu dan yang lain, serupa ataupun tidak serupa, berada dan tidak berada, dan keberadaannya tampil dan tidak tampil, dalam segala hal dan gaya, berkaitan dengan mereka sendiri dan antar satu dengan yang lain. Senantiasa tak terabaikan.

Sebuah kesimpulan yang tidak memberikan pembenaran pasti pada salah satu posisi antara Satu dan Banyak. Para peneliti bertafsir bahwa seperti kecenderungannya dalam berfilsafat, Plato tidak ingin berpihak pada pendiriannya sendiri, namun ia memilih memositkan pemikirannya agar ia bisa diruntuh oleh pemikir-pemikir kemudian. Dua jalur penjelajahan dengan demikian dibuka oleh Plato untuk ditelusuri.

Hegel menafsirkan Keseluruhan (The Whole) sebagai sebuah kebenaran mutlak. Keseluruhan adalah sebuah penguakan-diri (self-unfolding), bukan sebuah kesatuan-eksternal bagi seorang subjek. Terbesit di dalam Keseluruhan adalah konsepnya sendiri. Memikirkan Keseluruhan berarti mengefektuasikan Keseluruhan itu sendiri. Dengan demikian, totalitas sebagai perwujudan diri, bagi Hegel, adalah sebuah penyatuan dengan yang Sejati (True).

Kant menggantikan prinsip kemestian rujukan sebuah objek pada subjek dalam pemikiran empirisme dengan sebuah gagasan keharmonisan antara subjek dan objek. Objek-objek fenomena bukanlah penampilan, dan juga bukan produk-produk dari kegiatan manusia. Hanya melalui metode transcendental, akal spekulatif, yang terdiri dari konsep-konsep a priori seperti pemahaman, imajinasi, dan logika, objek-objek fenomena bisa dilegislasikan dan disintesiskan menjadi ide dan pengetahuan. Dengan demikian, objek-objek fenomena bisa berkoresponden dengan Ide, dan Ide dengan objek-objek fenomena. Korespondensi ini tentunya tidak disebabkan oleh sebuah subjeksi mutlak tetapi sebuah penyatuan yang tak pasti (indeterminate), seperti sebuah pengandaian atau postulat, karena Akal tidak melegislasikan objek-objek fenomena yang bergerak dalam hukum alam yang mandiri. Bagi Kant, sebuah objek adalah hasil dari sebuah operasi sintesis kesadaran.

Bagaimana Deleuze dan Badiou menanggapi persoalan Satu dan Banyak? Apa rujukan-rujukan mereka yang sekaligus mengayami aliran pemikiran masing-masing dan membedakannya?

Deleuze mengambil dari Duns Scotus (seorang pendeta Katolik, filsuf pertengahan abad tinggi) konsep keberadaan tanpa ambigu (univocity of being) dan singularitas individu (haeccity), dari Hume, empirisme transcendental, dan dari Bergson, virtualitas, dan dari Nietzsche, Pengulangan Abadi (Eternal Return), Lewis Carroll, makna dan nonsens, dan dari matematika Albert Lautman, kemajemukan virtual, untuk membangun sebuah sistem pemikiran yang pada dasarnya menyubtraksi dari multiplisitas dan mengindekskan sebuah kehidupan singular yang imanen.

Dua anasir pemikiran Duns Scotus diapropriasi oleh Deleuze untuk membangun sistemnya: univocity of being (keberadaan tanpa ambigu) dan haeccity (properti singularitas entitas) sebagai fitur individuasi yang terbesit dalam setiap individu. Konsep Keberadaan Tanpa Ambigu (univocity of being) yang diperkenalkan oleh Duns Scotus memositkan bahwa keberadaan, sebagai sebuah pemikiran tanpa ambigu, adalah objek pertama intelek. Keberadaan sendiri adalah sebuah transcendental, begitu juga atribut-atribut keberadaan seperti satu, sejati dan baik, yang bergerak selaras (coextensive) dengan keberadaan, namun masing-masing menambahkan sesuatu padanya. Doktrin keberadaan tanpa ambigu (univocity of being) Duns Scotus mengimplikasikan bahwa tiada perbedaan antara esensi dan eksistensi. Duns Scotus juga menekankan bahwa kita mestinya tidak membuat perbedaan apakah sesuatu eksis dan apa ia sebenarnya, karena pada dasarnya kita tidak mengetahui sesuatu itu eksis, kecuali kita mempunyai satu konsep tentang apa yang kita tahu pasti eksis. Prinsip individuasi Duns Scotus, menandaskan bahwa haecceity (properti singularitas entitas), sebagai sebuah kesatuan individu unik yang bertolak belakang dengan sifat alam (common nature), adalah sebuah fitur yang terbesit dalam setiap individu.

