To Believe or Not to Believe

The God Delusion
By Richard Dawkins
Bantam Press
406 pages

Richard Dawkins makes no bones about his intentions in his ninth book, The God Delusion: he wants to convert whomever that reads it into an atheist. He believes that it’s high time atheists of the world united and came out in the open. Being an evolutionist biologist, he would have no truck with scientists, intellectuals and atheists who seem to bend backward when dealing with the delicate matter of faith and God. In fact, according to him, since the twentieth century, the domination of religious organisations is such that it’s often considered politically and ethically incorrect to talk openly about one’s creed, let alone question God’s existence. The God Delusion is written with the forceful intention of breaking down whatever misleading beliefs we might still have about God. He is a man with a mission. And in his arguments against theism, he culls from almost all conceivable scientific disciplines to make his case.

Every conceivable angle from which he might be attacked he covers with convincing showcases of studies. He even has an answer to his own rather fundamentalist approach in preaching atheism. He says that the difference between him and the fundamentalist is that he would say New Zealand is located in the Southern Hemisphere whereas the fundamentalist, when cornered for clear and unequivocal evidence, will ultimately point to the Almighty. His other reason is that he feels impelled to rescue men/women blinkered from seeing what they might be missing out from the rich world we live in. In essence, everything he brings up in his arguments has evidence, whereas the theologians and believers simply turn a blind eye to the evidence when it comes to their beliefs. This is to Dawkins simply unacceptable. Why should one invest so much faith in the One who is always elusively absent? He goes to great lengths to explain why religion as a meme, the variant of a cultural inheritance, persists throughout the ages. His conclusion is that in human’s brain there’s always a gap that needs to be filled in with God.

Everything seems perfectly explained until you realize that Dawkins has pulled a great stunt by dazzling our intellect with myriad reasons but easily gloss over the simple truths about humanity. He eloquently explains everything, even the irreducible complexity of the Venus Flower Basket (Euplectella), as not by chance or design, but fails to understand that differences in faith and cultures and ways of lives are just as necessarily enriching and mutually beneficial for humanity. Maybe science or Darwin’s natural selection might not be just the knowledge to understand this. I suppose highly qualified anthropologists will appreciate more the mysterious ways in which certain groups of natives in Borneo carry on their lives with their exotic rituals and beliefs.

Maybe these anthropologists are there not with biased mindsets to convert the natives’ ways of lives or their beliefs, but rather they are there to observe and understand why they are so different from civilized people. Their understanding, usually their sympathy, will go a long way to enhance our understanding of our past and sometimes might even shed light on how we might improve our lives in the future.

This lack of insight into human nature confirms Michel Foucault’s worst fear about the progress of humanity. In his lectures, compiled in a book called The Hermeneutics of the Subject, Foucault sets out to show how knowledge since the enlightenment, at the Cartesian Moment, has split from spirituality. Our relentless pursuit for more knowledge has ultimately produced more knowledge. But we slowly leave behind what Foucault calls our gnothi seauton, our knowledge about ourselves.

He shows as an example how a knowledgeable doctor with a flu will know what medicine to take to cure his flu, but this simply says that the doctor has the knowledge to get rid of his flu. His being remains the same. This is because knowledge cannot transform our being. To do that we need to have the techne of the subject, that is a set of exercises or steps. Spirituality cannot access truth immediately; only through an ordeal of experience the subject can achieve this end. When the subject reaches this ultimately, his or her being will be totally transformed. In other words, knowledge without spirituality will in the end be no more than just a set of ideas.

Religions will no doubt have a harder time in the years ahead. More evidences are already being dug out to disprove the validity of the Bible. It is a given fact. But to write a book with the intention of dismissing other people’s religions and heave blame on them as being the causes of whatever that is bad that is happening today, I seriously think that is not in the best interest of humanity as well. The fact that some of the best works of Michaelangelo, Dante, Milton, and Bach remain with us today says a lot about man’s spiritual versatility and ingenuity. One can hardly blame these artists for their divine inspirations!

Alain Badiou, the French philosopher, sums it up nicely when he says, The One is in the Two, Unity is in the ordeal of the division. I think Badiou wants us to know that one is inseparable from the other. Our sympathy and understanding of the differences of the others are what truly connects us as a human species.

