Tag Archives: multiplisitas. demokrasi. identitas. richard oh

Menuju Ke Sebuah Pemahaman Tentang Multiplisitas

Menuju ke sebuah masyarakat baru, kita perlu telisik ulang pengertian tentang pluralisme yang sering dikumandangkan oleh para pundit politik dan pemikir idealis. Kita paham terkandung dalam teriak-teriakan mereka adalah sebuah niat yang baik, yaitu sebuah masyarakat kemajemukan yang demokratis dgn toleransi tinggi terhadap perbedaan dan keadilan untuk semua. Tetapi, begitu seringnya istilah-istilah seperti demokrasi, pluralisme, multikulturalisme, toleransi, disebut-sebut sehingga pernyataan seperti itu menjadi akronim-akronim pakam yang dianggap pemaknaannya dipahami oleh semua.

Akronim adalah sebuah kata yang terdiri dari huruf-huruf awal kata-kata yang berbeda. Ketika sebuah keyakinan tentang demokrasisasi sebuah masyarakat kemajemukan dikepingkan menjadi sebuah akronim, kita perlu mempertanyakannya kembali, sehingga ia tidak bertengger abstrak menjadi sebuah makna usang yang dipasing-pasing bagaikan sebuah objek konkret dalam genggaman. Apa yang bisa kita pahami dari akronim demokrasi? Ini kira-kira uraian yang kita peroleh: Demokrasi=Pluralisme=Multikulturisme: Toleransi + Keadilan untuk Semua. Setiap akronim menghasilkan sebuah akronim baru yang tak kalah abstraknya dari akronim sebelumnya. Dari pengalaman sehari-hari kita tahu kata Mobil memang secara kategorikal menjelaskan sebuah objek kendaraan, tetapi kita juga tahu kata benda ini hanya merupakan sebuah rujukan umum sebuah kategori objek; ia tidak menjelaskan secara tuntas rakitannya: tahunnya, spesifikasinya dan perakitnya. Seperti itulah yang kita peroleh dari kata demokrasi dan yang paling parah adalah ketika kita sadar bahwa demokrasi, pluralisme, multikulturisme, toleransi dan keadilan tidak bisa dirujukkan pada sebuah objek konkret, tidak seperti mobil yang bisa dirujukkan pada sebuah kendaraan beroda mesin dsbnya.

Penguraian di atas menyadarkan kita bahwa tiada akronim yang sanggup merangkum begitu banyak varian perbedaan ke dalam satu makna: tiada set untuk semua set, namun subset selalu jauh lebih besar daripada set. Bahkan seandainya akronim demokrasi kita definisikan secara saksama, kita tidak akan mencapai sebuah kesepakatan yang berarti. Sebagai contoh, bila kita telusuri pluralisme, sebagai pecahan makna demokrasi, pertanyaan pertama adalah pluralisme berdasarkan apa? Berdasarkan sebuah nasionalisme? Ini kemudian merujuk pada nasionalisme seperti apa? Yang kemudian menghantar kita ke pertanyaan tentang identitas bangsa, kebudayaan, adat, komunitas, keluarga dan individu.

Yang menarik dari penelusuran di atas adalah dari ruas penjelajahan kemajemukan kita akhirnya menyempit terus ke individu. Di sini, saya kira, apotheosis penyelidikan kita dan seharusnya titik keberangkatan kita. Kita perlu menjelaskan sebenarnya apa yang dimaksud sebagai seorang individu. Individu yang ingin saya jelaskan, bukanlah individu yang kalau kita telusuri akan mengembalikan kita pada lingkaran yang sama: yakni individu, keluarga, komunitas, adat, kebudayaan, identitas bangsa, kemajemukan, demokrasi, etc.

Kita perlu memahami bahwa setiap individu dengan sendirinya bukan sebuah entitas utuh, tetapi ia terbentuk dari multiplisitas diri yang berubah-rubah dari saat ke saat. Penyelidikan neurologi terbaru oleh Antonio Damasio membuktikan bahwa diri manusia berubah setiap saat, pengetahuan kita pada diri tercipta dari sebuah kerja sama antara operator daya ingat inti dan daya ingat jangka panjang yang menyimpan data-data imaji berikut perasaan-perasaan yang terekam sebelumnya yang akan teraktifkan secara asosiatif ketika kita berhadapan pada sebuah objek baru . Daya ingat jangka panjang inilah yang memungkinkan kesadaran kita pada sebuah identitas diri yang sebenarnya senantiasa berubah terus.