Dua anasir pemikiran Duns Scotus ini sangat memengaruhi Deleuze. Dari situ, Deleuze mengembangkannya dengan memasukkan pemikiran-pemikiran lain menjadi sebuah pemikiran tentang sebuah kehidupan dalam huruf kecil, a life, yang tak terdefinisi, namun di antara-masa, di antara-saat di sebuah bidang transcendental, di mana sebuah singularitas terjadi dan bersentuhan dengan Imanensi.
Di buku terakhirnya Pure Immanence … Essays on a life (Imanensi Murni …sebuah esei tentang sebuah kehidupan) dalam sebuah esei Imanensi: sebuah kehidupan, Deleuze menyingkap pemikiran intinya dalam beberapa linea padat ini:

Sebuah kehidupan immanen yang menyertainya dengan kejadian-kejadian dan singularitas-singularitas yang hanya diaktualisasikan pada subjek-subjek dan objek-objek. Kehidupan tanpa definisi ini dengan sendirinya tidak mempunyai saat-saat, walaupun mereka begitu dekat satu sama yang lain, tetapi hanya di antara-masa, di antara-saat; ia tidak hanya terjadi atau terjadi sesudahnya tetapi menawarkan sebuah imensitas sebuah waktu kosong di mana kita bisa melihat kejadian mendatang dan telah terjadi, dalam kemutlakan kesadaran mendadak … Singularitas-singularitas dan kejadian-kejadian yang mengkonstitusi sebuah kehidupan eksis bersamaan dengan kebetulan-kebetulan kehidupan itu yang mengkoresponden dengannya, tetapi mereka tidak dikelompokan, juga tidak didipisahkan dengan cara yang sama. Mereka berkoneksi dengan satu dan lain melalui cara yang sama sekali berbeda dengan bagaimana individu-individu berkoneksi. Bahkan bisa dikatakan sebuah kehidupan singular bisa berdiri sendiri tanpa individualitas apapun, tanpa tambahan natural apapun yang mengindividualisasikannya … Yang tak terdefinisi dengan demikian adalah penanda bukan sebuah indeterminasi empirical tetapi sebuah determinasi oleh yang imanen atau sebuah determinasi transcendental. Hal tak terdefinisi ini merupakan determinasi seseorang itu hanya karena ia adalah determinasi dari yang singular. Yang Satu bukanlah transcenden yang berisi imanensi tetapi imanen yang terbesit di dalam sebuah bidang transcendental (a transcendental field). Satu selalu adalah sebuah index dari multiplisitas: sebuah kejadian, singularitas, sebuah kehidupan … (Immanence: a Life, hal 29-30)

Momen orgiastic yang seperti digambarkan oleh Deleuze dalam kalimat ini “Kehidupan tanpa definisi ini dengan sendirinya tidak mempunyai saat-saat, walaupun mereka begitu dekat satu sama yang lain, tetapi hanya di antara-masa, di antara-saat; ia tidak hanya terjadi atau terjadi sesudahnya tetapi menawarkan sebuah imensitas sebuah waktu kosong di mana kita bisa melihat kejadian mendatang dan yang telah terjadi, dalam kemutlakan kesadaran mendadak” mengisyaratkan sebuah momen kejadian virtual di mana keberadaan di situ (being-there) lewat sebuah bidang transcendental mengakses imanensi melalui keberadaan tanpa ambigu (Univocity of Being) Dengan pernyataan ini, Deleuze menegaskan bahwa setiap individu dengan haecceity nya masing-masing memiliki sebuah potensi (atau virtualitas) yang pada saat-saat tertentu, seperti pada sebuah kejadian atau sebuah determinasi singularitas, akan mengalami momen keberadaan tanpa ambigu itu (univocity of being). Karena sebuah kehidupan imanen, a life, sarat dengan yang virtual, berpotensi, yang senantiasa dalam proses aktualisasi. Namun demikian, Deleuze menandaskan juga bahwa betapapun tak terpisahkannya antara subjek dan objek dari sebuah aktualisasi, bentang imanensi itu sendiri adalah sebuah virtualitas. Ia pada dasarnya netral. Ia seakan sebuah jembatan untuk beranjaknya sebuah posisi supernumerary. “Kejadian dan singularitas kebetulan memberi bentang itu segala virtualitasnya, seperti bentang imanensi memberikan realitas pada kejadian virtual.” Dengan demikian, aktualitas itu hanya bisa terjadi dalam situasi-situasi dan kondisi sebuah keadaan (state of affairs), a life. Ini tentu saja sebuah rujukan pada aksiom Duns Scotus ‘yang menyatakan bahwa individu eksis adalah prinsip utama untuk memahami realitas.’ Imanensi equivalennya keberadaan tanpa ambigu (univocity of being) adalah sebuah penyatuan virtual.