7 thoughts on “To Believe or Not to Believe

  1. Sumarji

    Maaf, karena tidak fasih menulis dalam bahasa Inggris, maka saya menulis dalam Indonesia.
    Kebetulan, saya membaca buku yang diulas Richard Oh di atas, tapi saya punya kesan yang berbeda sama sekali. Dawkins memang menulis dengan sikap “sinis” dan “a man with mission” seperti ditulis Oh. Tapi, kalau kaum theis bahkan berperang untuk melakukan misinya seperti kita tahu dari sejarah Islam, Katolik, Hindu dlsb, kenapa kaum atheis tidak boleh punya misi? Apalagi “perangnya” cuma tulisan, hingga tak ada yang terbunuh. (Ini pertanyaan nggak terlalu penting, tapi sekadar untuk mencari “keadilan” dalam berpendapat.)
    Jadi, kalau kita bersikap cukup kritis saat membaca buku itu, tentu kita harus bisa memisahkan “misi” penulis, dan esensi yang ditulisnya. Menurut saya, buku itu cukup membuat kaum theis untuk berfikir ulang atau bersikap kritis terhadap kepercayaan atau agama yang dianutnya. Dawkins membeberkan dan mengajukan fakta dan data. Kalau kita mau membantahnya, maka kita harus membuktikan bahwa fakta dan datanya salah, atau kita mengajukan fakta dan data tandingan yang sama sahihnya, hingga fakta dan data yang diajukan Dawkins berkurang nilah kesahihannya. Kalau epistemologi (atau sederhananya metode) yang diajukan Dawkins kita anggap salah, kita harus menunjukkan kesalahannya. Rasanya ini hukum dasar sederhana ilmu di manapun, bahkan mungkin bisa dianggap sebagai hukum besi. Tentu hal ini harus dilakukan, kalau kita juga mau dianggap ilmiah, dan bukan asal bantah, karena Dawkins sangat serius dalam sikap ilmiahnya. Contoh: berbusa-busa Dawkins menguraikan bahwa moral itu ada dalam tubuh manusia dan dia berevolusi juga. Ini tentu harus dibuktikan kebalikannya: bahwa moral itu datang dari Tuhan dan ada di jiwa.
    Richard Oh tidak melakukan hal yang sangat sederhana itu, tapi malah memihak pada “kemisteriusan” kehidupan suku primitif Kalimantan (betapa romantis…). Dia juga mencampuradukkan spiritualitas dengan agama. Dia tidak sadar bahwa dalam kasus antropolog dan masyarakat Kalimantan itu pendekatan antropologinya sudah zaman kolonial: sebutan “civilized people vs uncivilized”, adalah cerminannya.
    Ini bukan jawaban dan bantahan terhadap Dawkins. Begitu juga kutipan Foucault (tokoh yang sebenarnya mengkritik habis “humanisme”) dan Badiou yang salah konteks. Kebetulan dua tokoh pemikir Prancis ini atheis juga.
    Kalau Richard Oh terganggu dengan sikap sinis Dawkins, mungkin ada baiknya dia membaca buku filsuf Daniel C Dennett: “Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomena”. Celakanya Dawkins maupun Dennett sama-sama penganut teori evolusi. Jadi kalau ingin memahami teori yang sekarang dianggap paling berpengaruh (ingat sudah ada evolution sociology, atau evolution economy), mungkin baca saja dari embahnya teori ini: The Origin of Species karya Darwin, yang bisa diunduh dengan gratis dari banyak website, atau baca buku “What Evolution Is”, karya Ernst Mayr (2001).