Identitas dalam pengertian eksternal juga bukan sebuah singularitas mutlak. Walaupun A secara bangunan genetika tidak ada duanya di dunia, dan totalitas kualifikasi dirinya membedakannya dengan individu-individu lain, seperti A bermukim di Jalan Samudera no 44, berumur 25 tahun, seorang turunan suku Madura, A punya kualitas diri yang juga menyamakannya dengan individu-individu lain, seperti A gemar bermain gitar, membaca buku-buku detektif, bernyanyi di kamar mandi, suka makan makanan pedas, dsb.

Seperti diuraikan di atas, jelas sebagai individu pun kita sebenarnya merupakan sebuah totalitas yang berkontinuitas dari berbagai diri dan kualitas yang menjadikan kita unik sekaligus menyamakan kita dengan yang lain.

Sebagai langkah berikut supaya kita tidak terperangkap dalam sebuah multiplisitas yang memosisikan kita dalam sebuah keterperangkapan kultural, keyakinan dan kemajemukan jemu, kita sebagai individu-individu unik harus bisa berpikir secara paradoksal, yaitu berpikir dengan segala keunikan diri. Berpikir telanjang tanpa embel-embel bawaan lahiriah seperti budaya, keyakinan dan bangsa. Proses pengelupasan diri inilah yang membuat kita bisa menghadapi setiap perbedaan tanpa bias, menghadapi setiap tantangan perbedaan bagaikan sebuah phenomena yang perlu dicermati, dipelajari dan ditekuni hingga sebuah pemahaman baru bisa dipetik dari pengalaman itu. Setiap konflik yang terjadi selalu berkonotasi sebuah pemisahan berjarak yang berdasarkan sebuah keyakinan ideologi yang berbeda atau latar sosial dan kebudayaan yang berbeda, maka perbedaan sesungguhnya tidak bisa dipertemukan antara individu ke individu ataupun kelompok ke kelompok, yang bisa dilakukan adalah sebuah usaha untuk menggeserkan diri untuk saling merapat, seperti mengindekskan dua kategori produk berlainan dalam satu rak atau mencoba melampaui sebuah kebuntuan jalan dengan memosisikan dua tangga di kedua sisi tembok yang berseberangan. Yang dibutuhkan hanya kekayaan imajinasi dan keinginan kita untuk berpikir secara paradoksal.

Berpikir secara paradoksal berarti kita harus berani menelisik ulang dan membongkar pemahaman dan keyakinan yang selama ini dianggap sahih oleh banyak orang, bahkan oleh diri kita sendiri. Berpikir secara paradoksal berarti berpikir dari sebuah ruang kosong yang terpijak, namun dengan sebuah hasrat tak terbayarkan oleh kepuasaan untuk mengisi kekosongan itu terus menerus. Totalitas sebuah pemahaman bukanlah tujuan akhir, tetapi pengejaran pada serpihan-serpihan makna yang timbul saat kita berjumpa dengan yang berbeda, yang kita tidak pahami, dan yang mengguncang seluruh pendirian kita. Titik-titik fokal inilah titik keberangkatan kita untuk belajar dan menyimpulkan untuk kemudian meningkatkan kita ke pemahaman yang lebih tinggi dari setiap permasalahan.

Dengan demikian pemahaman multiplisitas bukanlah 1+1=2 tetapi 1+1=1. Dua sebagai produk dari 1+1= 2 adalah sebuah produk perbedaan yang merujuk pada analogi identitas satu dengan satu yang lain. Sedangkan produk satu dari 1+1= 1 adalah sebuah hasil yang mengabaikan sebuah konsep atau identitas yang pakam: ia merupakan sebuah Beda yang hakiki. Pemahaman multiplisitas seperti ini menghantar kita pada sebuah kesimpulan bahwa “only that which is alike differs; and only differences are alike.(Lévi-Strauss).”

2009