Apakah kejadian dan singularitas itu? Deleuze, seperti juga Badiou, ingin membangun sebuah sistem dari sebuah posisi supernumerary, yakni sebuah posisi transfinite, di mana multiplisitas murni bisa diseberangi tanpa mengandalkan kesadaran ataupun determinasi empiris, yang mereka rasakan masih merupakan hambatan bagi pemikir-pemikir sebelumnya. Untuk itu, matematika berperan penting sebagai perangkat kerja mereka. Karena merasa bahwa teori tipenya Russell dengan hieraki regresi tanpa batas –- n1→ n2→ n3→n4 — hanya menghasilkan sebuah sintesis berurutan yang sebenarnya homogenous, yakni mengembalikan pada denotasi awal, Deleuze mencari sebuah jalan alternatif yang lebih selaras dengan sistem pemikiran multiplisitasnya, yakni melalui sebuah term donasi makna yang transcendental, atau dalam lingo Badiou bilangan intervallic, Ni, dari sebuah fractal heterogeneous.

Formasi serial ini selalu terwujud secara simultan dari dalam paling sedikit dua seri lainnya. Setiap seri unik, yang term-term homogeneousnya dibedakan hanya sesuai dengan jenis atau derajat, selalu membawahi dua seri heterogeneous, yang masing-masing dikonstitusikan oleh term-term jenis atau derajat yang sama, walaupun term-term ini berbeda sifatnya dibanding dengan seri yang lain (mereka tentunya juga berbeda dalam derajat). Formasi serial dengan demikian pada esensinya multi-serial …

Hukum yang melegislasikan dua seri simultan ini adalah bahwa mereka tidak pernah setara. Yang satu menrepresentasi penanda (signifier), yang lain tertanda (signified). Tetapi berkat terminologi kita, kedua term ini memiliki makna yang spesifik. Kita menamakan penanda (signifier), tanda apa saja yang mempresentasikan dalam dirinya sebuah aspek makna (sense); kita menamakan tertanda (signified), sebaliknya, apa yang berfungsi sebagai korelasi pada aspek makna itu. Apa yang tertanda dengan demikian tidak pernah menjadi makna (sense) itu sendiri. Dalam pengertian sederhana, yang tertanda adalah konsep; dalam pengertian yang lebih extensif, yang teranda adalah apa saja yang akan didefinisikan berdasarkan perbedaan yang terbangun dari aspek makna dengannya. Dus, penanda pada dasarnya adalah kejadian sebagai atribut logika yang ideal dalam sebuah keadaan (state of affairs), dan yang tertanda adalah keadaan (state of affairs) berikut kualitas dan relasinya. Penanda juga merupakan keseluruhan proposisi, sejauh mana ia mencakup semua dimensi, denotasi, manifestasi, signifikansi dalam arti sesungguh-sungguhnya. Terakhir, penanda (signifier) adalah satu-satunya dimensi ekspresi, yang sebenarnya memiliki keistimewaan hak untuk tidak relatif dengan sebuah term mandiri, karena makna (sense) yang terungkap tidak eksis di luar pengungkapan; dan yang tertanda, dalam hal ini, adalah sebuah denotasi, manifestasi, atau bahkan signifikansi dalam arti sesungguh-sungguhnya. Dengan kata lain, yang tertanda (signified) adalah proposisi sejauh mana makna (sense), atau apa yang terungkap, berbeda dengannya. (Logic of Sense, hal 37-38)

Penguraian ini merupakan tulang punggung konsep-konsep Deleuze perihal yang sama dan berbeda (same and difference), pertalian dan kesenjangan (conjunction and disjunction) dan juga dari mana beranjak perumusannya tentang sebuah bidang transcendental (transcendental field), sebuah bidang problematis di mana sebuah potongan (coupure) akan memaksakan bermunculnya sebuah singularitas, sebuah penguakan dari atas, yang memungkinkan seorang individu bersentuhan secara virtual dengan imanensi. Tentunya pertanyaan kita berikut adalah bagaimana seorang individu dengan segala keterbatasan inderawi dan kesadarannya bisa menggapai sebuah posisi transcendental itu, yang tidak peduli (indifferent) dan netral. Deleuze, kembali merujuk pada haecceity (properti singularitas individu) Duns Scotus, via virtualitas Bergson, yang menurutnya pra-individu, meracik sebuah konsep transcendental sejati. Ia menolak pendekatan Kant, Husserl dan Sartre, yang baginya masih mempertahankan kesadaran dalam teori transcendental mereka, dan masih sebuah pseudo-netralisasi. Ia menegaskan: “Ia mesti diraih, tidak sesuai dengan kesenjangan (disjunction) kesadaran, namun sesuai dengan divisi dan pertalian (conjunction) dua kausalitas (yakni internal dan eksternal).”

Pertama-tama, singularitas-kejadian koresponden dengan seri heterogeneous yang tersusun dalam sebuah sistem bukan stabil ataupun tak stabil, tetapi lebih mendekati ‘metastabil,’ yang dianugerahi oleh sebuah energi potensial dalam mana perbedaan-perbedaan antar seri didistribusikan. (Energi potensial adalah energi sebuah kejadian murni, sedangkan bentuk-bentuk aktualisasi berkorespondensi dengan realisasi kejadian.) Kedua, singularitas memiliki sebuah proses auto-unifikasi, selalu bergerak dan digeserkan demikian rupa sehingga suatu anasir paradoksikal melintasi seri-seri itu dan membuatnya beresonasi, menyampulkan titik-titik singular yang berkorespondensi ke dalam sebuah titik aleatori dan semua emisi, semua pelemparan dadu, dalam satu lemparan. Ketiga, singularitas-singularitas dan potensial-pontensial mengerubungi permukaan. Semua terjadi di permukaan dalam sebuah kristal yang berkembang hanya di pinggiran-pinggiran. (Logic of Sense, hal 103)

Menarik untuk sejenak meneliti apa yang ditafsirkan oleh Deleuze sebagai permukaan itu. Deleuze menemukan dari Plato dan Nietzsche dua ekstremitas permukaan. Bila manusia guanya Plato tertarik pada bayangan yang terpantul dari cahaya di luar gua, manusia Nietzschean lebih tertarik pada labirin bayangan itu sendiri. Yang pertama mengejar Benar (Good) absolut yang tak tergapai-gapai, yang terakhir mengejar Kehampaan (Nothingness) yang tanpa dasar. Keduanya bagi Deleuze bukan proposisi yang menguntungkan. Yang pertama membuat kita frustasi, yang terakhir membawa kita ke lubang nihilisme tak berdasar. Maka Deleuze menempatkan operator pemikirannya pada sebuah permukaan yang digambarkannya sebagai permukaan tanpa ketinggian dan kerendahan, dan merujuk pada bidang imanensi (an immanent field) sebagai cakrawala. Bagi Deleuze, makna (sense) hanya bisa mempunyai arti sejati bila ia digali dari nonsense. Jalan di antara-antara ini jelas menjadi rujukan keyakinan Deleuze dalam sistemnya. “Terletak secara aksiomatis sebuah afirmasi definisi ketidaksetaraan (inequality, (≠)) untuk dua bilangan natural, dan di kasus-kasus lain, pada sebuah definisi positif sebuah jarak (≠≠) yang memainkan tiga term dalam sebuah relasi afirmatif seri-seri infinitas. Agar kita bisa menghargai sebuah kekuatan logika atas afirmasi jarak-jarak perbedaan positif dalam anasir murni, kita hanya perlu mempertimbangkan dua proposisi berikut: bila a ≠ b tidak memungkinkan, maka a = b’; bila a jauh dari setiap bilangan c, yang jauh dari b, maka a = b’ … karena intensitas dengan sendirinya sudah merupakan sebuah perbedaan, ia merujuk pada satu seri dari perbedaan-perbedaan lain yang diafirmasikan dengan mengafirmasikan diri … semuanya seperti sebuah penerbangan seekor elang. ” (Difference and Repetition, hlm 294)

Kembali ke penguraian tentang singularitas, Deleuze sadar sepenuhnya bahwa organisme tidak berkembang dengan cara yang sama. Setiap organisme tidak hentinya berkontraksi di ruang dalam dan ekspansi ke luar dalam sebuah proses asimilasi dan eksternalisasi. Ia berspekulasi bahwa selaput-selaput (membranes) dalam organisme membawa potensial-potensial dan membangun kembali polaritas. “Mereka menempatkan yang internal dan eksternal dalam sebuah kontak, tanpa mengindahkan jarak. Yang internal dan eksternal, kedalaman dan ketinggian, hanya punya nilai biologis melalui kontak permukaan topologikal ini.”

Karena sistemnya merujuk pada aksiom Duns Scotus yang menyatakan bahwa individu eksis, dus adanya sebuah kehidupan imanen, Deleuze mau tak mau harus memaksimalkan apa yang bisa dinetralisasikan dalam bahasa dan inderawi. Bila dalam inderawi individu, Deleuze menemukan haecceity yang pra-individu, dalam bahasa ia menemukan dari Lewis Caroll kata-kata portmanteau seperti snark, yang merupakan sebuah paduan kata snake dan ark, dan frumious, sebuah paduan kata fuming dan furious. Kata-kata portmanteau ini dalam susunannya yang membangun seri sintesis kesenjangan (disjunctive) ataupun pertalian (conjunctive) merubuhkan permukaan, melepaskan makna sehingga potensi intrinsik bahasa terkuak. Sistemnya dengan demikian memungkinkan aku-diri, sebuah keretakan (fracture) antara bahasa dan inderawi, kesadaran dan keberadaan, untuk melakukan sebuah penguakan dari bawah (internal) melalui intensitas individu dan menyambut penguakan dari atas (external) yang terjadi dalam sebuah Keberulangan Abadi (Eternal Return), dipinjamnya dari Nietzsche, sebuah proses pengulangan secara intracycle dan extracycle di mana analogi yang sama dan beda dinetralisirkan oleh sebuah negasi dalam pengulangan ketiga, menghadirkan yang Benar (Good), dalam sebuah kontak virtual beradaan tanpa ambigu (univocity of being).

Bagi Badiou, penafsiran tentang multiplisitas tidak memungkinkan adanya Keseluruhan, dalam bentuk apa pun. Ia memproposisikan sebagai berikut: Keseluruhan hanya bisa dipositkan seandainya keberadaan bisa memperhitungkan keberadaannya dalam keseluruhan. Namun dalam multiplisitas berada dua kelompok multiple: yang reflexive dan non-reflexive. Yang pertama bisa memperhitungkan keberadaan dalam keseluruhan, sedangkan yang kedua, seperti sebuah pir (buah pear) dalam keranjang, tidak bisa melakukan itu. Multiple non-reflexive, walaupun ia tidak bisa memperhitungkan keberadaannya dalam keseluruhan, mempresentasikan diri dalam keseluruhan. Bila multiple ini mempresentasikan diri dalam keseluruhan, maka mereka bisa ditafsirkan sebagai reflexive, karena bisa diperhitungkan sebagai bagian dari keseluruhan, padahal mereka sebenarnya non-reflexive. Oleh karena itu, multiple non-reflexive sekaligus reflexive dan non-reflexive, tentu saja ini tidak konsisten; inkonsistensi ini memartisikan Keseluruhan menjadi dua. Maka kita mesti mengasumsikan bahwa multiple non-reflexive tak punya anasir, yakni void. Maka Keseluruhan (Whole) tiada. Dengan derivasi pemikiran seperti ini maka sebuah pemikiran termediasi tentang keberadaan multiple bisa dimulai, yakni dari sebuah titik kekosongan, void, di mana identitas sebuah multiple dapat dipertimbangkan dari posisi komposisinya sendiri, sebuah posisi transcendental.

“Sebuah multiple singular hanya bisa dipikirkan sejauh mana kita bisa mendeterminasi komposisinya (yakni semua anasir yang dimiliknya). Multiple yang tidak memiliki anasir dengan demikian didefinisikan sebagai Kosong, Void. Multiple-multiple lainnya hanya bisa dideterminasi secara mediasi, dengan mempertimbangkan sumber anasir-anasirnya. Dengan demikian, kebisaan mereka dipikirkan mengimplikasikan paling tidak satu multiple dideterminasi dalam pikiran sebelum ‘mereka’.” (Logics of Worlds, hal 113)

Karena tiada keseluruhan, dan konsep semesta inkonsisten, maka tiada prosedur yang sama yang bisa dipergunakan untuk indentifikasi dan diferensiasi apapun yang ada. Keberadaan multiple memasuki sebuah komposisi akan multiple yang lain tanpa bisa berlipat kembali pada yang singular (the Other). Semua identifikasi dan relasi multiple adalah lokal. Lokasi ini, digambarkan Badiou sebagai dunia, adalah tempat di mana operasi aksioma multiple dilakukan, di mana sebuah keberadaan dijamin keberadaannya dan menamakan sebuah titik lain dalam tempat itu. Di antara dua titik inilah terletak sebuah pergerakan operasi, dengan tempat itu (atau dunia) sebagai latar.

“Setiap penampilan dengan demikian berarti sebuah pemindahan dunia; setelah itu, dunia itu menregulasikan secara logis apa yang tampil di dalamnya qua keberadaan di situ (being-there)” (Logics of Worlds, hal 116) Di sini, Badiou mengisyaratkan dua prosedur yang berbeda untuk onto-logi (Being) dan onto-logi (Beings). Bila onto-logi (Being) transcendentalnya adalah prinisip minimalitas dalam aksioma penyatuan (axiom of unions), yakni melalui pendempetan bilangan transitif ordinal pada limit ordinal (ω), batas infinitas pertama, melalui sebuah penggabungan, maka transcendental onto-logi (Beings) adalah sebuah pengindeksan intensitas penampilan dan functor transcendental dipergunakan untuk memetakan titik ke titik dalam sebuah topologi. Penampilan, dengan demikian, bisa dimaknakan sebagai berikut:

a. Membedakan dari diri. Keberadaan di situ (being-there) tidak ‘sama’ seperti keberadaan-qua-keberadaan (being-qua-being). Ia tidak sama, karena pemikiran atas keberadaan-qua-keberadaan tidak menyampulkan (envelope) pemikiran atas keberadaan di situ (being-there)

b. Membedakan dari keberadaan-keberadaan (beings) dalam dunia yang sama. Keberadaan di situ (being-there) adalah sebenarnya keberadaan ini (étant) yang (secara ontologik) bukan yang lain; inskripsinya dengan yang lain dalam dunia ini tidak bisa menghilangkan diferensiasi ini. Di satu sisi, identitas yang terbedakan sebuah keberadaan tidak bisa menjelaskan dengan sendirinya penampilan keberadaan ini dalam sebuah dunia. Namun, di sisi lain, identitas sebuah dunia tidak juga bisa menjelaskan dengan sendirinya perihal penampilan keberadaan dibedakan ini.

Kunci untuk pemikiran penampilan, jikalau ia berhubungan dengan suatu keberadaan singular, terletak pada kemampuan untuk mendeterminasi, pada saat bersamaan, perbedaan-diri yang membuat keberadaan di situ (being-there) bukan keberadaan-qua-keberadaan (being-qua-being), dan perbedaan dari yang lain yang membuat keberadaan di situ (being-there), atau hukum dunia dituruti oleh yang lain, supaya tidak menghilangkan keberadaan-qua-keberadaan (being-qua-being).
Bila penampilan adalah sebuah logika, karena ia tak lain adalah sebuah penandaan perbedaan-perbedaan dari dunia ke dunia. (Logics of Worlds, hal 117)

Dengan demikian, Badiou bisa menyatakan bahwa eksistensi tidak ada (existence is not). 1) Apa yang eksis adalah sebuah penampilan keberadaan murni. 2) Bahwa sebuah multiple eksis tak lain adalah sebuah pengindeksan kontingen sebuah multiple dengan transcendental. Maka eksistensi tiada. 3) Namun, kemestian untuk eksis (atau tampil) secara retroaktif menganugerahkan sebuah keberadaan dengan sebuah konsistensi yang berbeda daripada diseminasi multiple itu sendiri. 4) Oleh sebab itu, ketiadaan-keberadaan (non-being) sebuah eksistensi berarti ia lain daripada keberadaan yang memberadakan keberadaan. Ia adalah keberadaan sebuah objek.

Poin ke-empat diteliti secara saksama mengartikan bahwa bila ketiadaan-keberadaan (non-being) eksistensi adalah bilangan kosong yang memungkinkan terwujudnya sebuah keberadaan satu (count-as-one), maka keberadaan (being-in-itself) daripada keberadaan di situ (being-there) yang sudah menampilkan diri tidak merujuk kembali pada ketiadaan-keberadaan (non-being) itu, tetapi pada keberadaan murni multiplisitas itu sendiri. Dengan kata lain, semua objek penampilan mentaati logika hukum penampilan multiple. Dan penjelasan ini sekaligus mengilustrasikan bahwa teori objek Badiou tidak memiliki subjek. Pemaknaan objek dengan demikian hanya bisa dibangun dari sebuah relasi antara titik-titik topologi melalui pengindeksan transcendental yang mengevaluasi derajat intensitas eksistensi dalam sebuah penampilan dan, melalui sebuah functor transcendental, mendefinisikan sebuah proyeksi pada sebuah objek penampilan yang membuat setiap derajat berkoresponden dengan sebuah anasir sejati dalam multiple yang menggarisbawahi objek itu. Functor transcendental dengan demikian menjamin kejelasan keberanjakan sintesis transcendental dalam penampilan kembali ke sintesis sejati dalam keberadaan multiple. “Kejelasan (intelligibility) baru keberadaan-keberadaan ini sesuai dengan objek-objek yang mereka telah menjadi di dalam sebuah dunia mencapai titik apotheosis ketika didemonstrasikan bahwa keberadaan itu sendiri, dalam kondisi tertentu, bisa disintesiskan (disampulkan), dan dengan demikian diberikan sebuah kesatuan yang berlainan dengan yang menghitungkan multiplisitas murni itu sebagai satu. Semua terjadi seakan penampilan dalam sebuah dunia menganugerahi multiplisitas murni – untuk ‘waktu’ yang diperlukan untuk bereksis dalam sebuah dunia – dengan sebuah bentuk homogenitas yang bisa diinskripsikan dalam keberadaannya. Hasil yang bisa didemonstrasikan ini – yang menunjukkan bahwa penampilan memengaruhi keberadaan sebegitu rupa sehingga keberadaan terjadi dalam sebuah dunia – begitu dahsyat sehingga saya menamakannya ‘teorem fundamental logika atomik (fundamental theorem of atomic logic).’ ” (Logics of Worlds, hal 196-197)

Sebuah relasi senantiasa lokal, namun relasi ini, tergantung intensitas eksistensi relasi ini, mengeksposisikannya pada sebuah pengamatan global yang tanpa batas. Sebagai contoh, Badiou mengilustrasikan relasi antara bumi dan matahari mengeksposisikannya pada Proxima Centauri yang menaunginya dan di kejauhan Spica of Virgo mengamati baik Proxima Centauri maupun bumi dan matahari. Dus pernyataan Badiou, kebenaran itu selalu lokal, namun di cakarawala selalu ada Kebenaran Abadi yang menaunginya.
Setiap kejadian, yang muncul dari sebuah titik dalam topologi, mewujudkan penanda satu (count-as-one) dengan bekas-bekas keberadaan-murni (Being), kemudian ia dihantui oleh bayang-bayang kemurnian multiplisitas dalam penampilan. Setiap kejadian dengan demikian mengkontraksi multiplisitas murni dalam sebuah penampilan Dua, yakni sebuah kristalisasi infinitas dalam sebuah potongan (cut), atau sebuah keputusan: ya atau tidak.

“Korelasi antara infinitas dan Dua, penyaringan yang pertama oleh yang terakhir, tidak memerlukan ‘seorang pemutus’ dalam arti psychologi atau anthropologi. ‘Keputusan’ di sini adalah sebuah metafora bagi sebuah karakteristik transcendental: eksistensi (atau relatif kelemahan eksistensi) derajat-derajat intensitas jenis-jenis penampilan ini dihadapkan pada sebuah tribunal alternatif. Kita boleh mengatakan, secara metaforis juga, bahwa sebuah titik dalam sebuah dunia adalah apa yang memungkinkan sebuah eksposisi untuk didistilasi menjadi sebuah pilihan.” (Logics of Worlds, hal 400)

Dalam sebuah situasi di mana tubuh sang subjek yang terperangkap dalam sebuah penampilan dihadapi oleh sebuah pilihan Dua, sang subjek setia bisa mengaktualisasikan sebuah prosedur kebenaran. Yang menolak penawaran yang terwujud dari kejadian ini akan menjadi seorang subjek reaktif (reactive subject), yang lebih memilih hak-hak sejarah lahiriahnya atau kenyamanan tradisi, dan yang mememlintirkan kejadian menjadi sebuah keyakinan tahyul, menjadi seorang subjek tak jelas (obscure subject), keduanya mengakibatkan kejadiaan itu menjadi sebuah malapetaka. Namun, setiap relasi dalam sebuah dunia senantiasa terkait dalam sebuah perputaran dari satu posisi ke posisi lain dalam sebuah interkoneksi segitiga tidak simitris. Jadi sang subjek reaktif atau pun sang subjek tak jelas bisa saja suatu hari menjadi sang subjek setia. Hidup bagi Badiou adalah melawan kecenderungan-kecenderunga

n subjektif yang menolak kejadian. Hidup adalah untuk mengisi secara retroaktif sebuah ek-sistensi, dalam pengertian Heidegger di mana pijakan (ground) yang terkuak menampilan sebuah kebebasan untuk mengisinya dengan nilai-nilai bermakna.