  2. Richard Oh Post author

    Sumarji yang baik, terima kasih telah memberi komentar tentang tulisan saya, yang sebenarnya merupakan sebuah ulasan terbatas 700 kata di Jakarta Java Kini. Saya kira dalam resensi yang terbatas itu tidak mungkin bisa ditafsir sebagai sebuah tafsiran menyeluruh untuk sebuah buku yang memang ditulis secara komprehensif oleh seorang Don dari Oxford. Tapi sekadar menanggapi komentar anda yang sangat menarik, saya ingin juga menjelaskan beberapa butir persoalan dari buku itu yang menurut saya sejenis fundamentalisme berkedok perlawanan pada agama. Memang benar Dawkins tidak memukuli orang, tetapi jelas-jelas pendekatan bukunya seperti khotbah untuk mendiskredit theisme. Seandainya premiss utamanya atau ‘misi’nya adalah untuk melawan hegemoni fundementalisme atau theisme, saya kira sebagai seorang ilmiahwan kelas wahid seperti dia, dia bisa mengambil pendekatan yang lebih berjarak, sehingga tak perlu ada kesan ‘defensiveness,’ biar saja dunia yang memang sudah sekuler ini menilai secara objektif. Anda menyebut Darwin, perlu kita catat bahwa Darwin pun sikapnya jauh lebih objective dan tidak deterministik seperti Dawkins. Begitu pula Einstein dalam hal ini. Itu keberatan utama saya. Pendekatan dia seperti juga pendekatan yang dilakukan oleh Christopher Hitchens dalam bukunya God is Not Great. Bedanya, seperti anda katakan, buku Dawkins jauh lebih berbobot dalam riset dan argumentasinya. Saya tidak mencoba memberi kesan ‘kemisteriusan’ hidup ataupun percaya mistisisme, tapi saya melihat bahwa urusan spiritualisme adalah sebuah pilihan yang sangat pribadi. Kierkegaard dalam hal ini paling benar, bahwa kepercayaan (faith) adalah sebuah lompatan. Yang menjadikan kepercayaan jadi kacau adalah para mediator Tuhan. Istilah  ‘Turn the stone and you’ll find Me.’ Singkirkan Citadel maka Engkau akan menemukan Saya, memperkuatkan keyakinan yang dimaksud Kierkegaard. Menghasut ataupun mencoba memaksa sebuah pemikiran pada orang lain soal agama, bagi saya tidak beda jauh prakteknya seperti yang diperlakukan oleh para fundamentalis. Jadi di sini terkesan sekali bahwa Dawkins dengan segudang ilmunya bukanlah orang bijak. Ada sebuah buku yang mungkin asyik untuk dibaca, yaitu Proust was a Neuroscientist. Di buku ini dipaparkan betapa lambannya ilmiahwan menemukan metode penelitian mereka padahal para seniman jauh sebelumnya sudah menemukan berbagai metode untuk menjelaskan metode daya ingat (Proust), sumber musik (Igor Stravinsky), proses indra penglihatan (Cézanne), substansi perasaan (Walt Whitman). Buku ini membuktikan bahwa dunia ilmiah senantiasa berpikir dalam satu jalur, seperti memisahkan diri dari segala bidang, sedangkan seni mencoba memahami segala bidang untuk menampilkan sebuah kebenaran. Keterbatasan ini terlihat sekali dalam pengulasan Dawkins. Ada kesan bukunya seakan bisa memberi semua jawaban melalui ilmu pengetahuan. Ini merupakan keberatan saya juga. Saya sama sekali tidak keberatan dengan ‘misi’ para atheis, tapi saya keberatan dengan visi berkacamata kuda ini. Kemudian soal alain badiou. Filsuf ini boleh anda tafsirkan sebagai seorang atheis, tapi bagi saya dia seorang pemikir yang jauh lebih bijak daripada Dawkins. 4 prosedur kebenarannya ingin mengembalikan filsafat ke jalur yang tidak dikalutkan oleh transcendensi atau pun metafisika yang sering menjadi debat kusir. Ia mempergunakan ilmu himpunan untuk menyelesaikan banyak persoalan ontologisasi. Dia bahkan membahas tentang santa paulus untuk memperkuat teorinya tentang universalisme. Saya mengutip kata2nya dari bukunya The Century. Bahwa satu berada dalam dua, kebersatuan berada dalam pergelutan perbedaan. Ini juga sering dibahas oleh slavoj zizek, seperti dalam bukunya The Indivisible Remainder, bahwa kebajikan ditemukan juga dalam kesemuan. Ini menurut saya yang memisahkan seorang pemikir berkelas dari seorang ilmuan berjalur tunggal seperti Dawkins.

  3. Sumarji

    Penjelasan anda terakhir ini dengan segala macam kutipan itu sekali lagi lebih menilai sikap Dawkins bukan isi tulisannya. Ini keberatan utama saya. Orang boleh bersikap fundamentalis, tapi apa yang ditulisnya (apalagi yang dikemukakan adalah data dan fakta) betul atau tidak. Itu persoalannya.

  4. Richard Oh Post author

    Di sini mungkin letak perbedaan kita dalam membaca Dawkins. Ada kesannya anda membaca dia seperti sebuah text mati, semacam kitab yang tak boleh dikutakatik, sementara saya mendeteksi dalam text itu, baca bagian-bagian di mana Dawkins menyerang para evolutionis terkemuka sebagai ilmuwan tak bernyali, tidak berani ‘engage’ dengan pihak theis. Lihat juga di youtube, di mana dalam pembukaan sebuah seminar dia mengutip kata-kata seorang editor jurnal sains, “Kepada semua yang tidak setuju dengan kebenaran sains, mereka boleh ‘go fuck themselves.’ Bagaimana menurut anda seharusnya kita tanggapi sikap seperti ini? Tidakkah sikap ini mengingatkan kita pada para pengkotbah atau lebih mengerikan lagi seorang diktator? Kalau dia yakin dengan karyanya, saya kira dia tidak perlu bersikap defensif seperti ini. Sudah jelas-jelas dunia ilmiah adalah dunia pengetahuan di mana kebenaran sains bisa diuji. Namun tahu gak anda bahwa sampai hari ini, teori Superstring masih belum juga bisa bersepakat berapa dimensi ruang — enam atau 12 atau lebih — yang ada di semesta kita? Inti dari semua penimbaan ilmu pengetahuan adalah keterbukaan pada kemungkinan-kemungkinan perkembangan ilmu. Anda yang membaca Dawkins dengan seksama juga tahu bahwa hingga hari ini belum juga ada penjelasan yang komprehensif untuk mengungkapkan bagaiman terbentuknya gelas mata. Menuduh saya sekadar menanggapi sikap Dawkins tetapi bukan apa yang dia tulis, saya kira itu lebih menjelaskan kemandegan anda pada sebuah text daripada menjadikannya sebagai sebuah acuan pemikiran.

  5. Sumarji

    Anda betul bahwa ilmu bersifat terbuka dan bisa diuji. Nah, ini masalahnya. Mari kita uji uraian Dawkins itu, bukan khotbah dan segala macam sikap sinisnya. Saya sudah memberi contoh uraiannya tentang moral. Mari diuji. Jadi, kalau sikap saya seperti ini, apakah saya menganggap teks itu teks mati?