Baik Deleuze maupun Badiou menolak negasi yang merambah kehidupan sejak penampilan para pemikir, yang digambarkan oleh Badiou sebagai pemikir-pemikir relatifis materialisme demokratis. Karena kedua pemikir menemukan bahwa sebuah negasi dalam bilangan irasional adalah penanda perubahan jua, yakni melalui rumus –(–N), ia bisa dikembalikan ke bilangan positif. Dengan demikian, semua bilangan pada dasarnya homogeneous dan alam tidak mengizinkan dirinya didiseminasikan menjadi serpihan. Bila Deleuze menawarkan sebuah kehidupan sarat disiplin pengendalian diri untuk menyingkirkan segala nafsu dari inderawi, bagaikan sebuah hidupan Stoic, dan melalui sebuah determinasi intensif, seorang subjek bisa bersentuhan dengan imanensi dalam sebuah penyatuan univocal, maka Badiou menawarkan sebuah ek-sistensi yang beranjak dari sebuah aksioma kekosongan di mana prosedur kebenaran, yakni dengan mengambil selangkah demi selangkah, dalam sebuah perjuangan tanpa henti, mengisi kembali sebuah keadaan tidak berimbang, metastate, dalam sebuah formalisme subjektif yang merujuk pada ke sebuah Kebenaran Abadi di cakrawala. Baik Deleuze maupun Badiou adalah pemikir-pemikir afirmatif. Mereka menganjurkan pada kita untuk selalu melihat ke belakang dan melacak jejak-jejak yang ditinggalkan sebuah kejadian yang terkubur karena kurang intensitas, bagi Deleuze hanya perlu menyelaraskan jejak-jejak ini pada sebuah bidang imanensi untuk mengaktifkannya menjadi sebuah singularitas, bagi Badiou menunggu saat-saat perubahan untuk menguakkannya menjadi sebuah kejadian, untuk memulaikan sebuah prosedur kebenaran. Kematian bagi keduanya bukanlah sebuah batasan yang mengekang kita pada finitas, karena ia bukan keberadaan yang punya anasir, tetapi merupakan sebuah titik yang memungkinkan pengembalian pada yang Benar (bagi Deleuze), kejadian (bagi Badiou). Penistaan tubuh atau inderawi, ataupun permainan bahasa (linguistic turn) adalah peninggalan dari pemikir-pemikir materialisme demokratik; keduanya merupakan tindakan-tindakan kalau bukan sadistik adalah masokis (definisi Badiou) dan mereka tidak bisa memungkinkan terwujudnya sebuah transcendental sejati. Maxim Badiou perihal ini adalah “kematian Tuhan tidak melepaskan kita pada finitas, tetapi pada keberadaan infinitas yang selalu menaungi situasi-situasi, dan korelasinya pada sebuah infinitas yang bisa dipikirkan.” (Number and Numbers, hal 86)

Deleuze, di akhir Difference and Repetition, menyerukan: kita semua setara! Badiou menyerukan: kita semua abadi. Dua pandangan filsafat, yang pertama dari seorang pemikir empiris transcendental, yang terakhir dari pemikir materialis dialektik. Kedua pemikir bagaikan sebuah kontraksi multiplisitas murni pada penampilan Dua, menghadapkan kita pada dua pilihan hakiki: Deleuze atau Badiou? Deleuze yang tampaknya mistis menawarkan sebuah kehidupan intensif nomadis, penjelajahan di antara-antara kehidupan dengan determinasi intensif atau Badiou yang tampaknya aksiomatis dan klasik inovatif namun merangkul multiplisitas sejati? Yang jelas, penelusuran Satu dan Banyak yang telah mereka wariskan dari Plato telah dimaksimalkan oleh Deleuze dan dilampaui oleh Badiou. Bila Deleuze mengambil aksioma ketidaksetaraan (axiom of inequality) sebagai pijakan filsafatnya, Badiou mengambil aksioma fondasi (axiom of foundation) sebagai titik permulaan. Problema Deleuze adalah ia masih sangat mengharapkan sebuah penyatuan multiplisitas (Multiple One), seperti terlihat dari penjelasan Deleuze perihal Beda dan Sama dan kemungkinan adanya sebuah Keberulangan Abadi (Eternal Return). Badiou menolak kemungkinan ini karena baginya keberadaan murni (Being) dan keberadaan di situ (Being-There) mesti diakses dengan prosedur yang berbeda. Keberadaan murni (Being) hanya bisa diakses melalui teori himpunan, sedangkan keberadaan di situ (Being-there) mesti merujuk pada hukum logika penampilan, dengan demikian hanya bisa diakses melalui teori kategori. Badiou dalam Logics of Worlds membuktikan bahwa baik keberadaan murni (Being) maupun keberadaan di situ (Being-there) bisa diakses dari sebuah posisi transcendental yang netral. Oleh karena itu, ia menyatakan kita hidup dalam dunia-dunia, dan setiap dunia adalah infinite. Badiou juga menyatakan dalam bukunya Briefings on Existence bahwa filsafat sebenarnya sudah dibebaskan (released) dari sains, epistemologi dan berbagai disiplin lainnya, karena matematika sudah mengambil alih tugasnya, tetapi karena matematika adalah sebuah pikiran yang tidak bisa mengrefleksikan keberadaan sendiri, maka filsafat masih diperlukan untuk menjelaskan pikiran yang imanen dalam matematika.

Pemikiran-pemikiran ini menantang kita untuk mengambil langkah berikut. Tetapi penelusuran berikut telah dinaikan pangkat kesukarannya. Seperti Plato yang memasang palang di atas gerbang Akademinya, Badiou sekarang kembali memasang palang itu: palang itu berbunyi, Yang Tidak Berbekal Geometri Jangan Masuk.

Studi perbandingan pemikiran antara Deleuze dan Badiou ini di beberapa bagian telah saya revisi dari materi yang telah saya presentasikan dalam sebuah forum diskusi filsafat.

Jakarta, 8 Agustus 2009