  6. Richard Oh Post author

    Saya kira sebelum percakapan kita menjadi kisruh perlu diselaraskan beberapa hal. Pertama, saya tidak keberatan bahwa uraian anda tentang moral dari Dawkins itu: itu juga bukan hal yang baru. Sejak Nietzsche menulis Genealogy of Morals itu sudah dipaparkan bagaimana moralitas itu tercipta, yakni sejak evolusi mahluk air menjadi mahluk bipedal darat. Ketika mahluk bipedal berpijak tanah dan ketidakseimbangannya di darat membuat dirinya menjadi introspektif, dus terciptalah nurani yang kemudian dikooptasi oleh agama menjadi moralitas. Itu semuanya saya setuju. Dan saya mengutip Foucault untuk menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan hanya bisa menambah ilmu pengetahuan, tetapi tidak membantu pendalaman spiritualitas kita. Dalam hal ini kepercayaan dan spiritualitas sangat berkaitan. Dan saya kutip ini sekadar menjelaskan bahwa sikap Dawkins yang menyerang bahkan koleganya para evolutionis itu, menunjukkan keangkuhan seorang berpredikat pengajar dan ilmuwan yang benar2 tidak di posisinya melakukan itu. Justru sikapnya itu yang perlu kita kupas. Fakta2 yang ditampilkan dia, bukan fakta2 baru. Sebagian besar dia apropriasi dari mahagurunya Darwin, yang bagi saya dan kebanyakan orang akan dibaca 200 tahun lagi, karena selain berilmu tapi juga bijak. Foucault memang sangat radikal dalam pengupasan dia tentang kekisruhan humanisme, salah satu yang dia serang justru sikap manusia seperti Dawkins itu. Baca bukunya Hermeneutics of The Subject. Dan saya juga mengutip dari The Elegant Universe dan Proust is a Neuroscientist untuk menjelaskan kepada anda dua hal: kemajuan ilmu pengetahuan di abad 21 ini pun belum mampu menciptakan penghancur partikel terkecil hingga saat ini. Sampai hari ini masih merupakan rekaan bahwa ada kemungkinan setelah dihancurkan partikel terkecil itu, hanya ada gelombang. Itu masih rekaan. Kemudian saya kutip dari Proust is a Neuroscientist utk menjelaskan bahwa ada gejala kacamata kuda di dunia sains, seperti contoh2 di mana seniman sering mendahului mereka dalam menemukan metode2 yang jauh lebih humanis dalam pendekatan pada ilmu. Komentar-komentar anda sejak percakapan ini, belum bergeser dari posisi yang sama, yang bagi saya sama sekali tidak kritis, malah ada kesan seakan rujukkan Dawkins pada moralitas itu sebagai pegangan yang tak tergoyahkan. Mari kita bahas soal moralitas. Apa yang bisa diuji tentang moralitas, selain apa yang saya bicarakan di atas dari Nietzsche? Moralitas bergeser juga dari abad ke abad, dari negara ke negara, peradaban ke peradaban. Nah kalau kita tidak setuju bahwa para theis mengkooptasikan nurani menjadi moralitas, saya sangat setuju. Saya juga setuju bahwa agama membuat kisruh spiritualitas semua umat manusia. Karena seperti saya pernah bahas Kierkegaard yang mengatakan, Singkirkan batu itu dan kamu akan menemukan Aku. Batu di sini adalah citadel atau segala bentuk rumah pemujaan. Memang bagi yang percaya pada Tuhan pada akhirnya hanya perlum bersujud di satu sudut ruangan dan selesai semua. Para penengah itu yang selalu menjadikan masalah. Tetapi apakah semua ini membuat kita berhak berkotbah tentang supremasi ilmu atas mereka yang percaya pada Tuhan? Contoh2 yang saya berikan di atas jelas2 menunjukkan bagi seorang yang senantiasa ingin menimba ilmu selalu harus dalam posisi suspensi, suspensi karena ia tidak mengambil semacam kesimpulan absolut, seperti yang dilakukan oleh Dawkins. Orang super pintar seperti Darwin dan Einstein jauh lebih bijak dalam mengambil posisi. Dan tahu gak bahwa banyak hal yang diyakini oleh Darwin dan Einstein hari ini sudah terbukti salah? Di sini letak persoalan. Dan karena ini letak persoalannya, bukan lagi fakta2 yang perlu kita tafsir ulang, tetapi sikap dari penafsiran fakta2 itu pun perlu dibahas, sehingga sebagai seorang yang ingin belajar terus bisa membaca lebih kritis, tidak terhasut hanya oleh fakta2 yang tampilkan. Apalagi fakta2 yang ditampilkan itu, bukanlah fakta2 baru, tetapi kompilasi dari fakta2 lama untuk menampilkan semacam sophistri untuk memenang satu argumentasi. Dan paling membuat jengkel adalah ketika seorang seperti Dawkins yang saya baca sejak awal karirnya memutuskan untuk menulis buku seperti God Delusion. Ini mengecewakan karena mengambil posisi seorang yang paham evolusi, dia tidak punya wawasan untuk meliha bahwa soal kepercayaan adalah persoalan yang sangat pribadi. Mencela organisasi agama itu sah, tetapi menghasut dan menghujat orang-orang yang punya kepercayaan, itu adalah puncak keangkuhan yang paling tidak mendasar.Malah memalukan bagi saya kalau itu sampai keluar dari mulut seorang terpelajar. Semua penguraian saya bukan cerminan seorang theis atau nontheis, tetapi dari sudut pandang seorang yang membaca berbagai buku supaya tidak menjadi ‘tyrant’ dalam pengetahuan, tetapi menjadi lebih bijak, tidak berorientasi badak dalam pemahaman, tetapi lebih luwes, maka saya mengutip ucapan dari Alain Badiou. Maka saudara sumarji perlu perhatikan itu sebelum menjadi budak pemikiran orang tanpa bisa berpikir sendiri. Sejauh ini argumen anda masih seputar2 hal yang sama. Di bawah pengaruh seorang pengotbha seperti Dawkins, bisa saja menyalahkan moralitas itu sebagai penyesat agama tetapi terbukti dia menggantikannya menjadi Master dari moralitas baru dan anda hambanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *